Gloom Academy

Za Zlyn
Chapter #4

3. Pelajaran Pelemahan

Semuanya berjalan begitu saja dalam hidup Reina. Keberadaan eksistensi kosongnya di kamar tertutup itu. Atau keberadaan eksistensi identitasnya yang pastinya begitu pasaran di kelas merah sekarang. Semuanya, tidak ada yang pantas diperhatikan sama sekali.

Di tempat barunya itu, kejanggalan demi kejanggalan bagai hal yang biasa dilihat. Hal itu bahkan tidak begitu mengejutkan bagi Reina mengingat bagaimana ia tiba di tempat itu. Perbedaan mencolok suasana di koridor kelas saat pagi dan malam hari. Atau pun iris mata Reina yang tiba-tiba berwarna merah padahal aslinya hitam kecokelatan. Intinya, mungkin hal tidak biasa adalah inti dari tempat itu.

Sejauh ini, hanya tiga jenis murid yang telah Reina temui. Warna merah, warna hijau, dan warna jingga. Semuanya dilihat dari balutan seragam berok dan berlengan panjang mereka. Seragam bernorma kesopanan tinggi yang terlihat begitu anggun dan penuh wibawa.

"Tidak ada murid laki-laki di sini?" tanya Reina selesai pelajaran pada anak yang sebelumnya menyeretnya masuk ke asrama merah. Yap, seluruh anak kelas merah, jingga, dan hijau memiliki jenis kelamin perempuan. Bahkan untuk tempat yang mereka sebut Gloom Academy ini, Reina belum sempat menemui master laki-laki. Semua master sejauh ini masih perempuan. Meski begitu, Reina belum ada satu hari di tempat itu dan baru mengikuti sedikit pelajaran. Masih ada banyak peluang untuk perubahan.

Anak yang ditanyai Reina tampak berpikir sebentar mendengar pertanyaan itu. "Hmm... tidak! Dan lebih bagus seperti itu."

"Maksudnya?" tanya Reina tidak mengerti. Jika di sekolah itu benar-benar tidak ada murid laki-laki. Lalu, siapa anak laki-laki yang menerbangkan sapu tangan padanya waktu itu? Reina tidak begitu yakin, tapi secara logika ia baru masuk tempat ini setelah bertemu anak itu. Bukankah itu artinya, anak ini yang menjadi pembuka gerbang tempat ini untuk Reina! Seharusnya paling tidak, Reina mendapat kejelasan tentang anak itu.

"Ya... kalau ada murid laki-laki di sini. Para bocah kelas hijau itu tidak akan terlalu repot menghadapi kita dan para anak jingga itu. Mereka akan terlalu santai dan itu menyebalkan. Biarkan para bocah hijau itu tertelan kelebihan mereka sendiri."

Reina mengernyit. Jadi... jika anak kelas hijau adalah kelebihan, apakah maksudnya bahwa anak kelas merah dan jingga—termasuk mereka—itu adalah segerombol kekurangan?

Seorang anak kelas merah lain tiba-tiba mendatangi Reina dan konsultannya. Tanpa ragu, anak yang berpostur tinggi semampai itu menepuk bahu konsultan Reina.

"Kin, apa yang mau kau lakukan setelah ini?" tanya si penepuk bahu.

Konsultan yang dipanggil Kin itu mengangkat bahunya. "Mau apa lagi? Menunggu kelas utama itu, lah."

Si penepuk bahu terbelalak. "Tanpa bersenang-senang dulu?"

Konsultan Reina berdecak. "Untuk apa bersenang-senang. Jika kau berpikir sedikit saja. Apa yang aku lakukan itu lebih tepat."

Reina mengernyit bingung akan percakapan yang terhampar di hadapannya. Memangnya, setelah ini kelas apa? Bukankah kelas sudah berakhir siang ini?

Lihat selengkapnya