Semuanya bermula dari pertanyaan sederhana dari teman teman gue ketika kami masih baru aja jadi anak SMA, tentang siapa cowok paling ganteng di IPS 4. Saat itu gue nggak pikir panjang untuk langsung sebut nama Mahesa karena memang dari awal masuk, mata gue yang seolah punya radar ini udah langsung terpesona sama kegantengan Mahesa yang dari jarak 500 meter pun udah bisa kelihatan. Saat itu, gue kayak cewek yang baru keluar dari goa dan baru tahu kalau ada makhluk seganteng Mahesa, jadi gue memandangi dia cukup lama, dan nggak seperti kebanyakan cowok yang memilih bangku paling belakang, dia milih bangku paling depan dekat dengan meja guru, dan ada di deret satu dimana gue sejajar sama dia di sebelah kanan bersebarangan dengan papan tulis karena gue lebih suka di depan supaya bisa fokus nyimak pelajaran.
Dan ternyata yang setuju kalau Mahesa ganteng nggak gue doang, ada empat orang teman cewek gue yang setuju, tapi mereka nggak sampai naksir. Dari sini, kalian mungkin udah bisa nebak siapa yang masuk ke tahapan naksir Mahesa.
Gue nggak mau berlebihan dengan menyebut kalau terpesonanya gue sama kegantengan Mahesa yang tinggi putih itu sebagai cinta pada pandangan pertama. Kebetulan, muka Mahesa memang tipe yang enak dipandang dan nggak akan bosen lo lihatin berjam jam karena dia tidur atau bengong pun tetap ganteng, jadi sebagai orang yang menyukai pemandangan indah, entah alam atau manusia, gue nggak menyia nyiakan kesempatan itu. Diam diam memperhatikan Mahesa dari jauh dan mengalihkan pandangan kalau dia mau noleh ke arah yang sama yang memungkinkan gue dan dia saling tatap, adalah kegiatan yang nyaris setiap hari gue lakukan, dan hal itu tanpa sadar membuat gue semangat ke sekolah.
Sayangnya, gue terlalu cuek dengan keadaan sekitar. Yang gue perhatikan cuma papan tulis, buku, dan Mahesa. Gue nggak sadar kalau apa yang gue lakukan ternyata ada yang memperhatikan, yaitu segelintir teman teman cewek.
Suatu hari saat kami sedang ganti baju setelah selesai olahraga, salah satu teman gue tiba tiba aja nyeletuk, "Pril, lo naksir sama Mahesa ya?"
Ditembak dengan pertanyaan yang gue nggak tahu kalau itu tepat sasaran, bingung lah gue. Panik, tapi berusaha tenang. Untung gue punya wajah tipe resting bitch face atau muka-muka datar minim ekspresi yang kelihatan kayak ngajak ribut mulu, jadi gue bisa menutupi kegugupan gue dengan mengatur ekspresi muka gue supaya nggak menunjukkan reaksi yang berlebihan. "Ngarang lo. Ngapain gue naksir Mahesa? Kayak nggak ada cowok lain aja yang bisa ditaksir."
"Emang ada?"
"Banyak. Na Jaemin kan bisa."
"Yang nyata, bego."
"Gitulah pokoknya, kepo lo. Gue nggak naksir ya sama Mahesa."
"Tapi lo bilang dia cowok yang paling ganteng di kelas."
"Terus? Lo, Dinar, Hani, sama Fani juga bilang hal yang sama, tapi emang kalian naksir sama Mahesa? Enggak kan? Nah, sama, gue juga kayak kalian. Kagum doang sama kegantengan dia."
"Ah, masa?" sahut Fani sambil terkekeh geli. "Lo mungkin nggak sadar ya, Pril, tapi beberapa dari kita tuh peka kali. Kita tau kalau lo sering ngelihatin Mahesa diem-diem. Entar kalau Mahesa mau natap ke arah lo, lo baru ngalihin pandangan dengan cara paling smooth, gue saksinya kalau lo nggak percaya."
"I-itu karena Mahesa ganteng doang. Dia keren. Gue suka pemandangan yang indah, suka sama orang-orang good looking, jadinya gue lihatin terus karena sia-sia kalau nggak dilihat. Hitung hitung cuci mata. Kayak nggak tau aja lo pada. Lo pada kan juga suka yang bening-bening."
