Semakin lama Raja membaca dokumen peninggalan Harun, semakin jelas satu hal: Harun tidak sedang mengumpulkan kenangan. Ia sedang mengumpulkan bukti.
Layar laptop memantulkan cahaya putih ke wajah Raja. Jam sudah menunjukkan 01:47. Kopi ketiga dingin di samping keyboard. Di luar, Medan tidur. Di dalam kos, tiga pasang mata menatap layar yang sama. Hanya satu yang bernapas.
Raja menggulir file PDF. SPK_Jembatan_Ringroad_Rev3.pdf. Tanggal: 10 Februari. Tanda tangan di pojok kanan bawah: Budi Pranoto, Manajer Proyek.
Dia buka file lain. Bon_Pembelian_Semen_28022026.pdf. Jumlah: 40 truk. Harga: Rp 1.240.000.000. Paraf penerima: H.S.
Lalu file foto. IMG_1187.jpg. Foto buku ekspedisi. Tulisan tangan Harun. 28/02 - Semen masuk gudang: 28 truk. Selisih 12 truk. Konfirmasi ke Pak B. Tidak ada jawaban.
Raja berhenti menggulir. Dia sandarkan punggung ke kursi. Otaknya panas.
"Lihat polanya," katanya pelan. Lebih ke dirinya sendiri.
Nadia duduk di lantai, dekat meja. Harun berdiri di dekat jendela, tidak berani terlalu dekat ke layar. Seolah takut melihat dosanya sendiri.
Raja klik folder 04_TRANSAKSI. Buka Rekap_Uang_Koordinasi.xlsx.
Tabel. Rapi. Kolom: Tanggal, Nama, Jabatan, Rekening Tujuan, Nominal, Keterangan.
12/01 - Darma Wijaya - Direktur Proyek - 123xxx - Rp 50.000.000 - Uang keamanan.
18/01 - Budi Pranoto - Manajer Proyek - 456xxx - Rp 25.000.000 - Uang koordinasi.
03/02 - Agus Salim - Pengawas Lapangan - 789xxx - Rp 10.000.000 - Tutup mulut.
Raja menekan tombol Page Down.
Nomor urutnya meloncat.
Dari No. 17 langsung ke No. 24.
Dia kembali ke folder 01_DOKUMEN. Buka Surat_Jalan_19.pdf. Lalu Surat_Jalan_20.pdf. Lalu Surat_Jalan_23.pdf.
Surat_Jalan_21.pdf tidak ada. 22.pdf juga tidak ada.
"Harun tahu sesuatu," gumam Raja. "Tapi belum sempat menyelesaikan semuanya."
Dia menoleh ke Harun.
Harun mengangguk pelan. Wajahnya tegang. Bekas lebam di lehernya seperti lebih gelap malam ini. Dia membuka mulut. Mau bicara. Tapi hanya angin yang keluar. Dia pegang lehernya. Menahan sakit.
Nadia langsung berdiri. "Jangan. Jangan dipaksa, Pak."
Raja mengangkat tangan. "Tidak. Jangan." Dia menutup laptop setengah. "Kita cari cara lain."
Nama itu muncul tujuh kali. Di bon. Di disposisi. Di catatan Harun.
Budi Pranoto.
Jabatan: Manajer Proyek.
Raja ketik nama itu di Google. Tambah kata PT. Karya Bangun Persada.
Muncul.
Foto di artikel Harian Medan Pos, tiga minggu lalu. PT. KBP Raih Penghargaan Kontraktor Terbaik 2025. Di foto, lima orang berdiri di depan spanduk. Budi Pranoto di tengah. Jas rapi. Dasi merah. Senyum lebar. Piagam di tangan.
Raja zoom wajahnya. Umur empat puluhan akhir. Rambut disisir. Mata sipit. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada catatan kriminal. Di LinkedIn, deskripsinya bersih. Berpengalaman 20 tahun di konstruksi. Integritas dan profesionalisme.
Raja bersandar. Dia tidak suka menuduh. Di pengadilan, tuduhan tanpa bukti adalah bunuh diri profesi.
Dia ambil spidol. Jalan ke papan tulis.
Di bawah tulisan BELUM TERBUKTI, dia tambah satu baris.
BUDI PRANOTO — MANAJER PROYEK — PERLU DIWAWANCARAI.
Dia garis bawah kata diwawancarai. Bukan tersangka. Bukan pelaku.
Nadia membaca. "Kau mau temui dia?"
Raja mengangguk. "Resmi. Sebagai pengacara. Kalau dia tidak salah, tidak ada yang perlu ditakutkan."
Harun menatap nama itu di papan. Tangannya terkepal. Tapi dia tidak mengangguk. Tidak menggeleng. Hanya menatap.
Kantor PT. Karya Bangun Persada di Jalan Gatot Subroto. Gedung empat lantai. Kaca biru. AC sentral.