Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #15

Chapter 15

Dies Natalis x Persona Permata bakalan diadakan hari Jum'at, Sabtu, dan Minggu. Dan hari ini adalah hari pembukaan acara yang akan diadakan di sore hari.

Gue udah memperkirakan kalau parkiran bakalan padat dan ramai, jadi gue memutuskan naik go-jek aja. Sebenarnya bisa nebeng kakak gue, tapi dia lagi UAS di kampus, jadi gue nggak mau ganggu.

Gerbang sekolah didekorasi sedemikian rupa dengan banner besar bertuliskan "Welcome to 20th Dies Natalis Permata High School x Persona Permata 2017: A Glimpse of Youth" dan di bawahnya berisi tagline "Every Moments Becomes a Memory" yang membuat gue terdiam mematung. Iya ya. Sebanyak apapun memori yang lo punya di masa muda lo, semuanya bakalan berubah jadi kenangan yang nggak bisa lo ulang, tapi cuma bisa lo ingat-ingat aja.

Ah, ya, by the way, sekolah gue dapat tema acara yang bisa dibilang gampang, yaitu masa muda, karena tema ini lebih dekat dengan kehidupan anak SMA--dan yang gue dengar, tema ini adalah tema yang paling mudah dan sederhana karena lo bisa memanfaatkan kesederhanaan sekolah dan masa muda yang apa adanya, nggak kayak tema lain seperti vintage misalnya, dimana lo harus mendekor panggung dan sebagainya dengan nuansa vintage.

Semua penonton yang memang hanya anak-anak dari SMA lain udah mulai berdatangan san sedang mengantre di sisi kanan dan kiri untuk pemerikaaan barang dan ticket, sementara jalan bagian tengah relatif lengang sehingga gue dan anak-anak SMA Permata lainnya bisa bebas masuk. Kami berpakaian bebas yang penting rapi dan sopan, dan untuk membedakan antara anak-anak SMA Permata dan sekolah lainnya, kami diberi syal warna biru dongker sesuai warna almamater kami--yang kadang nggak dipakai di leher, melainkan di lengan, di dahi, atau di kepala--sekreatif mereka aja. Gue pribadi memilih mengenakannya sebagai bando--yang gue harap nggak membuat gue kelihatan aneh karena selama 17 tahun, gue terakhir kali pakai asesoris seperti jepit dan bando tuh SD.

Gue sudah membawa bolpoin dan buku saku untuk mencatat hal-hal penting yang gue amati, karena walaupun hari ini gue nggak melakukan liputan, gue tetap harus mencatat sebab itu bisa jadi bahan tambahan buat laporan kelompok lain.

Begitu memasuki koridor depan sekolah, sisi kanan adalah mading yang dipenuhi dengan denah SMA Permata dan denah area sekolah ini selama festival berlangsung. Ada juga beberapa foto candid pengurus OSIS yang kelihatan sibuk menyiapkan acara ini dipajang di sana setelah dicetak palaroid. Di dinding sebelah kiri ditempelin poster-poster acara, rundown acara, dan daftar pengisi acara yang akan tampil baik di hari pembukaan, puncak acara, sampai penutupan.

Di sisi kanan dan kiri koridor depan sekolah gue juga disediakan photobooth dengan berbagai macam properti berupa tulisan-tulisan gaul. Beberapa penonton udah ada yang menepi ke sana sekadar untuk foto-foto.

Panggung utama ada di lapangan upacara yang menghadap langsung ke penonton dan tamu undangan yang duduk di kursi-kursi yang udah disediakan di sebuah arena yang juga sudah dilengkapi dengan tenda untuk menghalau panas.

Di sebelah tengah panggung sengaja dikosongi, jadi tamu undangan hanya ditempatkan di sebelah kanan dan kiri. Di bagian tengah yang menghadap panggung, sudah stand by Mahesa yang bertugas sebagai kameramen karena beberapa anak ekskul film dimintai tolong untuk mengabadikan momen acara ini, yang mana nantinya akan diunggah di kanal youtube OSIS SMA Permata.

Di sisi kanan dan kiri dekat panggung juga ada masing-masing satu kameramen yang mengenakan jersey bertuliskan "Permata Film Club". Backstage ada di belakang panggung dengan memanfaatkan tiga kelas yang sengaja dikosongin selama acara berlangsung, yaitu kelas 10 IPA 3, 4, dan 5. Backstage 1 dan 2 yang menempati kelas 10 IPA 3 dan 4 dikhususkan untuk para pengisi acara, sementara 10 IPA 5 dikhususkan sebagai backstage panitia.

Waktu mengecek ke sana sekilas, gue bisa lihat kalau di sana ada pasokan konsumsi, mick cadangan, beberapa kabel, dan beberapa properti milik anak teater, tari, dan modern dance yang dititipkan di sana.