"Plis, deh," Kali ini Dinar menyahut. "Gue suka sama yang bening-bening, tapi gue nggak ngelihatin Mahesa diem-diem nyaris tiap hari. Sedangkan lo? Gue perhatiin tiap hari kalau ada kesempatan selalu curi-curi pandang ke Mahesa."
"Lagian ya, Pril, yang ganteng di sini tuh bukan Mahesa doang. Noh, Aditya juga nggak kalah ganteng, ada Jeje, Gilang juga termasuk. Tapi kenapa yang lo perhatiin diam-diam cuma Mahesa?"
"Eng-enggak ... Enggak kok ... Gue kadang suka perhatiin Jeje diem-diem."
"Kapan? Lo aja eneg ngelihat tingkah Jeje yang kayak ulet bulu itu."
"Udah, lah, ngaku aja kalau lo emang naksir sama Mahesa. Nggak papa kok. Naksir sama temen sekelas tuh wajar. It's not a crime. Toh, Mahesa juga jomblo. Pepet, lah, Pril, jangan kasih kendor."
"Nggak jelas lo semua. Gue nggak naksir dia juga," balas gue berusaha denial di detik-detik terakhir, tapi kayaknya sebagian teman cewek di kelas gue udah nggak percaya sama taktik menampilkan wajah tanpa ekspresi di saat gue salah tingkah, buktinya mereka ketawa-ketawa sambil menggoda gue. Cie, cie, udah ada gebetan aja, gitu kata mereka. Gue cuma geleng-geleng kepala dan ngatain mereka halusinasi. Untungnya, bel istirahat pertama sudah berbunyi. Hal ini menyelamatkan gue dari serangan cewek-cewek brutal itu.
Beberapa yang lainnya ke kantin, tapi gue dan beberapa yang lain makan bekal di bangku masing-masing.
Kebetulan, gue sebangku sama Gia yang selalu bawa bekal. Gue juga udah langsung akrab sama dia. Udah kayak teman lama yang nggak sengaja ketemu.
"Widih ... Bawa nasi goreng, ya, Gi. Enak tuh kelihatannya. Mau coba punya gue? Gue bawa bakso nih." kata gue pada Gia setelah aroma nasi goreng menyentuh indera penciuman gue.
Gia mengangsurkan kotak bekalnya ke gue dan di sanalah gue ambil beberapa sendok. Karena Gia nggak kunjung mencicipi bakso buatan emak gue, gue kasih lah dia beberapa butir bakso kecil karena emak gue memang bawainnya agak banyak. "Enak, Gi, nasi goreng lo. Juara deh. Kenapa lo nggak jualan aja? Pasti laris."
"Lo naksir beneran sama Mahesa?" Nggak biasanya Gia nggak menjawab pertanyaan gue. Ditanya begitu, untung aja nasi goreng yang tadi gue comot dari Gia udah gue telan, kalau belum, mungkin bakalan ada adegan dimana gue keselek dan batuk-batuk kayak di film-film.
"Gi, lo percaya sama omongan anak-anak? Mereka kan suka cocoklogi. Kita aja baru kelas sepuluh, kecepetan kalau gue naksir anak sekelas. Kita tiga tahun bareng terus lho, sampai lulus, ya kali gue secepat ini naksir sama temen sendiri." Oh ya, Mahesa nggak ada di kelas. Dia selalu ke kantin atau nggak ke kelas temannya yang lain sekadar nongkrong dan ngobrol entah apa. Dia baru kembali ke kelas kalau bel masuk sudah bunyi.
Untungnya, jarak antara bangku gue dan bangku teman gue yang bawa bekal lumayan jauh, dan suara Gia juga sengaja dikecilkan, jadi gue seratus persen yakin kalau yang dengar obrolan ini cuma kita berdua.
"Berarti lo nggak naksir Mahesa?" tanya Gia lagi, kali ini sambil mengunyah bakso kecil yang gue kasih ke kotak bekalnya.
"Ya enggak, lah! Gila kali gue. Udah, udah, lanjut makan. Entar keburu masuk." Gue lanjut makan seolah nggak terjadi apa-apa, dan Gia kayaknya percaya karena dia juga ikutan makan.
Di tengah makan siang kami, tiba tiba Gia berbisik lagi, "Kalau lo nggak jadi naksir Mahesa, artinya gue boleh maju dong?"