Beberapa bulan setelahnya, nggak ada hal yang berubah antara Gia dan Mahesa, sebagaimana nggak ada yang berubah antara gue dan Mahesa.
Hari-hari gue masih dipenuhi dengan tugas, ekskul, ulangan harian, ujian sekolah, Gia yang memuji Mahesa di depan gue, dan otak gue yang masih diisi sama cowok itu hampir setiap malam.
Kadang gue ingat tentang betapa kerennya Mahesa saat pakai jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya yang kontras dengan warna kulitnya yang putih, Mahesa yang main bola bersama anak-anak kelas di sisa jam pelajaran olahraga, Mahesa yang masih disibukkan dengan projek-projek film pendeknya dengan gue sebagai editor dadakan untuk skenario yang dia tulis, Mahesa yang fokus dengan kamera untuk mengambil gambar dan footage untuk projek film pendeknya, Mahesa yang tiba-tiba ketiduran di jam kosong pelajaran lintas minat Fisika dan difoto oleh salah satu teman kami kemudian disebarkan di grup kelas yang membuat dia hanya meresponnya dengan emoji tertawa, Mahesa yang kadang bengong entah memikirkan apa, Mahesa yang lagi fokus dengerin penjelasan guru di depan kelas, Mahesa yang fokus ngerjain tugas, Mahesa yang mendengarkan teman sekelompoknya mengutarakan pendapat, Mahesa dengan menu andalannya ketika di kantin, yaitu nasi soto, Mahesa yang lupa bawa jas hujan dan membuatnya harus basah kuyup ketika meninggalkan parkiran sekolah, Mahesa yang memberi tumpangan pada salah satu teman ekskul atau teman sekelasnya karena nggak dijemput, dan Mahesa-Mahesa yang lain yang cuma bisa gue perhatikan dari jarak tertentu dan sebisa mungkin dia nggak tahu kalau gue perhatiin dalam diam.
Sekarang, setiap lagu yang gue dengar di radio, mendadak semuanya tentang Mahesa. Lagu sedih, lagu senang, yang terlintas di pikiran gue ketika dengar lagu-lagu itu cuma dia.
Walau semuanya udah tentang Mahesa, gue masih tetap sama, nggak berani mengikuti akun instagramnya, pun nggak ada rejeki nomplok dimana Mahesa tiba-tiba mengikuti akun instagram gue. Story instagram gue nggak pernah dengan sengaja atau nggak sengaja dilihat oleh akunnya walaupun gue hampir selalu melihat story instagramnya.
Garis batas yang gue bangun supaya nggak kelewat batas di hadapannya masih menjulang tinggi. Dan gue benar-benar mematuhinya. Gue bahkan nggak ngajak Mahesa ngobrol di luar kepentingan sekolah, nggak peduli seberapa inginnya gue kayak yang lain, yang bisa ngobrolin dan menertawakan apa aja dengan Mahesa. Bahkan Gia bisa melakukannya, dia semakin luwes ada di dekat cowok itu. Udah bisa menguasai diri dan nggak terlalu menunjukkan kalau dia salah tingkah.
Suatu hari, salah satu teman sekelas gue nanya. Namanya Fani.
"Gia itu ... Kayaknya suka deh, Pril, sama Mahesa." Dia memberi pernyataan yang walau terkesan seperti asumsi dan perkiraan, tapi sebenarnya adalah kenyataan yang cuma gue sama Gia yang tahu. "Emang dia nggak pernah cerita soal itu? Kali aja dia cerita, kan, kalian temen sebangku."
"Kenapa?"
"Nggak papa, sih. Cuma ... Terkesan agak gimana gitu. Agak ... Kurang etis? Dia nggak paham sama aturan nggak tertulis dalam pertemanan ya? Kalau lo nggak boleh suka sama cowok yang ditaksir sama teman lo. Kayaknya dia nggak paham itu, Pril. Atau dia emang nggak peka aja. Eh, atau ... pura-pura nggak peka sama perasaan lo ke Mahesa?"
Saat itu di toilet perempuan memang cuma ada gue dan Fani. Gia kebetulan ada acara kumpul ekskul. Saat itu Fani minta ditemani pipis sekaligus touch up.
"Gue nggak ada perasaan apa-apa sama Mahesa, stop berasumsi yang enggak-enggak. Dan satu lagi, kalaupun Gia suka beneran suka sama Mahesa, dan katakanlah asumsi lo benar tentang gue yang naksir cowok yang sama dengan Gia, memangnya kenapa? Emang lo nggak pernah, Fan, naksir cowok yang sama dengan temen lo? Jangan ngerasa yang paling ini-itu deh."
Fani hanya diam dan mengangkat bahunya ringan, seolah nggak ambil pusing dengan apa yang gue katakan. Gue harus akui mental dia baja sih untuk ukuran orang yang ingin selalu tahu urusan orang lain. Tapi untungnya, hubungan gue dan Fani nggak merenggang gara-gara kejadian itu. Karena kalau merenggang, gimana bisa kita kerja sama kalau kebetulan ada di kelompok yang sama?
Gue juga bingung sama diri sendiri. Hampir nggak menemukan jawabannya kenapa gue harus denial setiap kali ditanya sama beberapa teman cewek sekelas atau bahkan Gia yang notabennya adalah teman dekat gue, tentang perasaan gue ke cowok itu. Tapi gue nggak bisa kalau nggak denial. Itu tuh udah kayak otomatis aja.