"Menurut lo, gue harus chat apalagi ke Asep?" tanya Gia di jam istirahat pertama. Di saat kelas sedang sepi dan cuma ada segelintir anak yang menetap di kelas untuk makan bekal mereka. Dan yang lebih menguntungkan, nggak ada Mahesa di kelas sehingga kami leluasa membicarakannya.
Gue baru saja membaca percakapan singkat antara Gia dan Mahesa di direct messege instagramnya. Kesan pertama tentang Mahesa yang super cuek, cukup runtuh ketika tahu kalau Mahesa memang pendiam, tapi bukan dingin dan pelit bicara. Dia cuma bicara seperlunya, menanggapi sekenannya. Dia bersikap ramah kepada siapapun karena memang itulah yang sepatutnya dilakukan manusia untuk bisa menjaga hubungan baik dengan sesamanya.
Mahesa merespon pertanyaan Gia dengan jawaban yang tepat, bukan yang terlalu singkat sampai lo butuh dukun untuk menerawang maksudnya apa. Bukan juga balasan yang minim huruf vokal sampai lo harus bertapa di goa purba untuk mengartikan maknanya. Dia menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Santai, dan entah kenapa walaupun itu cuma ketikan, gue menangkap nada tenang dari balasan Mahesa. Nggak ada kesan yang berlebihan. Nggak ada gombalan-gombalan yang dilemparkan lelaki itu maupun oleh Gia. Entah karena ini chat pertama mereka dan gue belum melihat Mahesa sepenuhnya, atau memang Mahesa yang nggak bisa flirting, gue nggak tau. Gue nggak bisa membaca Mahesa sedalam dan sejauh itu hanya dengan melihat chat pertama Gia dan cowok itu.
"Gi, jawab jujur, ya. Ini pertama kalinya lo pedekate sama cowok?"
"Enggak sih, bukan yang pertama kalinya juga. Gue udah dua kali pedekate sama cowok waktu gue masih SMP kelas 2, dan dua-duanya nggak pernah berakhir jadian, which is gapapa sih, gue bisa ngerti. Dua cowok sebelumnya tuh kelakuannya bisa ketebak, Pril, karena mereka aktif di kelas. Mereka suka ngelawak, mereka suka asbun, supel, dan pintar nyari topik obrolan dan gombalan-gombalan buaya. Tapi Asep tuh... beda. Doi misterius, dan lowkey banget. Dia cowok paling normal di antara cowok-cowok lain di kelas ini. Lo setuju, kan?"
Gue hampir saja mengangguk, tapi untungnya gue berhasil mengendalikan otot-otot leher gue untuk nggak menggerakkan kepala sembarangan. Alih-alih langsung menjawab, gue memilih diam dan menganalisis asumsi Gia.
Memang, sih, yang dia bilang tentang Mahesa ada benarnya. Tulisan tangan Mahesa bahkan yang paling rapih di antara cowok lainnya di kelas kami, bahkan beberapa teman cewek gue, termasuk gue sendiri, nggak bisa serapih dia.
Dia juga tipe cowok yang lurus lurus aja. Maksudnya, dia menolak ajakan salah satu temannya untuk merokok diam-diam entah di dalam atau di luar sekolah, dia nggak pernah kelihatan ngantuk di mata pelajaran apapun--membuat gue bertanya-tanya apakah dia punya kekuatan ajaib untuk membuat matanya melek di pelajaran-pelajaran tertentu yang kami semua setuju itu membosankan, seperti sejarah dan ekonomi, misalnya.
Dia selalu mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat waktu, dan nggak pernah kelihatan nyontek saat ada kuis dadakan. Pembawaan Mahesa selalu tenang, dan mungkin itu yang membuatnya terkesan misterius dan nggak ketebak.
Gue bahkan nggak bisa membayangkan gimana kalau Mahesa lagi marah. Apakah dia tipe yang meledak ledak, diam, atau menjelaskannya dengan kepala dingin.
"Pril? Kok lo ngelamun sih?" tanya Gia, membuat gue kembali lagi ke realita.
