Jakarta, 2021
Sore itu, lantai satu Pratama Mansion, tepatnya di dapur bergaya Classic English Country Kitchen dengan dinding bernuansa krem terlihat dipenuhi kesibukan. Kepala koki dan seluruh staf dapur tengah menyiapkan hidangan untuk makan malam.
Mereka telah diberi tahu bahwa Tuan Besar dan Nyonya Besar, Randu dan Aisha, tak dapat bergabung karena harus bekerja hingga larut di Pratama Group dan Aisha's Atelier. Meski begitu, makan malam untuk anak-anak mereka tetap harus disiapkan. Setiap hidangan mesti mengikuti aturan ketat dari Tuan Muda Pratama, Gian, terutama makanan untuk Callista, Nona Muda dan putri kesayangan keluarga itu.
Pemilihan bahan segar dan bumbu, cara memotong, mengolah, serta menyajikan makanan, hingga susunan menu mingguan semuanya mengacu pada catatan instruksi Gian. Catatan itu dapat diakses melalui iPad khusus dapur yang terpasang pada dudukan di meja kerja kepala koki. Untuk petunjuk yang perlu sering dilihat, staf akan mencetaknya, melaminasinya, lalu menempelkannya di bagian dalam pintu lemari kabinet.
Kini kompor freestanding legendaris La Cornue seri Château menyala dengan api birunya yang khas. Grill pan dan wok pan berbahan stainless steel SUS316 bergantian di atasnya, digunakan untuk memasak hidangan makan malam satu demi satu.
Sesekali, percikan air dan minyak mengenai backsplash marmer Carrara. Asap masakan segera tersedot oleh cooker hood La Cornue bergaya klasik, kokoh dengan bingkai kuningan murni. Dari oven berbentuk kubah di bawah kompor, aroma bebek panggang berbumbu Ngo Hiang mulai memenuhi ruangan.
Di meja island berlapis marmer Carrara, beberapa staf sibuk menyiapkan bahan masakan. Yang lain membersihkan bahan makanan di farmhouse sink keramik putih, dilengkapi keran melengkung bergaya gooseneck dengan sentuhan kuningan antik. Sementara itu, hidangan yang telah siap ditata di atas piring porselen, diambil dari lemari kayu ek dengan pintu klasik bergaya Shaker dan tarikan berbahan kuningan.
Jarum jam menunjukkan pukul 17.15 ketika Callista keluar dari ruang melukisnya di lantai dua. Ia langsung menuju ruang makan. Di sana, Mbak Ana, salah satu staf dapur yang biasa dipanggilnya begitu tengah sibuk menata piring di atas meja makan besar berbentuk lonjong dari kayu mahoni berwarna cokelat tua.