Gue udah mencoba nangis ketika Kinan dan Mahesa jadian. Gue udah putar lagu-lagu galau di playlist Spotify, tiap ada lagu galau di radio juga bakalan gue gedein volumenya, tapi gue sama sekali nggak bisa nangis walaupun beberapa hari yang lalu masih sedih.
Akhirnya, gue memilih menyibukkan diri dengan revisian naskah karena gue harus pintar-pintar mengatur waktu. Gue nggak mau keseringan begadang karena takut vertigo lagi, atau yang paling parah malah tipes, jadi gue berusaha jam 10 malam udah tidur.
Gue juga berusaha tetap revisian naskah saat di sekolah dengan memanfaatkan jam istirahat kedua yang lumayan panjang. Gue biasanya ke perpustakaan, milih meja paling belakang dan paling pojok dekat jendela.
Beberapa kali gue juga melihat Mahesa dan timnya lagi take video di sekolah ketika bel pulang berbunyi untuk film pendek yang akan mereka lombakan. Kadang, Mahesa jadi orang yang pulang paling akhir di kelas kami sebab dia harus ambil beberapa footage suasana kelas yang sepi dengan sinar oranye matahari sore.
Dia juga kadang merekam terang-terangan suasana sekolah ketika jam istirahat pertama yang mana keadaan sedang ramai-ramainya, juga merekam suasana pulang sekolah yang ramai hingga perlahan sepi. Gue bisa melihat kalau bukan dia doang yang mencintai proses pembuatan film ini, tapi teman-temannya juga. Gue lega. Dia ada di lingkungan yang tepat dan mendukung apa yang dia sukai.
Bakat dan konsistensi ketemu sama lingkungan yang mendukung serta fasilitas yang memadai, bakalan membuat seseorang punya semangat lebih untuk melahirkan karya-karya baru. Dan gue percaya itu.
Gue lagi bengong menunggu jemputan kakak ketika ponsel gue bergetar panjang, menampilkan nama Kak Sahara--editor gue--di sana. “Iya, kak, kenapa?”
“Revisiannya udah aku terima ya, sorry nggak langsung balas e-mail kamu. Omong-omong udah aku baca juga, dan menurutku sih nggak ada revisian lagi. Menurutmu gimana? Udah mantap atau masih ada yang mau direvisi?”
“Sebelum aku kirim ke Kak Sahara udah aku baca ulang juga sih, dan menurutku udah pas. Dari aku udah nggak ada revisian lagi.”
“Oke. Berarti langsung aku kasih ke bagian layouting ya?”
“Iya, kak, boleh.”
“Oh, ya, jangan lupa nanti ilustrasi tiap chapternya kamu ketik aja di Ms. Word, kalau ada referensi gambarnya boleh dicantumkan juga, terus kirim ke e-mail aku, ya. Ah, ya, sama gambaran kamu tentang cover novelnya gimana, nanti kirim sekalian di satu file yang sama. Nanti biar aku terusin ke ilustratornya. Oke?”
“Oke, kak, noted. Nanti ya aku kirim, sekarang masih nunggu jemputan di sekolah.”
“Iya, nggak papa, santai aja.”
Sambungan telepon terputus dan bertepatan dengan itu, seseorang menghampiri gue dan langsung bertanya, “Lo April dari 11 IPS 4, kan?”
Gue menoleh ke sumber suara dan agak kaget karena yang menghampiri gue adalah Yasa, ketua OSIS SMA Permata. Dia seangkatan sama gue, jadi harusnya nggak perlu sungkan, tapi nggak bisa.
“Iya, kenapa ya?”
“Lo udah mau pulang atau belum, ya? Gue mau ngobrol penting soalnya.”
“Kakak gue masih di jalan kok, kejebak macet kayaknya makanya agak lama. Kalau mau ngomong, di sini aja nggak papa.”
“Oke,” Dia mengangguk. Gue bisa merasakan beberapa anak yang belum pulang karena harus menghadiri kegiatan ekskulnya, sekarang menatap bukan ke arah gue, tapi Yasa, yang selalu hampir jadi pusat perhatian ketika dia menapak di mana pun di sekolah ini.
Selain ketua OSIS, alasan orang memperhatikannya agak lama alias curi-curi pandang adalah kegantengannya. Gue akui dia memang ganteng dan tinggi. Badannya ideal. Tapi selama yang gue taksir masih Mahesa, gue nggak akan terlena. Sorry ya, kalau geli.
