Hari Senin. Hari dimana selain upacara bendera rutin dilaksanakan, juga jadi hari dimana semua prestasi yang diraih sama anak-anak SMA Permata diumumkan sebelum barisan dibubarkan oleh pemimpin upacara.
Walaupun bentuk barisannya udah nggak keruan, dimana sebagai orang yang pendek dan sering disuruh baris di belakang sekarang udah maju ke barisan depan dan sebaliknya, beberapa dari kami masih menyimak pengumuman yang disampaikan. Di barisan depan, gue bisa leluasa melihat Mahesa dan timnya yang menang juara 2 lomba film pendek kemarin. Gue bangga banget!
Sayang sekali, gue nggak bisa seenaknya mengarahkan ponsel ke arahnya untuk mengabadikan momen itu, karena gue takut ada yang melihat (dan ini pasti sih) terus dilaporin ke Kinan. Kalau ceritanya dipelintir kan pertemanan gue sama mereka berdua yang dipertaruhkan. Ogah deh.
Kedatangan Mahesa kembali ke barisannya disambut heboh oleh anak-anak kelas gue. Beberapa langsung menghambur memeluknya, ada juga yang mengusap-usap kepalanya seolah kepala cowok itu baru aja botak.
"Pril, makasih bantuannya, ya." kata Mahesa yang sempat berhenti sejenak di depan gue. Alamak, untung aja gue jago menyembunyikan ekspresi, jadi nggak ada yang tahu kalau gue salah tingkah.
"Sama-sama. By the way, kalau mau nonton dimana ya, Hes?"
"Nanti gue kirim linknya deh."
"Thanks. Sekali lagi selamat ya."
"Thank you."
Setelah itu, Mahesa kembali ke barisannya yang entah di mana karena memang udah nggak beraturan.
Sekarang, perhatian gue teralihkan ke Yasa yang udah masuk ke lapangan upacara dan mengambil alih sejenak podium yang biasa digunakan pembina upacara untuk memberikan amanat dan pengumuman.
"Maaf teman-teman, barisan jangan bubar dulu ya. Saya mau kasih pengumuman untuk 10 pemenang nulis cerpen dan puisi dalam rangka menyambut Bulan Bahasa kemarin. Nama-nama yang saya panggil silakan maju untuk menerima hadiah. Kategori cerpen, juara satu...."
Gue mendengarkan dengan seksama dan memperhatikan siapa saja yang dipanggil karena penasaran sama wajah dan perawakannya. Rata-rata yang menang adalah kelas 11, disusul sama kelas 12, dan yang terakhir adalah segelintir anak kelas 10. Gue nggak bisa berhenti senyum melihat mereka kelihatan senang menerima penghargaan yang mungkin menurut orang lain nggak seberapa, tapi buat mereka bisa jadi adalah bentuk apresiasi yang berharga.
Ah, ya. Gue baru ingat kalau liputan gue tentang kegiatan itu belum selesai karena harus mengerjakan tugas sebagai juri. Gue harus wawancara Yasa nanti.
"Selamat untuk nama-nama yang tadi saya panggil. Buat yang belum menang, jangan kecil hati. Kalian bisa kirimkan cerpen dan puisi ke ekskul jurnalistik karena rubrik fiksi mereka kembali diaktifkan. Setiap minggu bakalan ada puisi dan cerpen baru yang dipublikasikan di website mereka. Kalau nggak mau ketinggalan, follow aja instagram mereka di at jurnalistik SMA Permata. Dan buat yang menang acara ini, karyanya akan dibukukan oleh kami. Kami akan cetak 5 buku dan disimpan di perpustakaan supaya bisa dibaca banyak orang. Bagi siapapun yang ingin pesan bukunya, bisa ke ruang OSIS menemui Cindy atau anggota sekbid 8 yang lain. Nanti akan kami data. Kalau kalian pesannya kolektif, bisa dapat diskon dari vendornya. Tetap semangat berkarya, teman-teman. Kalian boleh kembali ke barisan masing-masing. Sekian dulu pengumuman dari saya. Maaf kalau ada salah kata. Selamat pagi. Saya kembalikan ke pemimpin upacara."
Yasa lalu turun dari podium dan berjalan ke samping barisan. Setelah itu, pemimpin upacara masuk dan membubarkan barisan yang bentukannya udah nggak keruan ini.
Gue agak kaget sih dengar pengumuman Yasa. Gue nggak nyangka aja kalau secara gamblang dia ikut mempromosikan proker divisi fiksi jurnalistik.
Alih-alih langsung ke kelas, gue berlari melawan arah untuk menemui Yasa yang kelihatan sudah akan menuju kelasnya. Tapi untungnya, masih sempat gue kejar.
"Yas! Yasa!" Beberapa anak yang nggak bernama Yasa ikut menoleh, termasuk orangnya sendiri.
"Kenapa?"
"Nanti pulang sekolah bisa nggak minta waktunya sebentar? Gue mau wawancara lo untuk liputan lomba Bulan Bahasa kemarin."
"Gue nggak bisa kalau pulang sekolah, bisanya jam istirahat kedua. Gimana?"
"Boleh deh kalau memang lo bisa. Di mana enaknya?"
"Di ruang OSIS aja."
"Thanks ya."
Dia mengangguk dan bergegas ke kelasnya, gue juga.
....
Jam istirahat kedua tiba dan gue bergegas ke ruangan OSIS. Saat melewati kelasnya Kinan, kebetulan dia keluar juga.
"Eh, Pril. Mau ke mana?"