Gloom Academy

Za Zlyn
Chapter #3

2. Kedatangan

Reina terbangun di hamparan rumput yang dingin. Rumput yang terasa begitu lebat, rapat, dan landai. Reina tidak tahu rumput apa itu, yang ia tahu itu benar-benar rumput.


Langit di cakrawala sempurna gelap bersisian dengan angin yang berhembus dingin. Dengan tambahan, pohon-pohon menjulang tinggi yang terlihat mengelilingi Reina. Seakan dia adalah pusat dari tempat itu atau bahkan dunia.


Perlahan, Reina bangun dari posisi tidurnya. Reina sempat kesulitan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Meskipun tubuhnya tidak merasakan nyeri atau pegal-pegal. Benar-benar tidak ada bagian yang terasa sakit meski ia tadi sempat menggebrak lantai.


"Kau sudah bangun?"


Reina menoleh ke arah suara yang bervolume normal nan datar itu.


Seorang anak perempuan seumurannya berdiri kaku di bawah bayang-bayang pohon cemara. Ekspresi anak perempuan itu sedatar suaranya. Seakan ia biasa menemui anak seperti Reina atau menunggu seseorang yang tidur di tengah hutan sampai malam.


Anak perempuan itu memakai—tampaknya—seragam sekolah yang berwarna hijau muda. Rambut sepunggungnya dikucir dengan kacamata yang mengilat kekuningan.


Mengilat kekuningan? Itu artinya ada cahaya di sini! Atau paling tidak di sekitarnya. Tepatnya jauh menghadap di depan anak itu.


Hmm... Itu artinya, ada di belakang Reina, kah?


Reina langsung membalikkan badan dengan arah pandang si kacamata. Memandang apa yang ada di sana. Dan benar saja, tiba-tiba dari arah itu terlihat bangunan besar nan megah.


Reina mengernyit. Sebelumnya tidak ada bangunan itu. Apa ada yang salah dengan matanya?


"Ayo. Ini sudah hampir larut," ucap si kacamata yang tiba-tiba sudah berjalan melewati Reina.


"Kau siapa?" tanya Reina tidak beranjak dari tempatnya. Terus bersikap waspada.


Si kacamata menoleh. Memandang Reina cermat dalam sekejap. Hanya sekejap namun Reina rasa seluruh pengetahuan tentang dirinya sudah dilahap anak itu.


"Tidak perlu takut," ucap anak itu datar. "Mungkin saja aku tidak akan membahayakan bagimu."


Reina akhirnya berakhir mengikuti anak kacamata itu. Memang sulit dipercaya, tapi tampaknya itu satu-satunya pilihan yang diberikan tempat itu untuknya. Belum lagi, perasaan adanya banyak pasang mata selain manusia yang mengawasinya dari balik pepohonan hutan.


Sepanjang jalan, tidak ada satu pun percakapan yang bertengger. Hanya ada hawa dingin dan sunyi di sepanjang jalan hutan, jalan setapak, hingga lorong-lorong luas gedung-gedung. Terakhir, si anak kacamata menunjuk Reina untuk memasuki suatu tempat penuh berisi orang.


Lihat selengkapnya