“Jadi, gini, Pril. Sekbid 8 OSIS mau ngadain lomba nulis cerpen untuk menyambut Bulan Bahasa bentar lagi. Guru-guru Bahasa Indonesia pada sibuk, nggak bisa dimintain tolong buat jadi juri. Kalau lo jadi juri bareng Bu Maria mau nggak?”
Gue langsung mengernyitkan dahi dan menunjuk diri sendiri dengan telunjuk, masih nggak percaya. “Gue? Gue jadi juri?” Dan Yasa mengangguk mantap. “Nggak salah? Maksud gue, gue nggak sehebat itu. Gue nggak tahu banyak soal cerpen.” Walaupun gue memang sering nulis cerpen, tapi bukan berarti gue ahli dan layak jadi juri.
“Lo ketua umum divisi fiksi jurnalistik, kan? Gue lihat proker lo bagus. Tiap minggu ada cerpen dan puisi yang lo terbitin di website jurnalistik.”
“Iya, tapi itu biasa aja buat gue.”
“Buat gue nggak. Kalau Bu Maria sendirian, kasihan.” katanya.
Bu Maria adalah pustakawan di sekolah kami yang gue juga baru-baru ini tahu kalau beliau aktif nulis cerpen di koran nasional dan lokal, beberapa essay sastra, dan udah punya satu buku kumpulan cerpen yang diterbitkan sama penerbit mayor terkenal di Indonesia. Siapa yang nggak bangga coba? Gue aja bangga, tapi malu mau ngobrol sama beliau, padahal Bu Maria juga masih muda, dan nggak sedikit anak-anak yang nongkrong di perpustakaan sekadar buat curhat sama beliau.
“Emang Bu Maria nggak masalah kalau gue jadi jurinya? Gue kan nggak sehebat dia.”
“Malahan Bu Maria yang rekomendasiin lo buat jadi juri,” balas Yasa cepat. “Dicoba dulu aja, Pril, buat pengalaman. Lagian, ini kan lomba tingkat SMA kita aja.”
“Y-ya udah, boleh deh.”
“Nanti tugas lo bantuin Bu Maria milih cerpen dan puisi mana yang layak menang. Jadi, anggap aja lo editor kedua dan Bu Maria editor pertama. Kami mau nyari sepuluh pemenang. Karya yang menang nanti bakalan dihimpun di satu buku antologi cerpen dan puisi, kalau ini biar anak OSIS aja yang urus, terus kami distribusikan ke perpustakaan untuk nambah bahan bacaan.”
Mata gue membelalak karena terlalu excited dengan gagasan Yasa. “Gila, itu keren banget! Ketos sebelumnya nggak ada yang sepeduli ini sama kegiatan literasi di sini. Kenapa lo tertarik?”
Gue tuh sebenarnya bisa cerewet juga di depan orang yang menurut gue asik diajak ngobrol dan ketika menemukan topik yang menarik, jadi, jangan salahkan gue kalau gue bawel di depan Yasa.
Dia mengangkat bahu ringan, “Gue udah terlanjur kepilih jadi ketua OSIS, mau nggak mau gue harus bertanggung jawab sama jabatan yang gue pegang, kan? Sebenarnya ini bukan ide gue. Kakak sepupu dulu pernah jadi ketua OSIS, terus dia bikin program kayak gini. Gue penasaran aja kalau program ini dilakuin di sekolah gue bakalan works atau nggak. Menurut lo gimana?”
“Menurut gue, bakalan ada yang ikutan kok. Nggak tahu berapa banyak, tapi yang jelas ada,” balas gue optimis. “Gue awalnya juga pesimis sama proker kami untuk mengaktifkan kembali rubrik fiksi di website jurnalistik, takut nggak ada yang ikutan, tapi gue bilang ke anak-anak, kalau nggak ada yang ikutan, rubrik itu kita aja yang isi. Dan ternyata? Sekarang kami bahkan punya stok puisi dan cerpen untuk sepuluh minggu pertama. Gokil nggak?”
“Cerdas juga lo,” sahutnya, sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. “Kayaknya gue bakalan minta bantuan lo buat proker literasi lainnya. Mau nggak?”
“Boleh. Boleh banget! Gue suka kalau ada orang yang peduli sama literasi gini. Rasanya kayak punya teman seperjuangan.”