Untuk booth semua ekskul ditempatkan di sebelah kanan dan kiri, agak jauh dari panggung. Di sana kami bisa menjual apa saja. Karya ekskul kita, merchandise, makanan, minuman, asesoris, dan sebagainya. Kebetulan, booth ekskul jurnalistik ada di sebelah booth ekskul lukis yang memajang lukisan-lukisan mereka, baru setelah booth ekskul lukis, ada booth ekskul film yang kelihatan seperti toko kecil bernuansa vintage yang estetik.

Selain booth ekskul, di sisi kanan dan kiri paling ujung ada booth medis yang diisi oleh anak-anak PMR dan masing-masing satu perawat.

Gue masuk ke booth gue sendiri, menyapa teman-teman yang udah datang sekaligus membantu menata makanan dan minuman yang akan kami jual di sana. Karena nanti semua anak ekskul dapat konsumsi, maka kami hanya menjual makanan ringan seperti snack dan soft cake. Untuk minumannya, kami cuma menyediakan dua macam, yaitu es teh dan es jeruk.

Selain makanan dan minuman, kami juga memajang beberapa penghargaan yang pernah kami dapat dan juga majalah dari periode sebelumnya yang merekam banyak hal tentang sekolah ini.

Beberapa teman gue yang belum makan memutuskan untuk makan sebelum acara dimulai sebentar lagi.

Dari tempat gue duduk, gue lihat Yasa berlarian dari backstage ke panggung, lalu mengobrol dengan panitia di sana. Tangannya menggenggam HT yang memang jadi alat komunikasi paling efisien di saat ada acara besar kayak gini. Panitia yang kebanyakan adalah pengurus OSIS hari ini pakai jersey mereka juga, yaitu kaos biru dongker bertuliskan OSIS SMA Permata. Ada yang lengan panjang, ada yang lengan pendek. Punya Yasa kebetulan lengan panjang, tapi lengannya digulung sampai sebatas siku, memperlihatkan jam tangan hitamnya di pergelangan tangan kiri. Menurut gue, mau cewek atau cowok, mereka bakalan kelihatan keren ketika pakai jam tangan. Kayak ... Cakep aja.

Ketika semua tamu dan penonton sudah memenuhi lapangan, acara pun dimulai. MC yang berjumlah dua orang, cewek dan cowok, naik ke panggung dan mulai menyambut kami.

Yasmin kemudian memerintahkan kami anak-anak kelas 11 untuk berpencar mengumpulkan bahan liputan. Sementara kami keliling, adik-adik kelas sepuluh ditugaskan untuk menjaga booth ekskul.

Gue berdiri di sebelah kanan panggung, dekat dengan backstage, tapi dari tempat gue berdiri bisa terlihat Mahesa yang sedang sibuk dengan kameranya, dan Yasa yang sibuk dengan HT-nya. Gue memutuskan untuk meliput daerah backstage lebih banyak karena bagian ini biasanya sering luput dari perhatian karena fokus utama biasanya apa yang terjadi di depan panggung, bukan di balik layar.

Dari sini, gue mulai mencatat apa saja yang mereka kerjakan di belakang panggung. Gue bisa dengar Yasa berkomunikasi melalui HT.

"Yas, video profil sekolah nggak bisa diputar."

Yasa kemudian menyahut dengan tenang melalui HT-nya kepada panitia operator dan sound yang boothnya ada di sebelah kiri panggung. "Bilang ke MC suruh langsung ke sambutan kepsek. Kalau videonya udah bener, baru diputar, setelah itu lanjutin sesuai rundown."

Gue melihat satu panitia yang lari dari backstage ke booth operator, mungkin untuk membantu teman-temannya memperbaiki video profil sekolah yang nggak bisa diputar di latar proyektor besar yang ditempatkan di sebelah kanan dan kiri panggung.

Sambutan kepala sekolah yang untungnya cukup lama ternyata memberi keuntungan untuk panitia memperbaiki video itu dengan lebih leluasa. Tepat setelah sambutan kepala sekolah diakhiri dengan bunyi gong tiga kali yang secara simbolis menandakan acara resmi dimulai, gue dengar panitia melaporkan pada Yasa kalau videonya udah bisa diputar di layar proyektor besar, sehingga mereka bisa melanjutkan kegiatan sesuai rundown.

"Sekarang, kita tonton bersama-sama video profil SMA Permata yang terbaru ya." kata MC kemudian turun sejenak dari panggung untuk minum dan mendengarkan arahan dari panitia untuk kembali memandu acara sesuai rundown.

Video profil yang berdurasi sepuluh menit lebih sekian detik itu sudah selesai ditampilkan dan menuai tepuk tangan dari para penonton. MC kemudian mengumumkan sambutan selanjutnya yang akan disampaikan oleh Yasa. Cowok itu bersiap sejenak merapikan pakaian dan rambutnya yang agak acak-acakan, kemudian naik ke panggung dengan tenang. Mendadak, hampir semua mata tertuju ke dia.

