HARI KE-2
Aku tidak tidur sampai subuh.
Pukul enam pagi aku sudah berada di kantor. Gedung masih sepi. Petugas kebersihan baru selesai mengepel lorong, dan lampu di sebagian ruang kerja belum dinyalakan.
Aku membuka arsip percakapan lama dari cadangan penyimpanan awan. Pemulihan data ponsel mengembalikan pesan-pesan yang sudah bertahun-tahun tidak kubaca.
Nama Ningsih muncul di bawah daftar.
Percakapan terakhir kami terjadi tujuh tahun lalu.
Ningsih: Sudah sampai terminal?
Aku: Sudah, Teh.
Ningsih: Jangan hilang. Begitu dapat kerja, kabari.
Aku: Begitu saya sampai Bandung, saya kirim semuanya.
Ningsih: Teh percaya. Tapi bulan depan jangan terlambat. Giliran anak Teh buat uang muka operasi.
Pesan berikutnya dikirim tiga hari kemudian.
Ningsih: Lan, sudah sampai?
Lalu seminggu setelahnya.
Ningsih: Nomor kamu susah dihubungi.
Sesudah itu pesan-pesan menjadi lebih pendek.
Lan?
Tolong jawab.
Rumah sakit minta kepastian.
Pesan terakhir hanya berisi satu kalimat.
Kalau belum ada uang, bilang. Jangan bikin Teh menunggu tanpa tahu.
Semua pesan itu memiliki dua tanda centang biru.
Aku menutup percakapan, tetapi kalimat-kalimatnya sudah terlanjur membuka sesuatu yang selama ini kusimpan dalam bentuk berbeda.
Tujuh tahun lalu, Bapak meninggal setelah sakit kurang dari dua minggu. Biaya pemakaman datang bersamaan dengan sisa utang yang tidak pernah diceritakannya kepada Ibu. Orang-orang yang selama hidup sering meminta Bapak mengantar, memperbaiki atap, meminjam motor, atau menjadi penjamin datang ke rumah membawa amplop kecil dan nasihat panjang.
Aku melihat mereka makan di bawah tenda yang dibayar dari utang baru.
Malam setelah hari ketujuh, Arisan Keluarga Wangi berkumpul di rumah Ningsih. Aku datang membawa daftar tagihan dan jam Bapak di pergelangan tangan.
Ningsih duduk di dekat buku arisan. Dia sepupu Ibu, tetapi sejak kecil aku memanggilnya Teh. Dialah yang mengajariku membuat pembukuan ketika aku masih sekolah. Dialah yang membayar biaya formulir kuliahku saat Bapak tidak punya uang. Kalau aku salah menghitung, dia tidak pernah langsung menunjukkan jawabannya. Dia hanya bertanya dari mana angkanya datang.
Malam itu aku meminta giliranku dimajukan.
“Buat pemakaman sama bayar utang Bapak,” kataku.
Namaku seharusnya baru menerima putaran sebelas bulan kemudian. Giliran bulan itu milik Ningsih.
Sebagian anggota setuju karena baru saja menghadiri pemakaman. Sebagian diam karena menolak orang berduka dianggap tidak pantas. Ningsih menatapku cukup lama sebelum akhirnya bertanya jumlah yang kubutuhkan.
“Semuanya.”
“Giliran Teh bulan ini, Lan.”
“Aku tahu.”
“Anak Teh sudah dapat jadwal operasi.”
“Begitu aku kerja di Bandung, aku teruskan setoran. Teh tetap dapat bulan depan.”
“Kamu belum dapat kerja.”
“Aku akan dapat.”
Aku melepas jam Bapak dan meletakkannya di atas buku arisan.
“Ini jaminannya.”
Beberapa orang tertawa kecil karena jam rusak tidak mungkin mengganti uang puluhan juta. Ningsih tidak tertawa.
“Kalau Teh kasih, kamu jangan hilang.”
“Aku nggak akan hilang.”
Mala duduk di samping Ningsih sebagai pencatat. Aku ingat dia memegang pulpen, tetapi selama tujuh tahun aku memilih tidak mengingat apa yang ditulisnya.
Pagi setelah uang cair, Ibu mengambil jam Bapak dari meja dan memasukkannya ke tasku. Aku melihatnya melakukan itu. Aku tidak mengembalikannya.
Aku pergi ke Bandung tiga hari kemudian.
Sebagian uang kupakai untuk pemakaman dan utang Bapak. Sebagian lagi menjadi uang muka unit apartemen yang baru dibangun. Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa tempat tinggal adalah modal agar aku bisa bekerja dan membayar semuanya.
Bulan pertama aku belum memiliki penghasilan tetap.
Bulan kedua aku mendapat pekerjaan, tetapi harus membeli pakaian kantor dan membayar angsuran.
Bulan ketiga aku mulai menghindari telepon.
Setelah itu, setiap bulan menjadi lebih mudah.
Aku membangun satu kalimat dan tinggal di dalamnya selama tujuh tahun:
Keluarga besar sudah bertahun-tahun memanfaatkan Bapak. Uang itu bukan milik Ningsih. Uang itu hak Bapak yang terlambat dikembalikan.
Telepon di mejaku bergetar.
Mala.
Aku mengangkat tanpa salam.
“Tanda tangan siapa yang kamu palsukan?”
Mala menangis sebelum menjawab.
“Teh sudah lihat?”
“Jawab.”
“Tanda tangan Teh Ningsih.”
“Untuk apa?”
“Surat persetujuan perubahan urutan.”
“Dia ada di ruangan itu.”
“Dia nggak mau tanda tangan setelah semua pulang.”
Kursi di bawahku terasa terlalu keras.
“Kamu bilang dia setuju.”
“Teh Wulan yang bilang semua orang sudah dengar dia kasih izin.”
“Dia kasih uangnya.”
“Karena yang lain udah telanjur percaya suratnya.”
Aku berdiri dan menutup tirai kaca ruang kerjaku.
“Kamu yang tanda tangan.”