Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #5

Chapter 5

Proses syuting film pendek kami berjalan dengan lancar. Gia jadi pemeran utama tokoh aku yang di akhir akan confess soal perasaannya ke orang yang dia suka, yang mana laki-laki itu bakalan diperankan oleh Jeje. Mereka jadi banyak menghabiskan waktu berdua untuk bisa membangun kemistri, dan di saat beberapa anak mulai menggoda kedekatan mereka berdua, Gia mencak-mencak karena nggak suka dijodoh-jodohin sama Jeje karena cowok itu walaupun ganteng, tapi kelakuannya nggak jelas.

Pernah suatu ketika, Jeje ketiduran saat syuting sedang dilakukan. Gia ditugaskan untuk membangunkannya, tapi karena nggak berani sendirian, dia ngajak gue. Dan betapa terkejutnya Gia sampai dia teriak dan lari keluar kelas meninggalkan gue yang nyaris mati berdiri karena kaki gue nggak bisa digerakkan untuk kabur saat melihat Jeje yang tidur dengan mata terbuka. Beneran dengan mata terbuka!

Gue memang tahu ada segelintir orang yang tidur dengan mata terbuka, tapi gue sama sekali nggak nyangka kalau orang seperti itu akan gue temui di kelas gue sendiri!

Saat itu karena takut Jeje kesurupan, gue siram aja dia pakai sisa air mineral entah punya siapa, dan barulah dia terbangun gelagapan sambil latah, “Banjir? Banjir? Mana banjirnya?”

“Syuting, Je, syuting! Malah molor!” kata gue setelah merasa kalau Jeje sudah melek seutuhnya, walaupun nggak ada bedanya sih antara dia melek saat tidur dan saat bangun.

Jeje cuma cengengesan dan tiba-tiba aja menjelaskan tentang betapa ajaibnya dia saat tidur, yang sejak kecil memang tidur dengan keadaan mata yang terbuka.

Peran gue ketika syuting projek film pendek ini cuma bantu-bantu kru lain kalau mereka lagi butuh bantuan karena tugas utama gue memang udah selesai.

Soal Mahesa dan Kinan yang ternyata adalah teman sejak kecil, cuma gue doang yang tahu. Gia belum tahu dan gue masih berpikir apakah harus memberitahunya setelah UAS atau nggak karena gue lebih pengin dia lihat sendiri kedekatan mereka.

Untungnya, di hari terakhir syuting, ada kelasnya Kinan yang juga syuting di sekolah dan dia kelihatan ngobrol sama Mahesa saat istirahat berlangsung. Dari sanalah Gia mengajak gue ke sudut lapangan yang sepi dan memperhatikan kedekatan mereka berdua dari jauh.

“Cewek itu kalau nggak salah satu ekskul sama lo, kan, Pril? Siapa namanya?”

“Kinan.”

“Dia emang dekat sama Mahesa?”

“Kalau udah ngobrol berdua dan kelihatannya asik banget gitu, berarti deket, Gi. Kalau penasaran, lo tanya aja sama Mahesa,” balas gue agak ogah-ogahan.

Badan dan otak gue udah capek karena syuting ini, ditambah harus melihat kedekatan mereka berdua yang jadi bahan pembicaraan di segelintir anak-anak sekelas gue, capeknya jadi dua kali lipat. Gue malas sebenarnya meladeni pertanyaan Gia, tapi kalau gue memperlihatkan sikap yang ogah-ogahan, gue takut dia curiga dan tahu kalau sebenarnya gue udah tahu duluan tentang Kinan dan Mahesa, tapi memilih untuk nggak ngasih tahu Gia sampai dia lihat sendiri aja.

Paham kan maksud gue gimana? Emang kadang tuh hubungan antar manusia bisa serumit ini, men, percayalah.

“Nggak mungkin, lah, gue nanya kayak gitu ke Asep, nanti dia malah risih. Eh, tapi... mereka jadian? Atau gimana?”

“Nggak tau, Gia, nggak tau! Lo nanya ke gue seolah gue ini tahu banget soal Mahesa. Gue bukan emaknya!” Nada bicara gue jadi naik dan itu membuat Gia kaget.

Malas kalau harus diberondong oleh pertanyaannya tentang perubahan sikap gue, gue memilih pamit ke toilet, walaupun sampai sana gue cuma cuci muka dan mengumpat. Rasanya gue pengin cepat-cepat pulang. Lagian kenapa sih jadwal syuting kelasnya Kinan dan gue bisa samaan gini?

