Giok Langit

Adidan Ari
Chapter #3

Bab 3 : Perwira Yang

Cukup melelahkan ketika semalaman harus dikejar oleh satu desa karena ketahuan mencuri sepeti harta. Peti itu kecil saja, bahkan dua tangan pun terlalu besar untuk memegangnya, tapi harus Long Wei akui kalau isinya tidak main-main.

Berbagai perhiasan seperti kalung, cincin, anting, gelang, dan pernak-pernik lainnya. Long Wei bahkan sampai bingung harus ia apakan harta sebanyak ini.

“Dijual sajalah,” gumamnya tanpa sadar tepat ketika makanan yang ia pesan dihidangkan di atas meja.

Pelayan itu membungkuk singkat sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan pelanggan lain.

Warung ini berada di persimpangan yang cukup strategis. Walau di sekelilingnya masih berupa hutan lebat, tapi jarak ke desa terdekat tak sampai lima li. Hal ini membuat para pengelana tak perlu mampir ke desa-desa itu jika hanya untuk sekadar mengisi perut.

Long Wei memilih singgah di tempat ini karena tujuan itu. Dia hanya akan mengisi perut sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

“Sudah sekitar dua minggu ini dia keliling di desa sekitar sini.”

“Meresahkan sekali.”

Perhatian Long Wei teralihkan ketika mendengar percakapan dua orang tersebut. Dia melirik ke belakang untuk menemukan dua sosok pria berpakaian kasar seperti orang-orang pencari kayu di hutan. Long Wei semakin yakin saat melihat seikat kayu di sisi kursi masing-masing.

“Desamu sudah ada korban?”

“Baru tadi malam. Sekotak harta dari salah satu warga yang kaya sudah hilang.”

Long Wei hampir tersedak karenanya. Siapa lagi yang melakukan itu kalau bukan dia sendiri.

Pemuda itu tersenyum pahit dalam diamnya. Memang setelah ia mencuri gelang giok indah dari Yang Feng, Long Wei hidup sebagai pencuri yang menargetkan rumah-rumah besar. Dengan ilmu silat ajaran ayahnya dulu, tak begitu sulit baginya untuk menyelinap masuk dan keluar tanpa ketahuan.

Ditambah lagi wajah yang masih anak-anak, umur lima belas tahun, tak akan ada yang mengira kalau Long Wei adalah seorang pencuri.

Namun, Long Wei tidak merasa keberatan dengan jalan hidupnya karena sejak dulu dia dan kelompok Hantu Samudra sudah biasa untuk merebut harta benda milik orang. Dengan begitu, seperti saat ini, dia bisa membeli pakaian bersih yang mahal serta senjata pedang pendek yang cukup berguna untuk menakut-nakuti korban.

“Kita istirahat dulu di sini.”

Long Wei mengurungkan niatnya untuk beranjak saat melihat tiga kuda besar tiba di depan pintu warung yang terbuka. Melihat pakaian para penunggangnya, mereka merupakan prajurit kekaisaran.

Long Wei tersenyum tanpa sadar karena pikiran jahat masuk secepat kilat. Uang mereka pasti banyak, ucap batinnya saat melihat satu wadah besi besar yang dibawa masuk oleh dua orang.

“Upeti!” bentak salah satu prajurit dengan galak.

Pemilik warung itu langsung mengkeret di balik meja. Tubuhnya menunduk-nunduk dengan wajah ketakutan. “Minggu lalu anda sudah datang, tuan. Saat ini kami belum punya uang sebanyak itu.”

Meja digebrak dengan keras. “Kau mau memberontak, ya?”

“Tidak … tidak ….”

Long Wei tak lagi tertarik mendengarkan perdebatan itu. Pemuda ini melangkah keluar dari warung dan berpapasan dengan satu prajurit lain yang menenangkan ketiga kuda tersebut. Long Wei tersenyum kecil.

Ia berjalan sampai cukup jauh untuk menyelinap ke balik pepohonan, kemudian kembali lagi ke tempat warung itu berada. Diambilnya batu sebesar kepalan tangan untuk ia lempar mengarah pantat salah satu kuda dengan sedikit pengerahan tenaga dalam.

Lihat selengkapnya