Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #7

Chapter 7

Butuh sekian hari bagi gue untuk memproses semua yang terjadi di food court waktu itu karena gue masih malu ketika tiba-tiba nangis kejer hanya karena naskah gue dipinang sama penerbit (dan kebetulan Mahesa lagi jalan sama Kinan). Gue cuma berharap setelah liburan berakhir nanti, Alvin dan Jeje nggak koar-koar di kelas tentang apa yang menimpa gue karena kalau sampai itu terjadi, gue bakalan menggulung tanah yang mereka berdua pijak.

Setelah menerima tawaran untuk menerbitkan novel gue yang ketiga, gue punya punya waktu 1 bulan untuk menyelesaikan naskah. Kelihatannya memang gampang–tinggal copy paste aja dari novel online yang gue publikasikan di platform itu, tapi sebenarnya nggak sesederhana itu karena gue mau membuat novel fisiknya agak beda dan lebih berkesan dengan cerita yang lebih padat alias nggak perlu bertele-tele. Dan untuk mengalihkan perhatian gue dari pikiran tentang Mahesa dan Kinan, gue memutuskan untuk fokus mengerjakan naskah selama sisa waktu liburan itu, masih ditemani oleh siaran radio dengan lagu-lagu acaknya.

Suatu malam, Gia menelepon gue. Tanpa aba-aba, dia langsung bilang, “Kayaknya gue harus move on dari Mahesa, Pril.”

Okay? Ya … gapapa kalau memang itu keputusan lo.”

Terdengar helaan napas Gia di seberang sana. “Bukan kayaknya, tapi gue emang harus berhenti deketin dia. Feeling gue bilang kalau dia bakalan jadian sama Kinan nggak lama lagi. Dan sebelum gue terlalu jauh, gue mau mundur sejauh yang gue bisa. Bisa nggak ya?”

“Gue nggak tahu jawabannya, Gi, kan, lo belum nyoba dan hasilnya juga belum kelihatan. Biar waktu yang buktiin lo bisa move on dari Mahesa atau nggak.”

Gia lagi-lagi membuang napas pelan, “Bener juga.”

Kami saling diam selama sepersekian detik, sebelum akhirnya Gia kembali buka suara. “Waktu itu gue ikutan nangis karena lo nangis, dan juga karena gue memang pengin nangis saat itu, cuma gue tahan-tahan aja makanya gue banyak diem. Tapi gue beneran senang atas pencapaian lo, Pril. Gue bangga sebagai teman lo. Thanks ya, karena waktu itu lo secara nggak langsung ngasih gue kesempatan buat menangis dengan gaya.”

Kami berdua tertawa bersama.

“Seenggaknya gue nggak malu sendirian di depan Alvin dan Jeje.”

“Ah, iya. Dua serigala itu lagi,” keluh Gia sambil terkekeh pelan. “Awas aja kalau masuk sekolah nanti mereka koar-koar ke yang lain tentang kejadian itu, bakalan langsung gue botakin rambut mereka sampai botak plontos!”

“Terus kita adu mereka berdua! Kayak kelereng!”

Gue tertawa, dan Gia juga.

“Lo sama Jeje gimana? Masih chattingan?”

“Lumayan. Dan dia tetap aja jadi bocah nggak jelas. Tiba-tiba ngirimin link video lucu di instagram lah, ngatain gue lah, ngirimin meme lah.”

“Cowok humoris kalah sama cowok kalem ya, Gi, ceritanya?”

Gia mendengus geli, “Apaan sih lo! Mentang-mentang penulis jadi suka mendramatisir keadaan! Pril, nanti kalau novel lo udah terbit, gue harus jadi orang pertama yang beli dan baca.”

“Bagus, biar royalti gue nambah. Jangan lupa pajak jadian kalau beneran jadi sama Jeje.”

“Ngomong sama centong nasi!” balas Gia sambil tertawa ngakak. “Ya udah, gue udah dipanggil makan malam nih. Semangat nulis naskahnya, Pril! Kalau butuh apa-apa, kabarin gue ya. Jangan sungkan.”

“Gue nggak pernah sungkan sama orang yang bisa gue manfaatin.”

“Sialan lo emang!”

Kami tertawa sebelum akhirnya sama-sama menutup sambungan telepon.

Selama sisa liburan, gue akui memang hampir setiap malam begadang untuk mengejar deadline naskah novel karena gue mau novel yang ketiga berkualitas dan bikin pembaca nggak merasa sia-sia udah meluangkan waktunya untuk membaca.

Mungkin itu juga alasan terkuat kenapa pandangan gue mendadak buram dan samar-samar jadi makin gelap di saat upacara di awal masuk sekolah sebagai anak kelas 11 ini selesai dan barisan dibubarkan oleh pemimpin upacara.

Gue berusaha memanggil nama Gia untuk minta tolong memapah gue ke UKS, tapi gue nggak tahu apakah suara gue keluar atau nggak. Gue juga berusaha menggapai siapa aja yang berjalan di depan gue, tapi rasanya tangan gue nggak menyentuh apapun. Akhirnya, yang gue rasakan setelah usaha itu nggak berhasil adalah tangan dan kaki yang terasa perih ketika bersentuhan dengan lapangan upacara yang dilapisi oleh paving. Suara-suara di sekitar gue mendadak nggak bisa gue dengar dengan jelas. Semuanya jadi samar-samar dan buram, sebelum akhirnya semua jadi gelap dan hening.

Gue nggak tahu udah berapa lama gue pingsan, tapi yang jelas, ketika gue membuka mata dan berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk, gue bisa mencium aroma obat-obatan yang khas. Setelah pandangan gue mulai kelihatan jelas, gue sadar kalau lagi tiduran di salah satu kasur UKS.

Lihat selengkapnya