Gue baru aja selesai membaca sekaligus mengoreksi skenario film bikinan Mahesa. Nggak berhenti gue muji keahliannya dalam nulis skenario film. Gue jadi bertanya-tanya sendiri, nanti kalau kuliah, apa dia mau masuk jurusan film ya? Karena menurut gue, dia punya bakat di bidang itu.
Buat orang yang terbiasa nulis novel panjang, nggak mudah buat gue membuatnya jadi sepadat skenario film. Dan apa yang ditulis sama Mahesa tuh temponya pas. Dia menempatkan bagian perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian, dan ending secara pas. Dan gue selalu percaya kalau orang yang ahli di suatu bidang, dia pasti bukan murni karena bakat doang, tapi diimbangi dengan latihan.
Misalnya si A mau jadi penulis. Menurut gue, nggak cukup dia hanya mengandalkan bakat. Dia harus latihan nulis dan baca banyak buku. Dia harus latihan nulis berbagai macam genre dengan berbagai macam sudut pandang.
Latihan entah nulis novel, novela, cerpen, prosa, puisi, atau bahkan essay. Kalau cuma mengandalkan bakat tanpa latihan, menurut gue si A nggak bisa jadi penulis. Mungkin bisa, tapi dia nggak akan bertahan lama. Dia nggak akan mengeluarkan karya-karya selanjutnya.
Melihat Mahesa yang udah lumayan jago bikin skenario film, gue jadi berpikir sendiri gitu. Kira-kira kapan dia mulai nulis skenario film?
Gue jadi pengin ngobrol banyak sama dia. Walaupun kelihatannya pendiam dan kalem, gue yakin dia orang yang asik.
Masalahnya cuma satu. Keinginan gue nggak dibarengi dengan keberanian. Ibarat kata keinginan gue 80, tapi keberanian gue nggak sampai 10.
Hari ini gue sengaja berangkat lebih pagi karena biasanya memang Mahesa berangkat pagi. Untuk pertama kalinya, gue pengin memberanikan diri ngobrol sedikit lebih panjang dari biasanya.
Tebakan gue benar. Sepuluh menit setelah gue datang, dia datang.
"Udah selesai, nih," kata gue sambil menyodorkan skenario film yang nggak terlalu banyak coretan itu kepada Mahesa. Dia meletakkan tasnya dan menghampiri meja gue.
"Nggak banyak coretannya ya, Pril." katanya sambil mengecek skenario yang dia bikin.
"Soalnya menurut gue memang nggak banyak yang harus lo revisi. Temponya udah pas."
"Syukur deh kalau gitu. Thanks ya."
"Lo ... Emang suka banget sama film ya?"
Diam-diam gue berharap nada bicara gue yang memang judes ini nggak terdengar sinis di hadapan Mahesa. Gue nggak mau dia merasa lagi menghadapi sidang skripsi kalau ngobrol sama gue.
Dia mengangguk. "Karena dari kecil memang udah dikenalin film sama Papa. Dia koleksi kaset film lumayan banyak."
"Gue rasa lo punya bakat deh, Hes, di bidang ini. Dan gue yakin ini bukan skenario kedua yang lo bikin. Sebelumnya, lo pasti udah nulis banyak banget skenario film."
"Kok tahu, Pril?"
"Kelihatan. Dari skenario pertama yang lo diskusikan sama gue pun gue bisa lihat kalau lo udah terbiasa nulis. Secara teknik, lo paham. Terus juga, lo bisa menceritakan apa yang mau lo ceritakan. Ide yang lo punya, lo bisa ngejabarin itu dengan bagus. Jadi, lo pasti udah banyak latihan sebelumnya."
"Lumayan," Mahesa mengangguk. "Dari SMP gue iseng nyoba nulis skenario film atau sketsa-sketsa pendek, terus gue rekam bareng temen-temen dan diupload di youtube. Tapi sekarang belum aktif lagi di sana."
"Oh, ya? Lo sempat aktif di youtube? Wah, keren juga."
"Iseng," katanya sambil tersenyum.
"Udah berapa banyak yang lo tulis? Kayaknya lumayan banyak ya."
"Nggak pernah ngitung," balasnya.
"Berarti banyak." Gue menyimpulkan. "Entar lo kuliah mau ambil jurusan film?"
"Besar kemungkinan sih." Dia mengangguk-angguk. "Lo gimana? Mau ambil sastra?"
Gue menggeleng sambil membuang napas pelan, "Nulis kayaknya nggak bisa gue jadiin sebagai profesi utama deh, karena buku yang gue keluarin nggak selalu laku dan best seller, jadi ... Ini cuma buat sampingan aja. Kayak tempat pelarian gue. Karena kalau hobi ini gue jadiin profesi, gue takut kehilangan unsur bersenang-senangnya. Kalau nggak enjoy pas nulisnya, gue bisa ngerasa tulisan itu nggak akan sampai ke pembaca."
"Tapi bisa jadi perspektif pembaca lo beda," balas Mahesa. "Apa yang menurut lo gagal, menurut mereka bisa jadi nggak. Tapi di satu sisi, lo udah aware sama nasib penulis di Indonesia gimana. Dan kayaknya itu keputusan yang tepat untuk menjadikan nulis sebagai kerjaan sampingan aja. Tempat pelarian kayak yang lo bilang tadi."
Gue mengangguk. "You got the point. Lo nggak takut, Hes, kalau misalnya ambil jurusan film, lo bakalan kehilangan unsur bersenang-senang dalam membuat film?"
"Nggak tahu, soalnya kan gue belum ada di posisi itu."
"Iya juga, ya."
"Tapi gue memang pengin belajar teknik bikin film yang bagus tuh gimana. Karena kalau cuma mengandalkan pengalaman, nggak cukup. Gue juga harus punya pengetahuannya."
"Bener, bener."
"Novel lo gimana?"
"Kata editornya sih, lusa mau dikirim naskah yang harus gue revisi."
"Revisi kayak gitu biasanya dikasih waktu berapa lama?"
"Sebulan doang sih."
"Pantes lo sampai vertigo."
"Sial. Iya lagi," kata gue refleks tertawa. Sementara Mahesa cuma senyum sopan.