Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #8

Chapter 8

Walaupun masih belum tahu apakah gue mampu ngelupain Mahesa atau nggak, seenggaknya gue udah bisa masuk sekolah lagi, ngelihat cowok itu lagi.

Lo boleh menganggap gue terlalu meromantisasi semua hal di hidup gue, tapi selama seminggu istirahat di rumah doang dan nggak ketemu cowok itu, gue merasa ada yang kurang. Dulu ketika gue suka sama cowok-cowok lain sebelum Mahesa, gue nggak pernah merasa mereka adalah penyemangat gue untuk ke sekolah. Kehadiran mereka nggak ngaruh apa-apa ke gue. Tapi Mahesa secara nggak langsung bikin gue pengin masuk sekolah terus walaupun itu Sabtu atau Minggu.

Coba gue tanya sekarang.

Yang sinting tuh siapa sebenarnya? Gue atau Mahesa?

“Udah sembuh, Pril?” Gue yang lagi melamun sambil menatap papan tulis di hadapan gue mendadak langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Mahesa yang baru aja datang dan duduk di bangkunya.

“Udah.”

“Jangan keseringan begadang, Pril. Lo emang masih muda, jadi efeknya belum parah, tapi kalau udah 30 tahunan ke atas, baru deh berasa efeknya.”

Gue bisa dengar dengan jelas kalau apa yang dikatakan sama Mahesa adalah hal yang wajar banget untuk diucapkan ke teman lo. Ini bentuk simpati dia ke gue sebagai teman sekelasnya. Ini jelas bukan perhatian yang menunjukkan kalau dia suka sama gue. Gue tahu itu. Tapi kalau kalimat ini diucapakan sama orang yang lo suka, kedengarannya beda.

Kalau yang ngucapin Gilang atau Jeje, dengan nada dan kalimat yang sama persis, gue nggak akan baper dan menganggap ucapan mereka spesial apalagi sampai membiarkannya membekas di ingatan gue, tapi ini Mahesa. Mahesa, men! Orang yang gue taksir.

Jelas kalimat sederhananya ngasih dampak buat gue.

Buktinya, sekarang gue merasa jantung gue berdegub lebih kencang daripada biasanya. Gue mendengus pelan, merasa sebal sama diri sendiri karena mudah baper.

“Gue kayaknya udah gila beneran,” Gue pikir ucapan itu pakai nada pelan, ternyata pakai nada normal yang membuat Mahesa aja bisa dengar.

“Gimana, Pril?”

“Hah?” Gue yang gelagapan itu langsung menoleh ke Mahesa yang sama-sama bingung. “Gapapa. Gue ngomong sendiri. Eh, ya, thanks remindernya.” Gue berusaha tersenyum walaupun gue yakin kelihatannya konyol.

“Kalau gitu, gue keluar duluan ya."

“Mau ke kelasnya Kinan ya lo?” Gue juga nggak tahu kenapa kalimat ini lolos begitu aja seolah filter mulut gue ketinggalan di rumah.

Mahesa tersenyum dan menjawab, “Mau ke kantin. Mau nitip?”

“Nggak deh, makasih.”

Dia mengangguk dan benar-benar melenggang ke kantin.

Nggak lama setelah itu, Gia datang bersama Jeje. Mereka kelihatan kayak lagi ngomongin sesuatu entah apa. Gia baru meninggalkan Jeje setelah melihat gue udah masuk sekolah dan dia langsung menghambur ke gue kayak adik yang baru ketemu kakaknya.

Naskah gue pada akhirnya selesai tepat waktu dan langsung gue kirim ke e-mail kakak editor untuk dikoreksi.

Hari ini gue kembali dapat tugas untuk meliput pemenang cipta puisi dalam lomba FLS2N, sementara Kinan juga dapat tugas yang sama, tapi dia meliput pemenang desain poster karena sekolah kami memboyong empat kategori sekaligus dalam lomba itu, makanya hari ini kami harus kerja sendiri-sendiri.

Setelah selesai dengan tugas gue, masih ada sisa waktu sepuluh menit sebelum jam istirahat kedua berakhir.

Gue baru aja mau turun ke kelas gue yang ada di lantai satu, tapi pandangan gue yang kayaknya memang udah punya sensor tersendiri, memerintahkan kaki gue untuk berhenti sejenak ketika dari atas sini gue bisa lihat Mahesa bersama dua temannya lagi berhenti di sebuah poster di depan mading.

Sayangnya, gue nggak bisa lihat poster apa yang lagi mereka perhatikan dengan seksama sebelum akhirnya Mahesa mengambil foto poster itu dan melenggang pergi diikuti dua temannya.

Penasaran, gue pun menghampiri mading setelah memastikan bahwa Mahesa nggak ada di sekitar sana.

Ternyata, poster itu adalah pengumuman untuk kompetisi film pendek. Temanya masa muda. Menurut perkiraan gue, besar kemungkinan Mahesa bakalan ikut lomba itu sama anak-anak klub film.

Gue jadi bertanya-tanya siapa yang akan menulis skenario filmnya kali ini. Masihkah Mahesa atau temannya yang lain? Gue berharap dia yang nulis dan membahasnya bersama gue.

Tapi kemudian gue tahu kalau dia lagi dekat banget sama Kinan. Akhir-akhir ini gue bahkan lihat mereka berangkat dan pulang sekolah bareng. Bahu gue mendadak merosot lesu ketika tahu mungkin aja skenario film itu bakalan didiskusikan bersama Kinan, bukan gue.

Tapi, sejak awal kan gue memang bukan orang yang penting buat dia. Dan gue nggak boleh merasa penting.

...

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, seperti kebanyakan anak yang lain, karena kebetulan gue nggak ada agenda ekskul, jadi gue cepat-cepat mengemasi barang kemudian pulang. Langit udah mendung banget, gue malas kalau harus kehujanan di jalan. Bukan karena gue lupa bawa jas hujan, tapi gue takut sama petir.

Baru aja gue akan melangkah meninggalkan bangku, suara Mahesa yang udah gue hapal di luar kepala itu tiba-tiba memanggil nama gue.

“April,” katanya.

Gue bisa melihat beberapa cewek di kelas yang tahu kalau gue naksir sama cowok itu sekarang jadi menoleh hampir bersamaan. Dan tanpa aba-aba, mereka langsung bergegas meninggalkan kelas seolah kalau masih ada di sana, kehadiran mereka bakalan menganggu gue sama Mahesa. Mengernyitkan dahi, gue mencibir pelan. Apaan sih?

Akhirnya, gue berbalik dan sekarang udah berhadapan sama Mahesa yang tinggi banget. Gue yang sebatas dadanya mau nggak mau harus mendongak.

“Kenapa?”

“Gue rencananya mau ikutan lomba film pendek. Kebetulan gue disuruh nulis skenario filmnya. Boleh kan kalau nanti gue konsultasi sama lo?”

Ya boleh banget, lah!

Saat itu, gue mati-matian untuk nggak menampakkan senyuman yang terlalu lebar sehingga sudut-sudut bibir gue berkedut menahan senyum.

Lihat selengkapnya