HARI KE-7
Aku meninggalkan apartemen pukul 07.15.
Untuk pertama kalinya sejak membelinya, aku tidak memeriksa kembali apakah lampu sudah mati atau keran sudah tertutup. Kunci unit kusimpan dalam amplop untuk diserahkan kepada pembeli. Buku arisan berada di dalam koper, dibungkus dua lapis plastik. Jam Bapak kuselipkan di saku dalam tas.
Ketika pintu apartemen menutup, tidak ada suara dari dalam.
Tidak ada yang berusaha menahanku.
Kantor PPAT berada dua puluh menit dari gedung. Aku tiba lebih awal, memeriksa dokumen, lalu duduk di ruang tunggu yang dingin bersama investor dan broker.
Seluruh pemeriksaan pendahuluan sudah selesai. Sertifikat, pelunasan KPA, pajak, identitas, serta persetujuan pengelola dinyatakan lengkap. Setelah PPAT memastikan dana pelunasan siap dilepaskan, investor melakukan transfer sisa harga pembelian.
Aku tidak menerima tangkapan layar sebagai bukti. Aku menunggu sampai saldo efektif masuk ke rekening.
Pukul 09.14, uang itu muncul.
Nominalnya cukup untuk membayar utang, pindah ke kota lain, dan hidup beberapa bulan tanpa pekerjaan. Aku menghitungnya dua kali.
Pukul 09.16, PPAT mulai membacakan akta.
Bahasanya panjang, kaku, dan menenangkan. Setiap pihak memiliki sebutan. Setiap kewajiban memiliki batas. Setiap peralihan memiliki waktu yang dapat dibuktikan.
“Pihak Pertama menyatakan bahwa objek jual beli tidak sedang berada dalam sengketa, sita, jaminan, maupun kewajiban kepada pihak lain yang tidak diungkapkan dalam akta ini.”
“Betul,” jawabku.
Aku menunggu suara kertas robek dari koper.
Tidak ada.
Pulpen hitam yang diberikan PPAT menghasilkan tinta hitam. Aku menandatangani setiap halaman, membubuhkan sidik jari, lalu menyerahkan kunci kepada investor. Dokumen asli ditahan untuk proses pendaftaran peralihan hak.
Semua berlangsung bersih.
Pukul 09.34, broker mengulurkan tangan.
“Selesai, Bu. Mulai hari ini unitnya sudah bukan tanggung jawab Ibu lagi.”
Aku menjabat tangannya.
Kalimat itu terdengar seperti pembebasan.
Unit tersebut memang bukan lagi tanggung jawabku. Kewajiban kepada Ningsih tidak pernah melekat pada sertifikatnya.
Aku memesan mobil menuju bandara. Koper masuk ke bagasi. Boarding pass yang sudah dicetak kusimpan di dalam paspor.
Rencanaku masih bisa dijalankan. Penerbangan belum ditutup. Uang sudah masuk. Apartemen sudah berpindah. Aku dapat meninggalkan Bandung sebelum perusahaan memanggilku untuk pemeriksaan berikutnya.
Mobil bergerak pukul 10.20.
Tidak ada jalan yang memanjang sendiri. Tidak ada suara dari bagasi. Peta digital menunjukkan rute tercepat menuju terminal keberangkatan.
Aku membuka pesan Mala.
Foto terakhir memperlihatkan Ibu tertidur. Lingkaran gelap di tangannya naik sedikit melewati pergelangan. Di bawahnya Mala menulis:
Masih napas. Kadang sesak. Aku tunggu sampai jam enam.
Aku mematikan layar.
Ketika mobil mendekati persimpangan terakhir, dua papan petunjuk terlihat di depan. Jalur kiri menuju bandara. Jalur kanan masuk ke jalan antarkota yang melewati kabupaten tempat kampungku berada.
Sopir menyalakan lampu sein kiri.
Baru pada saat itulah boarding pass di dalam paspor terasa hangat.
Aku mengeluarkannya.
Permukaan kertas bergerak pelan di bawah ibu jariku, seperti kulit tipis yang menutupi sesuatu yang masih hidup.
Satu kali.
Dua kali.
Aku menahan napas dan menghitung.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Ketukan ketujuh terasa jauh lebih lemah.
Sesudahnya, gerakan itu tidak berhenti. Denyut tersebut berubah menjadi getaran tipis yang hampir tidak terasa. Ritmenya tidak lagi menyerupai jantung manusia. Ada gesekan kecil di dalam kertas, teratur tetapi tertahan.
