Semalam, Mahesa sudah mengirimkan template skenario film yang pernah dia bikin ke grup yang beranggotakan gue, Velly, dan Dhika. Katanya, kami boleh pakai template itu sebagai acuan. Yang penting, kami tulis aja skenarionya, kalau udah jadi, bisa langsung dikirim ke Mahesa dan dia bakalan bantu ngecek sekaligus memberikan masukan untuk editing.
Rencananya, film pendek ini bakalan ada empat segmen. Gue mengerjakan segmen satu, Velly segmen dua, Dhika segmen tiga, dan Mahesa mengajukan diri secara sukarela untuk mengerjakan segmen empat. Setelah selesai nanti, kami kumpulkan ke grup dan Dhika yang akan menyatukan semua segmen itu ke dalam skenario film yang utuh untuk kemudian dikirim kepada Mahesa.
UAS kami berjalan cukup lancar. Kami duduk dengan kakak kelas 11 IPS 4 yang duduknya sesuai urutan absen. Untungnya, gue sebangku dengan kakak kelas cewek, jadi nggak terlalu canggung. Gia dan gue satu ruangan, sementara Mahesa ada di ruangan sebelah.
Beberapa kegiatan ekskul tetap jalan, salah satunya adalah ekskul gue. Selesai UAS nanti, gue ditugaskan untuk meliput tim marching band sekolah yang baru saja menang lomba marchig band se-Asia Tenggara yang diadakan di Thailand sekian minggu yang lalu sebelum UAS.
Karena di ekskul jurnalistik ini gue cukup dekat dengan Kinan, maka setiap tugas meliput gini biasanya gue selalu ditugaskan bareng dia. Kali ini Kinan yang bertugas mewawancarai tim marching band kami, sementara gue bagian dokumentasi dan penulisan transkrip wawancara.
Saat melewati ruang ekskul film, Kinan menghentikan langkahnya karena sedang ngobrol dengan seseorang di sana, jadi gue memutuskan untuk menunggu sambil main hape sekadar untuk mengecek perkembangan novel online yang gue bagikan di platform khusus nulis dan baca novel online. Gue cukup senang karena ada penambahan jumlah pembaca pada karya terbaru yang gue unggah dua bulan yang lalu. Karena itulah gue nggak sempat memperhatikan siapa yang diajak ngobrol oleh Kinan.
"Nanti pulang bareng gue aja, Ki."
"Beres. Sekalian mau beli kuenya, kan?"
Gue menghentikan sejenak kegiatan itu ketika telinga gue menangkap suara yang mirip banget sama Mahesa.
Gue juga nggak ngerti kenapa semenjak naksir cowok itu, gue jadi lebih peka sama kehadirannya. Kayak... Misalnya dia lagi jalan di belakang gue. Tanpa gue harus noleh ke belakang, dari suara jalannya yang agak diseret sehingga alas sepatunya bergesekan dengan lantai paving koridor sekolah kami, gue tahu kalau itu adalah Mahesa. Dan sekarang, gue udah mulai hapal dengan suaranya yang khas.
"Iya. Gue lupa mau pesen, jadi nanti beli yang udah jadi aja. Nanti beli kadonya sekalian."
Suara itu lagi. Gue menoleh dengan gerakan slow motion biar nggak terkesan pengin tahu banget soal percakapan mereka, dan mata gue hampir aja membulat sempurna ketika mendapati orang yang diajak ngobrol sama Kinan betulan Mahesa.
Wow, teori konspirasi macam apa lagi ini? Kayaknya Gia belum tahu deh.