Selisih satu rupiah membuat tiga belas orang menunggu.
Angkanya hampir tidak terlihat di antara deretan transaksi Proyek Arunika yang memenuhi layar ruang rapat. Total uang yang sedang kami bicarakan lebih dari sebelas miliar rupiah. Bagi sebagian orang, selisih satu rupiah tidak layak menghambat penutupan laporan. Bagi saya, angka yang tidak bisa dijelaskan tidak pernah benar-benar kecil.
“Baris seratus delapan puluh enam,” kataku.
Tika menghentikan presentasinya. Dia menggeser kursor ke bawah dan menemukan angka yang kumaksud. Ruangan menjadi sunyi ketika dia memeriksa rumusnya.
“Pembulatan dari sistem lama, Mbak,” katanya.
“Kalau pembulatan, harus ada jejaknya.”
“Nilainya cuma satu rupiah.”
“Nilainya satu rupiah hari ini. Kalau kita membiarkan sumbernya tidak jelas, besok bisa satu juta.”
Tika mengangguk, meski wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali. Dia memperbaiki rumus, menambahkan catatan, lalu menjalankan rekonsiliasi sekali lagi.
Angka di pojok kanan bawah berubah menjadi nol.
Baru setelah itu aku membiarkan rapat berlanjut.
Aku sudah bekerja di perusahaan itu selama tujuh tahun. Dalam tujuh tahun tersebut, belum pernah ada temuan audit yang bisa ditarik sampai ke meja kerjaku. Aku tahu dari mana setiap angka datang, ke mana ia dipindahkan, dan siapa yang memberi persetujuan. Orang-orang di tim menyebutku terlalu kaku. Direktur Keuangan menyebutku dapat dipercaya. Aku lebih menyukai sebutan kedua.
Ponselku bergetar di samping laptop.
Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.
Anda ditambahkan ke grup “Arisan Keluarga Wangi: Putaran Baru”.
Nama itu membuat kalimat Tika terdengar menjauh.
Aku membalik ponsel agar layarnya menghadap meja.
“Lanjut,” kataku.
Tika berpindah ke halaman berikutnya. Aku memaksakan diri membaca grafik yang muncul, tetapi pikiranku sudah terlempar ke sebuah ruang tamu di kampung. Tikar pandan. Gelas teh yang meninggalkan lingkaran cokelat. Sebuah buku bersampul bunga dengan sudut kanan melepuh karena pernah terkena air.
Suara Ningsih menyebut angka-angka.
Tangannya menuntun tanganku membuat dua kolom.
Uang masuk di kiri. Uang keluar di kanan.
Kalau ada yang belum kembali, jangan pernah ditulis lunas.
“Mbak Wulan?”
Aku menatap Tika.
“Bagian ini perlu saya lanjutkan?”
“Kirim datanya setelah rapat. Saya periksa sendiri.”
Rapat berakhir sebelas menit lebih lama dari jadwal. Setelah semua orang keluar, aku membuka ponsel.
Grup itu berisi dua belas nomor. Sebagian tersimpan sebagai nama anggota keluarga yang sudah bertahun-tahun tidak kuhubungi. Sebagian lagi tidak memiliki foto. Di antara daftar anggota terdapat nomor Ningsih.
Nomor yang seharusnya sudah tidak aktif.
Tidak ada percakapan. Tidak ada ucapan selamat datang. Hanya satu keterangan abu-abu di tengah layar.
Anda ditambahkan oleh Anda.
Aku menekan nama grup untuk memeriksa siapa adminnya.
Tidak ada admin.
Aku keluar dari grup.
Lima detik kemudian ponselku kembali bergetar.
Anda ditambahkan ke grup “Arisan Keluarga Wangi: Putaran Baru”.
Kali ini sebuah dokumen sudah menunggu.
Daftar_Giliran_Terbaru.xlsx
Aku tidak membukanya. Aku memblokir nomor-nomor yang tidak kukenal, menghapus percakapan, lalu mematikan ponsel.
Sepanjang sisa hari itu aku menyelesaikan tiga laporan tanpa kesalahan. Aku membalas dua puluh tujuh surel. Aku meminta Tika memperbaiki satu catatan pendukung yang tidak menyebut sumber dana dengan jelas. Semuanya berjalan seperti biasa.
Namun, setiap kali layar laptop berubah gelap, aku melihat wajahku sendiri dan ruang tamu itu berada di belakangku.
Aku pulang setelah pukul delapan malam.
Apartemenku berada di lantai tujuh sebuah gedung yang dibangun tidak lama setelah aku pindah ke Bandung. Unitnya tidak besar, tetapi seluruh barang di dalamnya kupilih sendiri. Sofa abu-abu tanpa motif. Meja makan untuk dua orang yang hampir selalu hanya kupakai sendiri. Lemari putih dengan pintu tanpa gagang. Tidak ada foto keluarga di dinding.
Aku menyukai rumah yang tidak menanyakan dari mana pemiliknya berasal.
Sepatuku kulepas sejajar dengan garis nat. Tas kerja kutaruh di kursi yang sama seperti setiap malam. Sebelum mandi, aku membuka laci kecil di bawah meja konsol.
Jam tangan Bapak masih berada di sana.
Talinya terbuat dari kulit cokelat yang sudah menghitam di bagian dalam. Ada tujuh lubang pengait. Kacanya retak tipis di dekat angka enam, sedangkan jarumnya sudah berhenti sejak lama. Aku masih membawanya ketika pindah ke Bandung, tetapi tidak pernah memakainya. Sekali sebulan aku membersihkan debu dari kacanya, lalu mengembalikannya ke laci.
Malam itu aku tidak menyentuhnya.
Aku hanya memastikan benda itu masih ada, lalu menutup laci.
Ponsel menyala setelah selesai mandi. Ada satu panggilan tidak terjawab dari Ibu. Aku menelepon balik sambil mengeringkan rambut.
“Naha dipareuman?” tanya Ibu tanpa salam.
“Tadi rapat.”
“Mala datang.”
Tanganku berhenti.
“Ngapain?”
“Nanyakeun nomor kamu. Katanya yang lama nggak aktif.”
“Jangan kasih.”
“Sudah dia punya.”
“Kalau sudah punya, kenapa tanya ke Ibu?”
Ibu tidak langsung menjawab. Dari ujung telepon terdengar televisi dan bunyi sendok menyentuh gelas. Suara-suara dari rumah lama yang dapat kukenali tanpa perlu melihatnya.
“Minggu ini tujuh tahun Bapak,” katanya.
“Aku ingat.”
“Pulang?”
“Nggak bisa. Lagi penutupan laporan.”
“Sebentar saja.”
“Aku transfer buat pengajian.”
“Ibu nggak nanya uang.”