"Kayaknya jangan terlalu sering ngechat Asep deh, nanti dia risih sama lo. Mungkin dia nggak akan bilang secara langsung kalau dia risih, tapi siapa tahu dia nunjukin itu semua lewat responnya terhadap chat lo atau perilakunya ke elo yang agak berubah," ucap gue menjabarkan. "Kalau dua gebetan lo sebelumnya senang-senang aja ada cewek yang ngechat dia, si Asep belum tentu. Dari pembawaannya yang tenang, gue rasa dia lebih suka dikasih jeda dan ruang buat dirinya sendiri. Ingat, lo cuma pedekate. Belum tentu jadian juga, jadi jaga jarak dan tahu diri itu penting. Bahkan menurut gue, lo juga harus menetapkan garis batas antara lo sama Asep."
Gue tahu kalau Gia bukan tipe orang yang gampang tersinggung kalau dikasih kritik dan saran sekalipun bahasanya frontal, jadi gue merasa agak bebas mengutarakan secara jujur pandangan gue tentang situasinya. Dan untungnya, Gia nggak ngambek dengan respon gue.
"Garis batas ini ... Kayak batasan apa aja yang nggak boleh gue langgar supaya gue nggak mengganggu Asep?"
Gue mengangguk mantap sekaligus menjentikkan jari. "Betul banget! Lo yang ngerasain, lo yang ngalamin, jadi gue rasa elo yang paling paham batasan-batasan itu apa aja."
"Tapi, Pril, emang kita tetap bisa deketin orang yang kita suka kalau belum dekat aja kita udah menetapkan batasan?"
Wah, sialan. Nih cewek mungil rasa penasarannya tinggi juga ya. Nggak kebayang kalau Gia jadi anak gue di masa depan. Kayaknya gue bakalan baca banyak buku tentang cara menjawab pertanyaan anak deh.
"Justru karena ini masih pendekatan, menurut gue--sekali lagi ini menurut gue ya, penting buat kita menetapkan batasan. Kenapa? Pertama, supaya kita bisa ngejaga ekspektasi kita biar nggak ketinggian. Itu penting banget karena ngaruh ke suasana hati alias mood kita ke depannya. Kedua, supaya kalau doi ngasih tanda-tanda dia nggak tertarik sama kita, kita bisa langsung mundur. Ya, kan? Karena kita udah menetapkan garis batasnya dimana nih. Kalau kita kelewat batas, kita udah terlanjur masuk ke dunianya, bisa aja kita jadi nggak bisa baca tanda-tanda itu, atau kita mengabaikannya karena terlalu berharap jadian sama doi. Ketiga, supaya nggak kecewa-kecewa amat. Patah hati, kalau kata orang sekarang mah. Kalau kita udah tahu batasannya sampai mana, kayaknya kita nggak bakalan bertindak lebih. Ibarat kata, kalau gayung lo nggak bersambut, lo nggak akan jatuh terlalu dalam karena penolakan. Kenapa? Karena lo udah menetapkan batasan sedari awal."
Gia nggak langsung merespon. Dia memandangi gue cukup lama sampai dia nggak kedip. Gue yang takut kalau tiba-tiba Gia ketawa ala Mbak Kunti, langsung mencoba menyadarkannya dengan menggoyang-goyangkan bahunya, berusaha membuat Gia sadar dan kembali ke realita.
Tiba-tiba dia sadar dan bilang, "Sekarang gue tau kenapa pembaca lo ngaku baper pas baca cerita-cerita yang lo tulis. Lihat aja bentukan lo, udah kayak dokter cinta, tapi gue setuju sama pendapat lo sih." Gia mengangguk-angguk dan kembali melanjutkan kegaiatan makannya. "Terus, kapan waktu yang tepat buat ngechat Asep?"
"Cukup sesekali bales story kalau dia bikin story di instagram. Jadiin dia kayak teman biasa aja, Gi, supaya lo nggak menganggap ngobrol sama dia adalah beban, tapi lo harus tahu kalau dia bukan teman biasa. Dia adalah teman dimana lo melibatkan perasaan dan mengabaikan logika lo di sana, jadi tetap harus punya batasan."
"Wah, gila sih. Kayaknya kalau ada jurusan cinta-cintaan, lo bakalan lulus dengan predikat cumlaude. Dapet pemikiran kayak gitu dari mana sih?"
"Feeling doang. Gue kan suka ngarang. Makanya jangan percaya seratus persen sama apa yang gue bilang."
"Termasuk elo yang denial suka sama Asep juga?"
"Gi, gue balikin ya nih Bumi kalau lo masih nuduh gue suka sama doi!"
Gia terkekeh-kekeh dan mengacungkan dua jarinya sambil bilang, "Peace, men, peace."
....
