HARI KE-5
Aku tidak tidur.
Setiap kali memejamkan mata, aku mendengar suara kertas dibalik. Ketika melihat meja, buku itu selalu tertutup. Genangan air di bawahnya tidak melebar, tetapi lingkaran bekas gelas terus bertambah.
Pukul 04.50 jumlahnya lima.
Pukul 05.12, Mala mengirim foto baru. Memar di pergelangan Ibu sudah naik sampai lengan bawah. Di bawah foto terdapat pesan:
Dokter kasih oksigen. Ibu masih sadar.
Aku membuka daftar aset.
Apartemen adalah satu-satunya benda yang nilainya jauh melampaui Rp48 juta dan dapat menghasilkan uang tunai dalam waktu singkat. Dana pensiun tidak bisa ditarik. Investasi membutuhkan dua hari kerja. Mobil sudah kujual tahun lalu karena jarang dipakai.
Kalau dana perusahaan kukembalikan sebelum pemeriksaan lanjutan, aku bisa berargumen bahwa transfer itu kesalahan rekonsiliasi yang sudah dikoreksi. Jejak tindakanku tidak akan hilang, tetapi kerugian perusahaan akan tertutup.
Kalau apartemen dijual, aku juga tidak perlu tinggal bersama buku itu.
Pukul 05.40, aku membuka grup penghuni dan mencari pesan broker yang pernah menawarkan jasa. Aku menghubungi lima orang. Tiga tidak menjawab. Satu mengatakan transaksi tidak mungkin selesai dalam dua hari. Broker terakhir pernah menjual unit tetanggaku.
Dia menelepon balik.
“Ibu mau jual unit?”
“Cepat. Harga dua puluh lima persen di bawah appraisal terakhir. Hanya pembeli tunai.”
“Secepat apa?”
“Saya butuh tanda jadi masuk hari ini. Minimal enam puluh lima juta.”
“Pembayaran penuh dan balik nama nggak mungkin hari ini.”
“Saya nggak minta balik nama hari ini. Saya minta tanda jadi.”
“Berarti pembelinya investor. Harganya akan ditekan lagi.”
“Kirim angkanya.”
Dia meminta foto sertifikat, bukti pelunasan KPA, tagihan pengelola, dan pajak. Semua dokumen sudah tersusun dalam satu map. KPA unit itu kulunasi dua tahun lalu. Apartemen tidak sedang dijaminkan.
Pukul 08.30, broker mengirim penawaran.
Nilainya jauh di bawah harga pasar. Dalam keadaan biasa aku akan menolaknya tanpa bernegosiasi. Pagi itu aku hanya membaca bagian jadwal.
Survei awal: 11.00
Tanda jadi: Rp65.000.000 setelah dokumen awal diverifikasi
Pemeriksaan akhir: Hari ke-6
AJB dan pelunasan: Hari ke-7, pukul 09.00
Aku menyetujuinya.
Sebelum investor datang, aku membungkus buku arisan dengan dua lapis plastik dan memasukkannya ke lemari. Jam Bapak kusimpan di dalam tas kerja.
Aku membersihkan bekas air di meja. Lima lingkaran cokelat tidak bisa dihapus. Aku menutupnya dengan taplak.
Investor datang tepat waktu bersama broker. Dia memeriksa unit seperti seseorang memeriksa barang sitaan. Keran dibuka. Lemari diperiksa. Setiap sudut difoto. Dia tidak bertanya mengapa aku menjual murah. Orang yang terbiasa membeli dari penjual terdesak tahu bahwa pertanyaan dapat membuat penjual mengingat dirinya masih punya pilihan.
“Kalau dokumen bersih, saya transfer tanda jadi siang ini,” katanya.
“Dokumen bersih.”
“Ada sengketa keluarga?”
“Tidak ada.”
Dari dalam lemari terdengar satu halaman dibalik.
Investor menoleh.
“Apa itu?”
“Plastik.”
Dia tidak bertanya lagi.
Pukul 13.17, Rp65 juta masuk ke rekeningku.
Aku langsung mentransfer Rp48 juta ke rekening perusahaan dengan keterangan PENGEMBALIAN DANA ARUNIKA. Sisa saldoku Rp17 juta, belum termasuk beberapa juta yang sudah ada sebelumnya.
Finance mengirim balasan otomatis bahwa dana telah diterima dan akan diverifikasi.
Untuk pertama kalinya sejak grup itu muncul, dadaku terasa sedikit longgar.
Aku membuka lemari.
Plastik yang membungkus buku masih utuh, tetapi bagian dalamnya dipenuhi air. Tinta biru dari halaman terakhir merembes sampai ke sampul. Aku membawa bungkusan itu ke meja dan membukanya.
Tulisan Dana titipan tidak dapat melunasi dana titipan melebar seperti serat yang menyerap air.
Di bawahnya muncul tiga baris baru.
PENGALIHAN DITOLAK.
Kewajiban awal: Belum dibayar.
Utang baru: Ditambahkan.
Kata belum dibayar memudar. Beberapa detik kemudian tulisan lain muncul di tempat yang sama. Bentuk hurufnya tidak lagi menyerupai laporan.
Can lunas, Lan.
Belum lunas.
Bahasa yang selama tujuh tahun kuhapus dari surel, rapat, dan percakapanku sendiri kini muncul di buku yang tidak bisa kubuang.
Ponsel berdering. Mala.
Kali ini aku mengangkat.
“Ibu gimana?”
“Masih di rumah sakit. Bekasnya nggak hilang.”
“Aku sudah bayar.”
“Bayar ke siapa?”
Aku tidak menjawab.
“Teh masih belum ngerti,” katanya.
“Aku mengembalikan uangnya.”
“Uang siapa?”
Pertanyaan itu membuatku melihat buku.
“Aku sudah jual apartemen.”
“Apartemen yang dibeli pakai uang arisan?”
“Jangan mulai.”
“Aku bukan mulai. Ini sudah mulai tujuh tahun lalu.”
“Kenapa Ibu yang dijadikan penjamin?”
“Urutannya pasangan, anak, baru orang tua. Teh nggak punya suami atau anak. Jadi jatuhnya ke Ibu.”
“Siapa yang bikin aturan itu?”
“Bukan aku. Nama Ibu muncul sendiri waktu Teh terus nolak.”
Nada notifikasi terdengar dari ponselnya. Mala menarik layar menjauh untuk membaca.
Wajahnya berubah.
“Apa?”