Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #11

Chapter 11

Sampai di rumah, setelah mandi dan makan malam, gue telepon Gia dan curhat tentang keputusan Bu Marni memasukkan gue ke dalam daftar lima anak berprestasi SMA Permata yang bakalan dikirim untuk siaran langsung di Purnama Radio.

Seperti yang udah bisa gue tebak, Gia menyemangati. Dia bilang kalau kesempatan tuh nggak selalu datang dua kali. Dan kalau udah datang dua kali tapi tetap gue tolak, katanya gue bego (dengan catatan ini adalah kesempatan yang nggak merugikan diri sendiri dan orang lain ya.)

Apa yang dibilang sama Gia emang benar sih. Bahkan tanpa gue curhat ke dia pun, gue tahu kalau diri gue sendiri memang harus menerima tawaran ini karena ini bisa jadi pengalaman baru di masa muda.

Gue berusaha menenangkan dan meyakinkan diri malam itu kalau semuanya bakalan baik-baik aja. Toh, nanti saat siaran nggak mungkin ditinggal sendirian. Pasti ada penyiar senior yang udah berpengalaman yang bakalan mendampingi kami. Gue nggak akan dibiarin mati gaya dan kehabisan topik. Iya. Gue harus yakin akan hal itu.

Baru aja mau rebahan, gue nggak sengaja menatap ke arah meja belajar dimana paper bag yang dikasih Yasa masih teronggok rapih di sana dan belum gue buka sama sekali karena tadi langsung ngerjain beberapa tugas sekolah.

Gue melangkah dari kasur dan duduk di kursi meja belajar untuk membuka hadiah dari Yasa, yang dari bentukannya sih udah bisa gue tebak isinya pasti buku, entah buku bacaan atau buku tulis.

Mata gue membelalak ketika mendapati ada tiga novel tebal yang dari deskripsi belakangnya aja menarik buat dibaca. Pas banget. Gue memang suka sama novel yang halamannya tebal.

Nih orang bener-bener ya.

Gue langsung mengirim foto ketiga novel itu ke WhatsApp Yasa dan bilang terima kasih. Dia cuma balas pakai emoji jempol dua biji. Udah kayak ngirim pesan ke bapak-bapak aja.

....

Sabtu sore tiba dan gue nggak bisa menyembunyikan kegugupan gue dari pagi.

Gue memang selalu begini. Ketika ada sesuatu yang harus gue lakukan dan itu nggak ada di agenda gue sebelumnya sebab gue sudah merencanakan kalau Sabtu ini adalah hari dimana gue leha-leha sambil nonton anime Ghibli yang gue ulang-ulang itu, tapi tiba-tiba Yasa ngasih tahu kalau gue harus datang untuk siaran langsung di Purnama Radio, otomatis gue harus menyiapkan energi sosial lebih untuk keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain.

Walaupun Yasa ngasih tahunya nggak mendadak sama sekali, tetap aja gue seolah butuh persiapan itu.

Dan sebenarnya gue malah senang kalau rencana Sabtu sore ini dibatalkan, tapi ternyata enggak. Gue nanya ke Yasa melalui WhatsApp apakah siaran langsungnya beneran jadi hari ini, dan dia jawab singkat: jadi. Buruan ke sini.

Mama gue agak kaget melihat anaknya udah rapih di Sabtu sore, dan makin kaget lagi ketika anaknya diundang untuk siaran langsung di Purnama Radio. Mama bahkan udah memindahkan saluran radionya untuk mendengarkan wawancara gue nantinya. Papa menawarkan diri untuk mengantar, tapi gue menolak dengan alasan gue pengin berangkat sendiri biar cepat karena kalau harus nunggu jemputan Papa atau kakak gue, biasanya lama dan gue nggak punya cukup kesabaran untuk itu.

Setelah sampai di sana, gue udah lihat ada dua anak yang datang, tiga ditambah gue. Sebenarnya kami juga nggak terlambat karena sampai sana juga masih jam 15.40 WIB.

Gue duduk di sebelah mereka, berjarak satu kursi dengan harapan nggak diajak ngomong, tapi salah satu dari mereka, yang gue tahu kalau dia adalah anggota paskibraka yang berhasil masuk jadi anggota paskibraka provinsi atau sejenisnya, menyapa gue, "Eh, agak ke sini duduknya. Deketan, dong. Biar kenal kita."

Nadanya kedengaran ramah dan dia memang seramah itu. Anaknya cantik, tinggi semampai, sering jadi panutan anak-anak ekskul modelling walaupun dia bukan ekskul itu. Namanya Sastika, dipanggil Sasti.

Kenapa gue bisa tahu? Anak-anak di kelas gue cukup sering ngomongin Sasti, apalagi waktu dia pacaran sama anak kelas 12 namanya Nicko yang memang ganteng dan terkenal karena dia kapten basket yang digadang-gadang bakalan meneruskan karirnya sebagai atlet. Mereka berdua bahkan sering dicap sebagai couple goals, tapi sayangnya sekarang udah putus.

Entah Sasti sadar atau nggak, tapi tiap kali dia lewat di depan kelas gue, sebagian besar anak cowok di kelas langsung nemplok di jendela kayak cicak, beberapa ada juga yang berdiri berjubel di ambang pintu kelas hanya untuk menyaksikan bidadari lewat. Cuci mata, kata mereka. Tapi gue nggak heran sih, kalau gue jadi cowok pun bakalan naksir sama dia karena dia memang ramah dan mudah bergaul. Anaknya asik diajak ngobrol, tipe yang bikin betah nongkrong berjam-jam. Cantik pula. Jadi lo nggak akan bosan memandang wajahnya lama-lama.

Sasti di mata sebagian besar anak SMA Permata yang kenal atau cuma tahu sekilas tentang dia, dianggap sebagai Mary Sue di dunia nyata, alias tokoh yang nyaris sempurna, walaupun sebenarnya, ini cuma karena kami yang nggak tahu apa-apa di balik kehidupan Sasti yang sebenarnya.

Keluarganya lowkey banget, dan dia nggak suka ngomongin tentang diri sendiri apalagi keluarganya--bikin anak-anak menebak apakah Sasti bersikap begitu untuk melindungi privasi keluarganya atau memang keluarganya nggak harmonis, we never know.

"Gue Sastika. Panggil aja Sasti, dari 11 IPA 1. Lo yang suka nulis-nulis itu, kan? April?"

Rasanya gue mau salto kayak di sirkus ketika anak populer kayak Sasti tahu nama gue.

"Iya, Sasti, gue April."

"Kenalin. Yang ini Daniel si konten kreator. Subscribersnya di youtube udah ratusan ribu, ya, Niel? Intinya, dia udah dapat silver play button."

Daniel lalu menyodorkan tangannya ke gue, "Daniel."

Lihat selengkapnya