Ekskul adalah salah satu kegiatan wajib yang harus kami pilih saat itu untuk menambah nilai di bidang non akademik. Banyak teman sekelas gue yang ikut paduan suara dan PMR karena dua ekskul itu nggak terlalu mencolok dan nggak terlalu banyak kegiatannya, sehingga waktu bersantai mereka lebih banyak.
Satu-satunya ekskul yang bisa gue ikuti saat itu hanyalah jurnalistik karena gue suka nulis. Sebenarnya gue mau gabung ekskul teater, tapi di sana gue harus bermain peran, sementara gue lebih suka bekerja di balik layar karena terlalu malu menunjukkan diri. Sementara itu, Gia bergabung dengan ekskul tari tradisional karena dia memang suka nari. Dia bahkan udah tahu setelah lulus SMA nanti harus masuk kampus dan jurusan apa, yang jelas, nggak akan jauh-jauh dari tari.
Hari ini gue ada rapat untuk meliput beberapa ekskul yang mencetak prestasi. Dan tugas ini diberikan kepada anak-anak kelas 10 seperti gue sebagai bagian dari bentuk pengenalan ekskul. Kami yang ditugaskan meliput harus mengambil lotre yang diacak supaya adil, dimana lotre itu udah tertulis ekskul mana yang harus kami liput untuk dimuat di website jurnalistik. Dan gue dapat bagian untuk meliput ekskul film, yang mana Mahesa bergabung di dalamnya.
Tangan gue langsung dingin saat membaca tulisan "ekskul film" di kertas lotre yang gue ambil sendiri. Nggak ada gunanya juga berusaha menyogok teman gue untuk menukar kertas lotrenya, karena setiap lotre yang kita dapat bakalan langsung dicatat di papan tulis, jadi semua anggota jurnalistik tahu adik-adik kelasnya bakalan meliput ekskul mana saja.
Setiap ekskul akan diliput oleh dua orang. Satu orang bertugas sebagai penanya dan yang satu bertugas sebagai penulis transkrip wawancara.
Tenang, yang gue wawancarain langsung bukan Mahesa karena dia masih anggota baru dan belum punya karya alias masih proses pengenalan juga, sehingga yang gue wawancarai cukup kakak kelas yang tergabung dalam sebuah tim yang ikut serta di kompetisi film pendek dan menang juara 1. Teman gue, Kinan, bertugas sebagai penulis transkrip dan dokumentasi.
"Dikunci ya, Nan?" tanya gue ketika kami berdua sampai di depan ruangan klub film.
"Iya nih. Apa semuanya udah pada pulang ya? Kita nggak terlambat kok. Tadi janjian sama Kak Mitha kan memang pulang sekolah." jawab Kinan kemudian berusaha mencoba mengintip ke dalam ruangan ekskul itu dan nihil. Nggak ada orang sama sekali.
"Ya udah, Nan, mungkin Kak Mitha masih ada urusan. Kita tunggu aja. Nanti kalau kelamaan, baru kita kabarin lagi." Gue memberikan usul dan Kinan pun mengangguk setuju. Kinan duduk di lantai, sementara gue berdiri mondar-mandir sambil mengecek kembali daftar pertanyaan yang sudah fix akan gue tanyakan pada Kak Mitha.
Suara langkah kaki bersepatu membuat gue dan Kinan menoleh. Mata gue berusaha biasa aja walaupun sebenarnya jantung gue berasa kayak lompat dari tempatnya berada kala yang berjalan ke arah kami adalah Mahesa yang kelihatan santai dengan kunci ruangan ekskul film yang dia main-mainkan di tangannya.
"Nunggu Kak Mitha?" tanyanya begitu sampai di hadapan kami.
"Iya. Kak Mitha bisa, kan?" tanya Kinan. Untunglah gue punya teman sekelompok yang supel.
"Bisa, tapi disuruh tunggu sebentar soalnya Kak Mitha lagi ada urusan sama kelompoknya di kelas." Mahesa menjawab kemudian membukakan pintu ruangan itu dan mempersilakan kami untuk masuk. Ia lalu menyuguhkan air mineral dalam kemasan plastik pada kami dan ia mulai mengeluarkan laptop, kelihatan sibuk di balik benda itu, sementara gue pura-pura sibuk dengan ponsel, padahal hanya menggulir unggahan orang-orang random di instagram.
"Aduh, gue kebelet pipis! Pril, bentar ya, gue ke toilet dulu."
"Eh, gue ikut!"
"Lo mau pipis juga?"