GHOST LAWYER - THE SERIES

GAZALI
Chapter #8

Vol I / BAB 8 - Kebenaran Selalu Meninggalkan Jejak

Setiap orang meninggalkan jejak. Pertanyaannya bukan apakah jejak itu ada, melainkan apakah ada yang cukup sabar untuk menemukannya.

Raja membuka map Kasus H.S. Map biru yang tadi malam masih kosong, sekarang mulai berisi. Print berita, fotokopi KTP Harun Santoso, catatan tangan Raja sendiri.

Di halaman pertama, dia tulis dengan spidol hitam. Huruf balok. Tegas.

Jangan percaya siapa pun. Percaya hanya pada fakta.

Nadia membaca dari samping. Dia duduk di kursi klien, kaki tidak menyentuh lantai. "Kau kedengaran seperti hakim."

Raja tidak menanggapi. Dia menarik napas. Udara pagi masuk lewat jendela kantor yang setengah terbuka. Bau asap knalpot dan gorengan dari depan gang. Bau normal. Dia butuh normal.

 

Papan tulis kecil itu hadiah dari klien yang kalah tahun lalu. Tidak bisa bayar honor, bayarnya pakai papan tulis bekas. Raja bersihkan, pasang di dinding samping meja.

Sekarang papan itu penuh.

Dia menulis dengan spidol merah. Membuat garis horizontal. Di atasnya, dia tandai tanggal.

14 MARET 2026 — HARUN SANTOSO DITEMUKAN MENINGGAL. GANTUNG DIRI. KASUS DITUTUP.

Di bawahnya, dia buat cabang.

POLISI: BUNUH DIRI.

BARANG BUKTI: TALI, KURSI JATUH, TIDAK ADA SURAT.

SAKSI: PEMILIK KONTRAKAN. TEMUKAN JENAZAH.

Raja mundur selangkah. Menatap tulisannya. Lalu tambah lagi di sisi kanan papan.

FAKTA LAIN:

FLASHDISK DISEMBUNYIKAN DI LUAR TKP.

DOMPET DITEMUKAN DI GANG, JAUH DARI KONTRAKAN.

ALMARHUM SEDANG KUMPULKAN DOKUMEN PROYEK.

ALMARHUM BUAT JANJI UNTUK HARI SETELAH KEMATIAN — BELUM CEK.

Spidolnya berhenti.

Nadia berdiri di belakang Raja. "Kau seperti sedang menyusun teka-teki."

Raja mengangguk tanpa menoleh. "Semua kasus adalah teka-teki." Dia menunjuk papan. "Kalau satu keping dipaksa masuk ke tempat yang salah, seluruh gambar akan terlihat benar padahal sebenarnya salah."

Dia lingkari kata BUNUH DIRI dengan spidol merah. Lalu kasih tanda tanya besar di sebelahnya.

Harun berdiri di dekat pintu. Sejak tadi diam. Menunduk. Bekas lebam di lehernya kelihatan hitam di bawah lampu neon.

Raja meliriknya. "Kita mulai dari yang paling dekat dengan Bapak. Keluarga."

Harun mengangkat wajah. Matanya ragu. Takut.

 

Rumah itu ada di Jalan Menteng VII, sesuai KTP. Gang sempit, cuma muat satu motor. Cat hijau sudah pudar. Pagar besi pendek, berkarat. Di teras ada pot bunga kosong.

Raja mengetuk pintu. Tiga kali. Pelan.

Yang buka seorang perempuan. Umur lima puluhan akhir. Rambut disanggul sederhana. Mata sembab, tapi tidak merah. Seperti sudah terlalu sering menangis sampai air matanya habis.

Raja membungkuk sedikit. "Selamat siang, Bu. Maaf ganggu. Saya Raja Siahaan. Pengacara." Dia mengeluarkan kartu nama yang sudah lusuh. "Saya sedang meninjau beberapa kasus lama untuk keperluan penelitian. Boleh saya bicara sebentar soal Bapak Harun?"

Perempuan itu, Bu Lestari, menatap kartu nama. Lalu menatap wajah Raja. Lama.

"Penelitian apa?"

"Yayasan bantuan hukum, Bu. Kami mendata kasus-kasus yang ditutup cepat. Untuk bahan advokasi." Bohong lagi. Raja benci bohong. Tapi dia butuh masuk.

Bu Lestari ragu. Lalu mengangguk. Membuka pintu lebih lebar. "Silakan masuk, Pak."

Ruang tamu kecil. Sofa kain bunga. Meja kayu. Di dinding, foto keluarga. Harun lebih muda, rambut masih hitam, tersenyum di samping Bu Lestari dan seorang gadis remaja. Di atas foto, ada pita hitam.

Harun ikut masuk. Berdiri di sudut ruangan, dekat lemari. Dia tidak melangkah lebih jauh. Tangannya terkepal. Matanya menatap foto itu. Tidak berkedip.

Raja duduk. Nadia duduk di kursi rotan kosong. Bu Lestari menuang teh. Tangannya gemetar sedikit.

"Maaf, Bu," kata Raja hati-hati. "Saya tahu ini berat. Saya cuma mau tanya beberapa hal. Untuk data."

Bu Lestari mengangguk. "Tanya saja, Pak. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan."

Raja mengeluarkan buku catatan. "Ibu tinggal di sini dengan Bapak Harun sampai..."

"Sampai Bapak pergi," potong Bu Lestari. "Tiga bulan lalu."

Kalimatnya datar. Tapi Raja bisa dengar perih di baliknya.

"Saya turut berduka, Bu."

Bu Lestari tersenyum pahit. "Semua orang bilang begitu, Pak. Polisi bilang begitu. Tetangga bilang begitu. Semua orang bilang suami saya menyerah."

Lihat selengkapnya