Ruangan itu redup untuk ukuran tempat yang berjendela lebar dengan siraman cahaya matahari dari luar. Belum lagi lilin yang menyala tidak jelas di pinggiran sisi meja sang kepala sekolah.
"Ini cukup merepotkan," ucap anak laki-laki dengan seragam biru muda dan sorot mata bernuansa biru pudar itu. Dirinya berdiri dengan tegak dihadapan kepala sekolah. Mungkin hal itu adalah wujud penghormatan, tapi aura anak itu menyiratkan kalau posisinya tidak serendah itu.
"Anak ini ada jauh di luar kota tempat tinggalku. Seharusnya ini tugas guru atau...tunggu sebentar,bukankah anak itu tinggal di kota ini?" anak itu menjelaskan dengan perinci akan ketidaksetujuannya. Ada orang lain yang lebih tepat memainkan perintah ini.
"Tetangga malahan. Tapi, tidak. Kau yang paling dapat diandalkan, Nak," ucap kepala sekolah santai menanggapi argumen anak di depannya.
Candle memejamkan matanya selama beberapa detik yang panjang. Memikirkan sesuatu yang sepertinya harus ia pertimbangkan dengan baik. "Baiklah. Jangan buat diri Anda menyesali ini."
Tanpa basa-basi lagi, Candle segera berbalik meninggalkan ruangan tersebut. Menggaungkan suara yang tidak berperasaan dari sepatunya. Membuka dan menutup pintu sekadarnya yang deritnya dapat mengganggu kenyamanan.
***
Tempat tujuannya hampir serasa seperti sebuah kota mati. Mungkin saja nuansa itu muncul karena hawa panas yang membuat orang enggan keluar. Di sisi lain, nuansa rumah itu yang seputih tulang membuat Candle menguap cukup lebar. Kesan seperti itu sangat tidak menarik di matanya.
Terlepas dari hawa tidak menyenangkan yang membuat keadaan di sekitar tempat itu menjadi sunyi. Bagi Candle, tidak ada yang menarik sekalipun dari tempat ini atau pun rumah itu. Bahkan tidak ada yang bisa memengaruhi geraknya dari tempat itu. Selebihnya, Candle murni bergerak karena perintah dari sang kepala sekolah sendiri.
Apakah guru-guru takut dengan hal receh seperti ini? Mungkin iya, karena akhirnya mereka mengutus Candle untuk mendatangi tempat ini.
Candle mengamati rumah putih itu dari atas pohon tempatnya duduk. Dua tingkat rumah itu dan anak itu ada di tingkat atasnya. Hal itu sudah terasa cukup jelas.
Sungkan mengulur waktu lebih lama, Candle lalu menjentikkan jarinya membuat satu-satunya jendela di tingkat atas tempat itu terbuka lebar. Memang gebrakannya cukup kasar dan mengagetkan. Tapi paling tidak, hal itu dapat membuat penghuninya sadar akan eksistensi Candle.
Hening selama beberapa saat tanpa kemajuan apa-apa. Dan jujur, Candle sempat berpikir untuk pulang saja. Sampai kemudian, mengudara suara kaki yang bercampur dengan suara menganggu lainnya. Suara itu seakan menyatakan kalau dirinya begitu berhati-hati untuk sekadar menuju arah jendela. Terakhir, wajah seorang anak perempuan melongok dari jendela itu. Kurang lebih, ia sedikit lebih muda dari Candle. Dengan penampilan yang urakan sesuai dengan ekspektasi yang Candle pikirkan.
Candle bangkit agar anak perempuan berambut panjang itu dapat melihatnya dengan lebih jelas.
"Hari-hari yang membosankan, bukan? Di sana terus sepanjang hidupmu," sapa Candle yang hanya dihadiahi tatapan tidak habis pikir oleh anak perempuan di dalam.