Sabtu pagi ini, gue diundang ke kantor penerbit yang menerbitkan novel ketiga gue untuk menandatangani seratus buku yang dipesan sama pembaca yang ikutan pesan buku saat pre-order batch 1 dilaksanakan.
Dua buku sebelumnya nggak ada yang gue tanda tangani karena dari penerbit juga nggak minta walaupun saat itu juga diadakan open pre-order, makanya ketika hari ini tiba, yang mana sebelumnya gue nggak berekspektasi bakalan diundang untuk tanda tangan buku sendiri karena gue pikir sistemnya sama dengan penerbit sebelumnya, bikin gue gugup.
Gue takut melakukan kesalahan karena gue nggak biasa membubuhkan tanda tangan sebanyak itu. Makanya semalam gue sampai begadang untuk berlatih membubuhkan seratus tanda tangan di satu kertas HVS. Hasilnya? Tangan gue lumayan pegal. Apalagi penerbit minta gue juga menambahkan kata-kata sederhana di bawah tanda tangan gue, seperti ucapan terima kasih karena udah membeli buku gue.
Gue lihat di media sosial, tanda tangan para penulis yang bukunya gue baca tuh bagus-bagus, sementara tanda tangan gue terkesan formal karena gue sesuaikan dengan tanda tangan yang pernah gue bubuhkan di KTP. Semalam gue bahkan sok ingin memodifikasi tanda tangan gue supaya kelihatan kayak tanda tangan idol Korea yang keren dan lucu-lucu, tapi berakhir pasrah pakai tanda tangan normal aja karena gue nggak bisa memodifikasinya. Dan untungnya gue sadar kalau gue ini manusia super biasa dan bukan idol Korea apalagi penulis terkenal, jadi, gue bakalan tetap jadi diri sendiri aja.
"April ya?" tanya seseorang yang menyapa gue ketika menunggu di lobi kantor sesuai arahan resepsionis.
"Iya, Kak."
Dia mengulurkan tangan dan gue menjabatnya, "Aku Sahara."
Wahai semesta, kenapa gue selalu dikelilingi oleh orang-orang cakep ya? Ini Kak Sahara cantik banget kayak namanya. Tinggi semampai pula. Kayaknya kalau dia nanti nggak jadi editor lagi, dia bisa jadi model atau aktris deh.
"H-halo, Kak. Salam kenal. Saya terlambat nggak ya?"
"Oh, nggak kok. Santai aja. Yuk, langsung masuk. Bukunya udah disiapin, jadi kamu tinggal tanda tangan aja. Nanti direkam sebentar ya untuk masuk di instagram penerbit."
"Iya, Kak, nggak papa."
Duh, gue nggak tahu apa jadinya muka gue ketika direkam diam-diam nantinya karena gue bukan cewek di novel-novel yang ketika serius tuh kecantikannya nambah. Muka serius gue biasa aja. Tapi ya udah lah. Gue harus profesional.
Gue sampai di ruangan yang dimaksud dimana meja yang cukup panjang itu udah berisi seratus buku gue. Biasanya, gue cuma bisa lihat dari media sosial dan berandai-andai, kapan ya gue bisa tanda tangan buku gue sendiri kayak penulis yang lain? Dan di sinilah gue sekarang. Gue masih nggak percaya. Bahkan saat Kak Sahara menyerahkan bolpoin ke gue, gue masih cengo.
"Mau minum apa, Pril?" tanya Kak Sahara begitu gue dipersilakan duduk.
"Air putih aja nggak papa, Kak."
"Kok air putih sih? Jangan dong. Aku mau beli kopi nih, kamu mau pesen apa? Aku yang traktir."
"Emm ... Iced latte aja, Kak."
"Oke. Boleh langsung ditanda tangani ya. Nanti biar temanku yang take videonya. Aku tinggal dulu."
"Makasih, Kak."
Gue nggak bisa berhenti tersenyum ketika menyentuh novel ketiga gue. Gue selalu suka sama aroma buku dan kertas nggak tahu kenapa. Nggak ada alasan yang spesifik. Itulah kenapa kalau beli buku, hal pertama yang gue lakukan adalah menciumi bagian dalam bukunya. Aroma kertas buat gue tuh ... Memberikan ilusi ketenangan.
Membuang napas pelan, gue akhirnya menandatangani satu per satu buku itu lengkap dengan tambahan ucapan terima kasih karena udah beli buku gue. Dan karena fokus supaya tanda tangan gue nggak jelek, gue nggak sadar kalau udah divideoin sama karyawan yang lain. Gue berusaha untuk membuat wajah gue nggak kelihatan judes, tapi kayaknya nggak berhasil.
Kak Sahara masuk ke ruangan itu di tengah-tengah kegiatan gue dan memberikan satu iced latte.
"Lancar kan?"
"Iya, Kak. Agak grogi sih sebenarnya, karena ini kali pertamanya aku tanda tangan di buku sendiri."
"Nanti juga terbiasa. Selamat ya bukunya udah terbit."
"Makasih ya, Kak, karena aku udah dibimbing dengan sabar dan teliti banget."