Sisa syuting hari terakhir itu berjalan dengan nggak nyaman buat gue pribadi karena gue sama Gia jadi agak canggung. Gia kelihatan sungkan mau ngajak gue ngobrol lagi, gue pun sama. Sehingga hari itu kami berdua lebih banyak diam, padahal biasanya kami banyak ngomong dengan yang lain. Untungnya, karena semua juga udah capek, jadi nggak ada yang menyadari perubahan hubungan gue dan Gia.

Setelah selesai syuting, Adnan berencana mengajak kami semua untuk makan-makan di rumahnya sebagai bentuk apresiasi ke anak sekelas yang udah mau diajak kerja sama sehingga projek ini selesai tepat waktu. Kata mereka, Maminya Adnan memang jago masak sekaligus pemilik rumah makan terkenal, makanya saat Adnan bilang begitu, nggak ada satu pun dari kita yang menolak.

Walaupun sebenarnya gue capek banget dan pengin langsung pulang lalu istirahat, tapi karena Mahesa ikut, gue mendadak punya semangat dan alasan untuk ikut. SIal, gini amat ya kalau naksir sama teman sekelas.

Acara makan-makan di rumahnya Adnan sore itu berjalan lancar seperti pada umumnya. Semuanya normal sampai si kampret Alvin menyerukan ide yang kekanakan, yaitu main truth or eat spicy. Dia sengaja menaruh dua bungkus keripik kaca pedas di tengah-tengah beberapa anak sekelas ikut dan sudah membentuk lingkaran (keripik kaca ini dibuat dari singkong yang dipotong super tipis sampai membentuk kayak plastik kemudian digoreng dan dicampur chili oil).

Gue udah mau kabur, tapi ditahan-tahan sama Gilang dan Jeje, duo buaya air tawar di kelas gue. Sialnya, di luar hujan deras dan gue lupa bawa jas hujan. Bagus. Dumb ways to die ini namanya.

Menit-menit awal permainan sinting ini, gue masih aman. Bahkan Mahesa juga masuk jajaran anak-anak yang masih aman. Di menit pertengahan, beberapa anak mulai dapat gilirannya, termasuk Gia dan Mahesa.

Dari tempat gue duduk, gue bisa lihat kalau cewek itu berusaha untuk nggak gugup karena takut dapat pertanyaan yang aneh-aneh. Gue tahu Gia lagi berdoa supaya dia nggak dapat pertanyaan tentang Mahesa, dan bener aja. Pertanyaan buat Gia bukan tentang Mahesa, tapi tentang Jeje.

Findy mengajukan pertanyaan sederhana tapi mematikan untuk Gia, “Gi, kalau Jeje nembak lo, lo bakalan terima dia nggak?”

“PERTANYAAN MACAM APA, ANJIR!!” kata Jeje dengan mata yang membelalak kaget. “Fin, gue tandain lo ya, Fin! Gue nggak akan pulang kalau Findy belum kena! Mau nanti ini permainan dilanjut di rumah siapa kek, gue jabanin!” kata Jeje entah bercanda atau serius karena bener-bener nggak ada yang bisa lo percaya dari ucapan dan perilaku buaya air tawar ini.

Gue tahu kalau Gia nggak bisa makan pedas, tapi untuk pertanyaan ini harusnya dia bisa jawab dengan gampang karena dia kelihatan nggak suka sama Jeje.

“Nggak. Nggak bakalan gue terima.” Kan. Apa gue bilang? Pertanyaan ini terlalu easy buat Gia.

Coba aja kalau pertanyaannya diganti jadi ‘Gi, kalau misalnya Mahesa nembak lo, lo bakalan terima nggak?’ Dia pasti pilih makan keripik kaca super pedas itu walaupun harus bolak-balik kamar mandi lima kali.

Serem ah permainan gila ini. Alvin juga cuma terkekeh seolah menikmati wajah-wajah nahan boker dari teman-temannya yang dapat pertanyaan mematikan dan harus pilih makan pedas.

Jantung gue rasanya mencelos sampai ke perut ketika botol air mineral itu mengarah ke gue tepat. Beberapa anak langsung bersorak, sementara gue yakin muka ini udah kayak udah nahan berak.

Lihat selengkapnya