Glimpse of Our Youth

Ida Ayu Saraswati
Chapter #16

Chapter 16

Puncak acara akan dimulai hari ini jam 7 malam dan gue nggak yakin apakah di hari liputan ini masih bisa menikmati rangkaian penampilan selama acara atau nggak, tapi kemungkinan besar sih nggak bisa. Tapi ya udah lah, namanya juga tugas.

Gue datang agak terlambat karena terjebak macet. Gue berlari dari gerbang sekolah dan melirik ke parkirkan sebelah kiri gue dan cukup kaget saat tahu bahwa motor yang terparkir di sana sangat banyak–lebih banyak dari hari pembukaan kemarin. Gue berhenti berlari dan langsung memfoto beberapa kali kondisi parkiran yang padat yang untungnya tetap rapih itu. Gue kembali berlari dan sampainya di lapangan, penonton sudah memenuhi lapangan utama, pinggir lapangan, dan beberapa booth ekskul. MC baru saja naik panggung dan langsung membuka acara, membuat perhatian sebagian besar penonton terarah ke panggung.

Selagi mereka memberi pembukaan, gue mencatat dengan tangan gemetar karena panik sehingga gue nggak bisa menulis dengan cepat dan jelas, tapi untungnya walaupun tulisan gue kayak cacing kepanasan, gue tetap bisa membacanya. Dan karena kelompok gue yang liputan hari ini udah menyebar ke beberapa titik, gue pun melakukan hal yang sama, yaitu meliput di belakang panggung.

Suara-suara HT di sekitar gue kembali terdengar dan Yasa berada nggak jauh dari tempat gue berdiri dan mencatat.

“Modern dance stand by!”

Anak dance nggak bisa tampil! Satu anggota muntah-muntah dan satu lagi diare, jadi harus dibawa ke booth medis!”

Buset, baru aja awal acara, udah chaos aja. Tapi memang nggak ada yang bisa memprediksi keadaan lapangan sih, semaksimal apapun lo mengantisipasi, akan selalu ada celah untuk hal-hal di luar prediksi terjadi.

Ganti band langsung!”

Anak-anak band suruh stand by, lima menit lagi tampil!”

Gue melihat satu orang panitia berlari dari belakang panggung menuju ruangan tempat pengisi acara berada. Walaupun nggak berada di ruangan itu, tapi gue bisa lihat mereka panik dan langsung berlari ke luar ruangan. Bahkan ada yang baru saja mengunyah roti, tapi buru-buru ditelan dan minum air banyak-banyak. Ada juga yang baru saja mengenakan kaos kaki dan harus mengenakan sepatunya di belakang panggung.

Setelah memastikan bahwa penampil selanjutnya bisa tampil, Yasa berlari ke booth medis dimana dua anggota modern dance sedang terbaring di sana dan nggak lama setelah kedatangannya, anak-anak PMR langsung membawa mereka berdua ke UKS menggunakan tandu. Gue bisa melihat Yasa sedang berkomunikasi dengan dua perawat UKS dan setelah itu pergi ke ruang pengisi acara untuk menemui ketua ekskul tersebut.

Anak-anak band sudah memulai penampilannya dengan membawakan lagu JKT48 yang judulnya Bersepeda Berdua. Mahesa seperti biasa ada di tengah dengan kamera dan tripodnya yang super tinggi itu sehingga bagian atas panggung bisa direkam dengan sangat presisi. Untung aja dia memang tinggi, coba kalau gue yang jadi kameramen, kayaknya gue lebih pilih menerbangkan drone.

Lampu belakang panggung mati!”

Gue yang mendengar bocoran informasi itu langsung menengok ke arah panggung dan benar saja, lampu di bagian belakang panggung tempat dimana seorang anggota band memainkan drumnya memang mati.

Terusin penampilannya sampai selesai, nanti kalau udah selesai baru diperbaiki. Kasih tahu MC suruh improve lima menit, kasih games ke penonton.” Yasa memberi arahan.

Anak dance gimana? Bisa tampil full atau nggak? Abis lampunya bener, mereka harus tampil!”

Nggak bisa. Dua anggota nggak bisa tampil. Barusan ketuanya konfirmasi ke gue mereka butuh 10 menit untuk ngubah blocking. Tari suruh tampil dulu.” kata Yasa lagi.

Oke, oke.”

Lampunya gimana?”

"Udah aman!"

