Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #6

Chapter 6

Hari ini gue, Gia, Jeje, dan Alvin mau nonton bareng di salah satu bioskop yang ada di salah satu mal, tapi Gia nggak berangkat bareng Jeje. Dia berangkat bareng gue naik motor, begitu pula Jeje yang berangkat bareng Alvin. Kami berdua sampai lebih dulu, dan memutuskan menunggu Jeje dan Alvin di depan bioskop sambil lihat-lihat film apa yang seru untuk ditonton, yang sebenarnya ini hanya membuat gue kelihatan kudet alias kurang update sama film-film Indonesia dan Hollywood karena gue lebih mengikuti perkembangan drama Korea dan anime garapan studio Ghibli. Walaupun gitu, gue nggak perlu merasa rugi karena yang bayarin tiket gue adalah Gia, jadi gue memasrahkan semuanya ke dia perihal film apa yang akan kami tonton.

Lima belas menit kemudian, Jeje dan Alvin sampai. Jeje langsung mengernyitkan dahi ketika melihat gue berdiri di sebelah Gia.

“Gi, kan gue suruh lo ajak temen, kenapa lo ngajak Dora the Explorer? Dor, harusnya lo pulang Dor, waktunya syuting.” kata Jeje nggak jelas, sementara Alvin sudah terkekeh seperti kuda. Gue memang dapat julukan Dora dari Jeje karena rambut sebatas dagu gue yang lurus dan berponi.

Gue tersenyum sarkas dan membalas ucapan Jeje nggak kalah pedas, “Gimana gue nggak ada di sini? Orang Bootsnya lagi lepas kok!” kata gue sambil menunjuk ke arah Jeje menggunakan dagu.

“Anjir, gue kira Boots yang lo maksud tuh Gia,” sahut Alvin yang membuat gue makin pengin nendang dia sampai ke Mars.

“Gi, gimana? Lo udah tahu mau nonton apaan?” tanya Jeje kemudian.

“Terkesan gue yang ngajak lo jalan, ya,” balas Gia yang membuat gue dan Alvin bertos ria sambil menertawakan wajah Jeje yang mirip orang nahan hasrat buang air besar.

Jeje berdeham kecil dan mulai sok sibuk memilih film mana yang ingin kami tonton. “Nonton ini aja deh. Captain America: Civil War. Gimana?” tanya Jeje sambil menatap kami bertiga.

“Gue bebas, gue nggak terlalu ngerti film-film Hollywood.” kata gue santai sembari memasukkan kedua tangan di saku jaket yang gue kenakan.

Gia dan Alvin menyetujui ajakan Jeje untuk nonton film itu karena setahu gue, memang cuma mereka bertiga yang ngikutin film-film Marvel. Oh, Mahesa juga deng. Dari mana gue tahu? Karena gue pernah lihat Jeje, Alvin, dan Mahesa ngobrolin Marvel dimana Gia mupeng pengin gabung, tapi menahan diri karena di sana ada Mahesa. Dia takut salah tingkah katanya. Ya elah, tepok jidat deh gue!

Setelah memesan tiket plus snack dan minumannya, kami pun masuk dan mencari kursi sesuai dengan nomor tiketnya. Emang Jeje agak gila ya, dia tuh memilih kursi yang cukup dekat dengan layar bioskop, membuat layar itu terkesan mengisi seluruh pandangan kami.

Tadinya, gue pikir Jeje bakalan pesan kursi dimana dia bisa duduk berduaan sama Gia doang dan sengaja membuang gue dan Alvin jauh dari peradaban bioskop, tapi ternyata enggak. Jeje duduk di sebelah Alvin, dan di sebelah Alvin adalah gue, dan yang paling ujung adalah Gia.

Entah dia sengaja membentuk formasi itu supaya mendapatkan kesan pertama yang bagus di mata Gia atau memang karena dia tahu cewek itu nggak nyaman, gue sendiri juga nggak tahu.

Dari arah pintu masuk, ada beberapa orang lagi yang berdatangan. Pandangan gue dan Gia secara kebetulan mengarah pada datangnya Mahesa dan Kinan yang duduk di barisan sebelah kiri kami dan posisinya hanya berjarak satu bangku di atas kami. Alvin dan Jeje saking sibuknya ngobrol tentang pertandingan bola, jadi nggak menyadari pemandangan itu, sama seperti Kinan dan Mahesa yang nggak menyadari kehadiran kami.

“Gapapa lo, Gi?” tanya gue sambil berbisik supaya Alvin nggak dengar, karena kalau dia dengar, bisa hancur dunia persilatan.

Lihat selengkapnya