GILIRAN

Indra S Miraj
Chapter #3

EPISODE 3: Audit Gaib

HARI KE-4

Transfer Rp48 juta dilepaskan pukul 08.03.

Sistem perusahaan menampilkan penerima sebagai Keluarga Wangi. Tiga menit kemudian nama itu berubah menjadi rangkaian tanda pagar. Status pembayaran tetap berhasil.

Aku segera memindahkan dana masuk Arunika dari akun suspense ke akun pengembalian. Agar jurnalnya menutup, aku membutuhkan satu dokumen pendukung dan persetujuan pemeriksa kedua.

Tika adalah pemeriksa kedua.

Aku memanggilnya pukul 09.10.

“Dana Arunika sudah saya kembalikan,” kataku.

Dia melihat layar.

“Ke siapa?”

“Pengirim.”

“Kita belum dapat data pengirim.”

“Sudah diverifikasi manual.”

“Dokumennya?”

“Menyusul.”

Tika membaca nomor rekening penerima, lalu membuka catatan penelusurannya sendiri.

“Rekening ini nggak ada di data bank.”

“Data bank kita belum diperbarui.”

“Nama penerimanya juga kosong.”

“Makanya saya pakai jalur manual.”

“Siapa yang mengonfirmasi?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Aku membuka formulir rekonsiliasi dan menunjuk kolom yang perlu dia setujui.

“Masukkan sebagai pengembalian salah transfer. Referensinya CL-2407-1186.”

“Saya nggak bisa setuju kalau dokumennya nggak ada.”

“Ini koreksi sementara.”

“Kalau sementara, dananya seharusnya belum keluar.”

Tika berbicara pelan, tetapi setiap katanya tepat. Aku mengenali nada itu. Nada yang biasa kupakai ketika menemukan orang lain mencoba bersembunyi di balik istilah.

“Kamu pikir saya nggak tahu prosedur?”

“Bukan begitu.”

“Saya yang membuat sebagian prosedur itu.”

“Makanya saya nggak ngerti kenapa Mbak minta saya lewati.”

Aku merasakan sesuatu bergerak di dalam tas. Jam Bapak bergesekan dengan lapisan kain.

“Setujui sebelum pukul dua belas,” kataku. “Setelah dokumennya masuk, kita lengkapi.”

Tika tidak menyentuh mouse.

“Kalau saya setuju sekarang, nama saya ikut masuk.”

“Kamu bawahan saya.”

“Saya pemeriksa kedua.”

“Kamu sedang menolak instruksi?”

“Saya sedang minta dokumen.”

Aku mengambil formulir cetak dari meja dan menulis nominal serta nomor referensi di bagian atas. Pulpen tinta biru cair yang kupakai bocor sedikit. Noda menempel pada telunjuk kanan.

Angka empat pada Rp48.000.000 kutulis dengan bagian atas terbuka.

“Ini referensinya,” kataku.

Tika melihat tulisan itu, lalu menatapku.

“Saya kasih waktu sampai pukul dua belas,” ulangku.

Dia mengambil kertas, keluar dari ruangan, dan menutup pintu.

Pukul 11.45, aku mengirim pesan menanyakan status persetujuan.

Tidak ada jawaban.

Pukul 12.00, Tika melaporkan transaksi tersebut kepada Finance.

Lihat selengkapnya