Padahal bukan gue yang ada di situasi mereka para panitia, tapi entah kenapa mendengar masalah yang akhirnya bisa mereka selesaikan dengan baik tanpa mengorbankan jalannya acara, membuat gue ikut lega.

“Penampilan selanjutnya adalah tari tradisional SMA Permata yang akan membawakan tarian yang mereka gubah sendiri. Persiapannya sampai berbulan-bulan lho. Malam ini mereka cantik-cantik karena memadukan kostum ballet dan tradisional. Kita kasih tepuk tangannya bareng-bareng ya!”

MC turun dan membiarkan anak-anak tari naik disertai dengan tepuk tangan dan sorak-sorai para penonton yang beberapa mulai mengarahkan kamera ponselnya ke arah panggung. Beberapa penonton yang tadinya masih sibuk di booth-booth ekskul, sekarang langsung memadati area panggung, membuat beberapa panitia berjaga di sana supaya mereka tidak menghalangi kamera.

Gue tersenyum lebar saat menemukan Gia di antara para penari. Dia cantik banget malam ini. Kelihatan anggun, tegas, dan luwes.

Sayangnya, gue nggak menonton penampilan mereka sampai habis karena kembali ke belakang panggung untuk memantau kegiatan panitia di sana kemudian mencatatnya.

Setelah tari, dance tampil ya. Setelah dance, MC naik buat kasih games 10 menit terus lanjut teater.”

“Oke, Yas.”

Kayaknya Yasa belum sempat narik napas, suara HT kembali bersahut-sahutan, dan kali ini salah satu panitia memberi informasi bahwa band alumni terjebak macet yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. Panitia udah lumayan panik karena kalau mereka nggak berhasil keluar dari kemacetan, maka mereka dipastikan nggak bisa tampil untuk penampilan penutup malam ini. Memang sih, mereka masih tampil di akhir acara nanti, tapi durasi penampilan satu ke penampilan lainnya tuh nggak berasa alias cepat banget.

“Pril, pinjam pulpen bentar,” ujar Yasa yang membuat gue langsung menyodorkan bolpoin yang tadinya gue pakai untuk mencatat keadaan sekitar. Tangan cowok itu dengan lihai mencorat-coret kertas rundown dan mengubah beberapa susunan acara dengan wajah yang masih tenang. Ia mengembalikannya setelah sudah selesai. Nggak lupa bilang makasih.

Oke, tenang dulu, guys. Setelah ice break, lanjut ke teater kan. Nah, setelah teater, MC suruh improve lima menit dan disaat itulah kita harus pastiin band alumni bisa datang atau nggak. Setelah MC turun, langsung flashmob. Kalau sampai flashmob mau selesai dan band alumni belum datang, acara langsung ditutup aja. Oke? Paham kan?”

Oke, ini gue juga lagi berusaha contact mereka lagi. Katanya mereka lagi berusaha nyari jalan pintas.”

Gue meninggalkan belakang panggung untuk mencoba meliput tempat lain, yaitu booth ekskul-ekskul yang fokusnya udah mulai terbagi antara menonton penampilan di atas panggung sana sekaligus melayani penonton yang tertarik dengan apa yang mereka jual.

Supaya nggak terlalu lama, gue hanya membatasi diri 5-10 menit untuk mengunjungi dan mengamati setiap booth.

Jujur, yang paling mewah memang booth modelling, seni lukis dan kerajinan, film, dan tata boga karena mereka berjualan merchandise buatan sendiri yang semuanya menarik. Ada yang jualan gantungan kunci, lukisan, kerajinan dari bahan daur ulang, baju dari kain perca yang gue nggak nyangka bakalan sebagus itu karena mereka benar-benar memikirkan pola-pola acak yang terbentuk alias nggak asal jahit aja, ada juga yang jualan totebag dan kaos sablon.

Booth ekskul film udah kayak toko vintage, sementara booth ekskul modelling udah mirip distro kecil. Nggak heran sih, karena anggaran mereka pasti nggak main-main soalnya rata-rata yang bergabung dengan ekskul-ekskul itu adalah kalangan orang menengah ke atas.

Saking fokusnya mengamati booth ekskul, gue nggak sadar kalau intro musik dari modern dance yang khas itu menggema di sound system, seketika langsung mengundang lebih banyak penonton untuk berkerumun di lapangan utama, membuat gue agak panik dan langsung menepi ke booth ekskul terdekat supaya gue nggak tenggelam di antara mereka.

Lihat selengkapnya