"Selamat pagi, semua. Salam sejahtera untuk kita semua." katanya sembari membetulkan posisi mick yang agak terlalu pendek untuknya. "Perkenalkan saya Prayasa Bayuaji, dipanggil Yasa. Kebetulan menjabat sebagai ketua OSIS SMA Permata. Sambutan dari saya singkat saja. Pertama, terima kasih kepada semua sponsor yang sudah mau mendukung acara ini. Terima kasih untuk semua panitia yang mau mengerahkan waktu dan tenaganya untuk bekerja sama mewujudkan acara besar yang akan selalu jadi memori indah untuk kami sekaligus tempat kami belajar banyak hal. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan yang sudah bersedia hadir, kepada perwakilan alumni SMA Permata, kepada bintang tamu utama kita yang akan tampil nanti di puncak acara, yang masih kami rahasiakan supaya jadi kejutan. Saya juga mau berterima kasih kepada Bu Erna selaku pembina OSIS yang sudah mau mendampingi kami di tengah kesibukannya mengajar. We love you, Bu Erna." Kami terkekeh mendengar Yasa mengucapkan itu, begitu pula dengan dia.

"Terima kasih juga untuk pengisi acara baik untuk pembukaan, puncak acara, dan penutupan nanti. Terakhir, terima kasih untuk semua pihak yang terlibat dan mau bekerja sama dengan kami, yang nggak bisa saya sebutkan satu per satu." Ia berdeham pelan, memberi jeda.

"Acara ini adalah gabungan dari Dies Natalis SMA Permata yang ke-20 sekaligus festival seni dua tahunan Persona Permata dimana kami dapat urutan pertama untuk tampil. Tema yang kami usung tahun ini adalah masa muda, yang kemudian kami spesifikkan menjadi "a glimpse of youth" dengan tagline "every moments becomes a memory". Masa muda bagi saya nggak cuma terjadi di SMA, tapi terjadi kapan saja ketika kita merasa masih punya semangat masa muda itu. Dan semua peristiwa hari ini, besok, lusa, dan seterusnya, akan jadi bagian dari kenangan masa muda kita semua yang nggak akan bisa diulang kembali dan terjadi sama persis, tapi kenangan itu tetap bisa kita ingat. Itulah kenapa kami berusaha semaksimal mungkin memperhatikan setiap detil acara ini supaya tetap berada di jalur tema utamanya, dan mengabadikan setiap momen yang ada.

"Terakhir, saya berharap acara yang jauh dari kata sempurna ini bisa jadi wadah untuk kita semua punya teman baru, kenal suasana baru, punya memori baru, dan menjadi bagian yang tidak terlupakan dari masa muda kita. Enjoy the show, because every moment of our youth matters. Terima kasih. Selamat pagi."

Sambutan itu mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari kami semua. Bahkan tanpa sadar gue juga ikut tepuk tangan dan mengangguk-angguk seolah mengakui kemampuan public speakingnya yang bagus.

Kami kebetulan saling tatap ketika Yasa turun panggung. Gue tadinya mau senyum ke arahnya untuk menyapa, tapi takut kelihatan aneh, jadi gue diam aja sambil mengangguk singkat ke arahnya.

Penampilan pertama yang akan tampil adalah marching band. Gue bergegas jalan ke posisi agak depan karena mereka akan tampil di bagian bawah depan panggung menghadap ke penonton, dimana ada celah yang lebar untuk mereka bisa tampil. Gue bisa lihat Mahesa di bagian tengah sedang bersiap untuk merekam, begitu juga temannya ada di sisi kanan dan kiri.

Lagu yang mereka mainkan pertama adalah Chrisye - Anak Sekolah. Beberapa murid SMA Permata yang tadinya ada di pinggir lapangan bergegas merapat ke lapangan utama untuk menonton langsung, tapi ada juga yang memilih naik ke lantai dua supaya lebih leluasa. Gue nggak tahu gimana Yasa dan pengurus OSIS lainnya mendesain tata letak panggung acara ini, tapi yang jelas, semua orang bisa melihat dari hampir segala arah. Padahal gue kira yang nonton di lantai dua akan terhalang, tapi ternyata nggak.

Anak-anak marching band masuk dari sisi kanan dan kiri, kemudian ada drum battle yang dilakukan di tengah-tengah bawah panggung, lalu barisan menyatu seluruhnya di bagian tengah, kemudian kembali berpencar ke kanan dan kiri. Setelah itu, barisan terbagi jadi tiga, yaitu kanan, tengah, dan kiri, membuat Mahesa dan dua temannya harus pandai-pandai mencari angle yang pas.

Lihat selengkapnya