Srek.
Diam.
Srek.
Seperti jarum detik yang dipaksa bergerak di bawah tekanan daging.
Bau minyak kayu putih memenuhi kabin. Bau yang selalu melekat pada telapak tangan Ibu setiap kali mengusap kepalaku ketika kecil.
Hawa dingin kemudian melingkari pergelangan tangan kiriku. Mula-mula hanya kebas, lalu menyempit seperti tali jam yang ditarik satu lubang lebih kencang.
Aku membalik boarding pass.
Pada bagian belakang terdapat lekukan berbentuk tali jam, lengkap dengan tujuh lubang pengait.
Bukan gambar.
Bukan bayangan tinta.
Permukaan kertasnya benar-benar cekung. Garis tepinya keras ketika disentuh, seolah sabuk besi tak terlihat baru saja ditekan dengan kuat ke atas tiket. Kukuku tersangkut pada salah satu lubang.
Getaran tipis di dalam kertas kembali bergesekan.
Srek.
Ibu masih hidup.
Tubuhnya sedang dipakai untuk menghitung waktu yang tersisa.
Nama penumpang, kota tujuan, jadwal penerbangan, dan kode pemindaian tetap utuh. Tiket itu masih sah. Tidak ada sesuatu yang membatalkan pelarianku.
Aku hanya diperlihatkan siapa yang akan membayarnya.
“Tetap ke bandara, Bu?” tanya sopir.
Aku membuka navigasi menuju rumah Ningsih.
Perkiraan tiba: 16.41.
Masih satu jam sembilan belas menit sebelum batas kehadiran.
Aku menghitung sisa uang, biaya perubahan rute, tol, kemungkinan penerbangan hangus, dan jarak yang harus ditempuh. Bahkan ketika napas Ibu sedang dihitung mundur, aku masih membutuhkan angka sebelum berani memilih.
Mobil mendekati jalur pemisah.
“Mang,” kataku.
Sopir melihatku melalui kaca tengah.
“Tong ka bandara. Belok ka katuhu.”
Lampu sein masih berkedip ke kiri.
“Ke mana, Bu?”
Aku mematikan rute bandara, lalu menyodorkan layar ponsel. Alamat rumah Ningsih terlihat di atas jalur perjalanan antarkota.
“Ka alamat ieu. Argo, tol, sareng ongkos mulangna Mang ku abdi ditanggung.”
Sopir melirik jarak tempuh yang tertera.
“Jauh, Bu.”
“Abdi terang.”
Aku meletakkan boarding pass di atas paspor.
“Belok ayeuna. Engké alamat lengkepna ku abdi kirim.”
Sopir mematikan lampu sein kiri. Setir dibelokkan ke kanan sesaat sebelum pembatas jalan dimulai.
“Abdi rék mulang,” tambahku.
Aku mau pulang.
Kalimat itu nyaris tidak terdengar. Bukan lagi petunjuk bagi sopir, melainkan pengakuan kepada diriku sendiri.
Mobil masuk ke jalan antarkota.
Lingkaran dingin pada pergelangan tanganku tidak hilang. Tekanannya hanya mengendur sedikit, seolah tali itu baru dilonggarkan satu lubang.
Gesekan di dalam boarding pass juga masih bergerak.
Srek.
Diam.
Srek.
Ibu belum dibebaskan. Aku baru mengubah arah.
Aku tidak merobek tiket. Aku menyimpannya kembali ke dalam paspor sebagai bukti bahwa jalan menuju bandara masih terbuka dan pilihanku belum menjadi pelunasan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak memakai perhitunganku untuk memindahkan kewajiban kepada orang lain.
Aku memakainya untuk memastikan diriku tiba sebelum pukul enam.
Perjalanan memakan waktu lebih lama daripada perkiraan awal.
Hujan turun di jalan pegunungan dan membuat kendaraan bergerak pelan. Setiap kali perkiraan tiba berubah, hawa dingin di pergelangan tanganku bertambah kuat.
16.41.
16.49.
16.56.
Pukul 15.20, Mala mengirim pesan bahwa napas Ibu semakin pendek. Aku menelepon rumah sakit dan memintanya membawa Ibu kembali. Mala menolak.
“Tadi dokter cuma bisa kasih oksigen,” katanya. “Kalau Teh pulang, selesain.”
