GHOST LAWYER - THE SERIES

GAZALI
Chapter #10

Vol I / BAB 10 - Kasus yang Ditutup

Hal tersulit dalam sebuah kasus bukan menemukan bukti. Melainkan membuat seseorang bersedia melihat bukti itu.

Pagi. Langit Medan mendung, seperti mau hujan tapi menahan diri. Raja berdiri di depan Mapolrestabes. Map biru KASUS H.S. dia dekap di dada. Di dalamnya: print berita, fotokopi KTP Harun, foto kalender, salinan isi flashdisk yang sudah dia cetak semalam. Bukan yang asli. Yang asli ada di tiga tempat: laptop, flashdisk baru, dan email draft yang dia kirim ke dirinya sendiri.

Nadia di sebelahnya. Harun di belakang, dua langkah. Sejak kantor dibobol, Harun tidak pernah jauh dari Raja. Bukan menempel. Menjaga.

Raja menatap plang UNIT RESKRIM. Menarik napas. Dulu dia sering ke sini. Antar klien. Jemput SPDP. Tidak pernah untuk kasus orang mati yang dia sendiri angkat dari kubur.

Dia masuk.

 

Resepsionis mengarahkan Raja ke ruangan lantai dua. Pintu kayu, catnya terkelupas di bawah. Papan nama: INSPEKTUR DAMAR PRATAMA, S.I.K.

Raja ketuk. "Masuk," suara dari dalam.

Damar duduk di balik meja penuh berkas. Umur tiga puluhan akhir. Rambut cepak. Mata tajam tapi lelah. Di dinding ada piagam Penyidik Teladan 2024.

Dia menatap Raja, lalu ke kartu nama yang disodorkan. "Raja Siahaan, S.H. Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Raja duduk. Tidak langsung bicara. Dia letakkan map di meja. Tidak dibuka.

"Saya kemari soal kasus lama, Pak Damar," kata Raja pelan. "Harun Santoso. Meninggal 14 Maret. TKP Jalan Bunga Raya."

Wajah Damar berubah. Sedikit. Hanya kedutan di rahang. Tapi Raja pengacara. Dia dilatih lihat kedutan.

"Kasus itu sudah selesai," kata Damar. Nada profesional. Tidak kasar. Tidak hangat. "Kesimpulan: bunuh diri. Berkas sudah P-21. Keluarga tidak keberatan."

Raja mengangguk. "Saya tahu, Pak. Saya baca beritanya."

"Terus?"

"Saya hanya meminta Bapak melihat beberapa hal yang mungkin terlewat."

Damar menyandarkan punggung. Menautkan jari. "Pak Raja, saya hargai niat Bapak. Tapi saya punya 12 kasus aktif. Anak buah saya lembur tiap hari. Kalau setiap kasus ditutup dibuka lagi karena 'mungkin terlewat', kami tidak tidur."

Raja tidak terpancing. Dia buka map. "Saya paham, Pak. Saya juga tidak suka buang waktu orang." Dia keluarkan satu lembar. Foto dompet Harun. "Dompet korban ditemukan di gang, 300 meter dari TKP. Bukan di kontrakan. Bukan di kantong korban. Laporan Bapak tidak mencantumkan itu."

Damar melirik foto. "Dompet bisa jatuh. Bisa dicopet. Tidak membuktikan apa-apa."

Raja keluarkan lembar kedua. Print isi flashdisk. Disamarkan. Nama, nomor rekening disensor. "Ini salinan dokumen yang korban sembunyikan. Transaksi proyek. Nama-nama. Catatan pribadi korban. Ditemukan terkubur di bawah pohon, di samping rumah kontrakan."

Damar mengernyit. "Ditemukan siapa?"

"Saya."

"Kenapa Bapak gali-gali di sana?"

"Karena ada yang nunjuk." Raja berhenti. Salah bicara. "Maksud saya, karena ada petunjuk."

Damar menatap Raja lama. Lalu dia ambil print itu. Baca. Wajahnya tidak berubah.

"Pak Raja," katanya setelah selesai. "Semua ini hanya dugaan." Dia ketuk kertas. "Dokumen proyek. Bisa saja korban korupsi. Bisa saja dia takut ketahuan, lalu bunuh diri. Flashdisk dikubur karena panik."

"Janji bertemu notaris," Raja keluarkan lembar ketiga. Foto kalender. 09.00 — Bertemu Notaris. "Tanggal 13 Maret. Korban meninggal 14 Maret dini hari. Orang mau bunuh diri tidak buat janji kerja, Pak."

Damar diam.

"Tidak ada surat bunuh diri," lanjut Raja. "Tidak ada pesan. Tidak ada riwayat psikiater. Istri korban tidak percaya. Tetangga bilang korban janji benerin atap besoknya. Semua itu..."

"Semua itu circumstantial," potong Damar. Suaranya masih datar. "Tidak satu pun membuktikan pembunuhan. Tidak ada saksi melihat orang lain. Tidak ada CCTV. Tidak ada luka selain jerat di leher. Jerat yang korban bisa pasang sendiri."

Ruangan hening.

Nadia berdiri di dekat jendela. Menatap Raja. Harun di pojok, menunduk. Dia dengar semuanya. Namanya, hidupnya, matinya, diperdebatkan seperti pasal.

Raja menutup map. Pelan.

"Benar, Pak," katanya. Suaranya tidak marah. Tidak tinggi. Seperti di sidang. "Karena saya belum datang membawa kesimpulan."

Damar mengangkat alis.

"Saya datang membawa alasan untuk menyelidiki kembali." Raja menatap mata Damar. "Bapak tidak perlu percaya saya. Bapak cukup percaya pada prosedur. Kalau ada novum, perkara bisa dibuka. Saya tidak minta Bapak tangkap siapa-siapa hari ini. Saya minta Bapak kasih saya waktu untuk cari novum itu."

Damar bersandar lagi. Lama.

Lihat selengkapnya