Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #14

Chapter 14

Malam itu setelah menyiapkan barang apa aja yang akan gue bawa untuk mendekorasi booth ekskul kami, dimana gue membawa barang seperti kipas angin karena nanti bakalan disediakan stop kontak di setiap booth, taplak, vas bunga, dan nampan plastik untuk wadah meletakkan makanan dan minuman yang kami jual, gue memutuskan untuk rebahan sejenak karena punggung gue benar-benar encok setelah dua jam sebelumnya duduk di kursi meja belajar mengerjakan tugas. Gue nggak kebayang kalau jadi anak IPA bakalan sebanyak apa tugasnya karena mereka pasti harus bikin laporan praktikum. Lagi-lagi, gue merasa bersyukur berani mengambil keputusan sendiri waktu itu dengan ambil jurusan IPS.

Gue mengecek ponsel dan mendapati Mahesa mengirim pesan berupa link film pendeknya yang dimuat di kanal youtube panitia penyelenggara lomba. Gue mengetik makasih dan langsung mengklik tautan tersebut.

Mata gue membulat sempurna ketika yang menonton film itu sudah menyentuh angka 3 ribu orang. Untuk seukuran film pendek yang baru diunggah sekian minggu yang lalu, angka segitu udah fantastis. Remember Him, judulnya.

Film pendek itu dibuka dengan seorang perempuan yang melihat-lihat album kenangan sebuah SMA dimana kamera menyorot pas foto formal seorang lelaki dan kamera berpindah ke foto hitam putih lelaki yang sama di klub sepak bola dengan gaya yang jauh lebih santai. Perempuan itu mengusap foto si lelaki dan membiarkan air matanya menetes.

Lalu, film berganti ke adegan seorang perempuan yang menunggu di sebuah kafe, dan tak lama ada perempuan lain yang datang. Mereka bercakap basa-basi, baru setelahnya si perempuan menjelaskan maksudnya ingin menemui perempuan berambut pendek itu, “Aku ingin tahu bagaimana Seno saat SMA dulu. Dan kamu adalah salah satu teman terdekatnya yang bisa aku hubungi, jadi, aku minta tolong ceritakan tentang Seno saat SMA di buku ini.” Perempuan berambut panjang itu menyodorkan buku harian warna biru pastel beserta dengan bolpoinnya pada si perempuan rambut pendek.

“Aku mau anakku nanti bisa mengenal Seno saat dia SMA karena aku cuma kenal dia semasa kuliah.” Si perempuan berambut panjang menambahkan.

Si perempuan berambut pendek nggak langsung menjawab. Dia kelihatan berpikir, sebelum akhirnya meraih buku harian itu dan mengangguk. "Kasih aku waktu satu bulan." katanya. "Dulu, Seno dan aku ada di dalam geng pertemanan yang sama. Isinya ada tujuh orang. Aku akan mengumpulkan mereka untuk membuat dokumenter kecil-kecilan dalam rangka mengenang Seno. Kamu tenang aja. Anak kalian tetap akan kenal Seno di masa mudanya."

Adegan-adegan selanjutnya menampilkan Seno ketika SMA. Ia digambarkan sebagai cowok kalem yang berada di tengah-tengah teman sekelas yang heboh–membuat gue jadi teringat teman-teman sekelas gue sendiri. Setelah flashback tentang masa muda Seno saat SMA, film diakhiri dengan si perempuan berambut panjang yang didampingi dengan teman-teman Seno melarung abunya ke salah satu pantai yang dulu pernah dikunjungi mereka saat SMA.

“Demi apa sad ending, woi…,” ucap gue sambil menyeka air mata yang sudah menetes dan nggak bisa gue tahan lagi.

Walaupun gue udah baca duluan skenario filmnya, gue pikir untuk kepentingan menarik perhatian penonton dan para juri, Mahesa akan mengubahnya jadi happy ending, tapi ternyata nggak. Dan akhir film pendek yang dibiarkan tetap seperti saat awal dia mendiskusikan skenarionya dengan gue adalah ending yang membekas dan tepat. Sebagai orang yang menulis dan mengatur jalannya world building di dalam karangan fiksi, gue tahu persis gimana perasaan Mahesa saat menuliskan skenario film. Dia mungkin sama kayak gue--dari awal udah tahu cerita itu harus diberi akhir yang seperti apa, bahkan sebelum naskahnya selesai ditulis. Dan ketika orang-orang seperti kami udah menemukan akhir yang tepat lalu terpaksa mengubahnya, kami akan merasa cerita itu kehilangan nyawa.

Bagaimana Mahesa mengeksekusi skenario film dan menuangkannya ke dalam visual memang nggak pernah gagal membuat gue tambah kagum sama dia. Kayak … dia tuh tahu gimana caranya mengambil gambar supaya terlihat nggak cuma indah, tapi mempengaruhi psikologis penontonnya tanpa disadari. Gue nggak tahu banyak istilah dalam film, tapi sekali lagi gue bilang, untuk ukuran film pendek garapan anak SMA, ini memang bagus banget.

Gue jadi penasaran, waktu menonton film pendek ini, Mahesa nangis juga nggak ya? Atau matanya sekadar berkaca-kaca aja? Gimana bisa orang yang kelihatan nggak terlalu ekspresif itu membuat film sekeren ini? Atau jangan-jangan film adalah media untuknya menjadi lebih ekspresif?

Awalnya gue skeptis, cowok yang nggak terlalu ekspresif kayak Mahesa tuh apa bisa membuat film yang emosinya beragam dalam satu frame? Tapi ternyata, orang yang pendiam kadang bisa lebih dalam menggambarkan perasaan-perasaan di sekitarnya.

Entah sejak kapan, alasan gue naksir Mahesa bukan cuma karena dia ganteng, tapi karena dia punya sesuatu yang bikin gue tertarik. Dia bukan cowok kalem biasa. Dia cowok yang passionate akan suatu hal yang dia sukai.

Sebenarnya gue bukan orang yang suka banget sama kesibukan, tapi bukan orang yang suka juga kalau nggak ada apapun yang bisa dikerjakan. Gue suka kesibukan kalau orang-orang di sekeliling gue juga bisa diajak kerja sama dan nggak banyak drama, karena seenggaknya menurut teori asal gue, hal itu bisa bikin pekerjaan lebih cepat dan walaupun capek, tapi capeknya tuh bikin senang, bukan bikin gue tambah exhausted.

Sesuai jadwal, anak-anak ekskul jurnalistik harus datang jam 4 sore bersamaan dengan beberapa ekskul lainnya, antara lain ekskul basket, ekskul tari, ekskul modern dance, dan ekskul modelling. Kami bakalan take video secara bergilir ikut arahan anak-anak film yang bekerja sama dengan panitia OSIS. Video profil sekolah ini bukan cuma memuat bangunan sekolah dan profil guru, tapi juga profil masing-masing ekskul yang kami punya.

Gue nggak melihat Yasa memantau kegiatan ini, sebaliknya gue melihat wakil ketua OSIS, namanya Lala, yang kalau nggak salah anggota paskibraka juga dan akrab dengan Sasti.

Lihat selengkapnya