“Kalau Ibu makin parah?”
“Aku bawa. Tapi ini bukan soal rumah sakit.”
“Jangan sok tahu.”
“Aku udah tujuh tahun sok nggak tahu. Cukup.”
Dia memutus sambungan.
Aku ingin menelepon lagi, tetapi boarding pass di dalam paspor bergetar.
Srek.
Diam.
Srek.
Aku menyimpan ponsel.
Menjelang pukul empat, gedung dan jalan besar digantikan sawah, kebun, serta rumah-rumah yang berdiri semakin jarang. Aku mengenali tikungan dekat sungai, menara masjid yang catnya berubah, dan warung yang dulu menjual tiket travel ke Bandung.
Tujuh tahun lalu aku meninggalkan tempat itu menjelang subuh. Aku berjalan menuruni jalan kampung dengan koper di belakang dan uang arisan di dalam tas. Matahari berada di depanku. Ningsih berdiri di teras rumahnya, masih mengenakan pakaian tidur, memanggil namaku sekali.
Aku tidak menoleh.
Sore itu aku datang dari arah berlawanan. Matahari sudah condong di belakang rumah-rumah. Jalan yang dulu kuturuni sekarang harus kudaki.
Mobil tidak bisa masuk ke gang terakhir. Pukul 16.58, sopir berhenti di dekat warung tutup.
“Alamatnya masuk sana, Bu,” katanya.
Aku membayar argo, tol, dan tambahan perjalanan pulangnya seperti yang kujanjikan. Koper besar kuturunkan dari bagasi. Sopir melihat gang sempit di depan dan menawarkan bantuan, tetapi aku menolak. Dia pergi setelah memastikan seluruh barangku sudah turun.
Aku menarik koper sendiri.
Rumah Ibu berada dua gang di sebelah barat. Aku melewati jalan menuju ke sana tanpa berbelok. Dari kejauhan aku dapat melihat atapnya, tetapi tidak ada waktu untuk datang lebih dahulu. Buku di tanganku semakin berat setiap kali langkahku melambat.
Rumah Ningsih berdiri di ujung jalan.
Cat hijaunya sudah mengelupas. Halaman dipenuhi rumput setinggi betis. Tirai di ruang depan masih bermotif bunga yang sama, tetapi warnanya pudar. Rumah itu kosong sejak Ningsih meninggal. Tidak ada anggota keluarga yang mau menempatinya.
Gerbang tidak terkunci.
Pintu depan terbuka sedikit.
Koper kutinggalkan di luar gerbang. Aku hanya membawa tas, buku arisan, dan ponsel.
Pukul 17.06, aku melewati ambang.
Bau teh basi dan kertas lembap menyambutku.
Ruang tamu tidak berdebu seperti rumah yang ditinggalkan tujuh tahun. Tikar pandan terbentang di lantai. Tujuh gelas teh tersusun mengelilingi meja rendah. Uap masih naik dari salah satunya.
Lima orang duduk di sekeliling meja.
Bi Enok berada paling dekat pintu. Rambutnya sudah seluruhnya putih. Di sampingnya ada Kang Darsa, Mang Ujang, dan dua perempuan yang kuingat sebagai anggota arisan lama. Mereka semua masih hidup.
Dua kursi lainnya kosong.
Permukaan duduknya basah.
Aku berhenti di dalam pintu.
“Siapa yang panggil kalian?”
Bi Enok mengangkat ponsel. Di layarnya terlihat grup yang sama.
“Kami saksi,” katanya.
“Buku bilang aku harus datang sendiri.”
“Maksudnya kamu nggak boleh bawa orang buat ngomong atas nama kamu.”
“Mala?”
“Jaga Euis.”
Aku menatap kursi kosong di ujung meja. Di depannya terdapat cangkir dengan bekas lipstik tipis pada bibir gelas.
“Siapa satu lagi?”
Tidak ada yang menjawab.
Bi Enok menunjuk meja.
“Taruh bukunya.”
Aku tidak bergerak.
“Kalian bisa hentikan ini?”
“Bukan kami yang mulai.”
“Tapi kalian datang.”
“Karena dulu kami juga datang waktu kamu ambil uangnya.”
Aku meletakkan buku di tengah meja.
Plastik pembungkusnya terlepas sendiri. Sampul yang basah menempel tepat di atas sebuah bentuk persegi pada permukaan kayu, seolah meja itu menyimpan bekas buku selama tujuh tahun.