Theresa tengah memilih minuman di mesin pendingin khayalannya ketika seekor kucing hitam mendekatinya. Cukup di sayangnya karena di khayalannya Therese baru mengambil susu kotak incarannya.
Theresa melirik kucing hitam yang cukup sering mengganggu hidupnya beberapa tahun ini. Selama beberapa saat mata ke dua makhluk itu bertemu dalam kilasan singkat.
Kemudian, Theresa bangkit dari tempat duduk di kelasnya. Menyisihkan pikiran tentang kotak susu bergambar monyet yang hampir ia bayar di kepalanya.
"Aku akan segera kesana, " ucap Theresa datar. Kucing itu mendesis keras kemudian berlari cepat ke rimbunnya rerumputan.
Theresa mengangkat bahunya, kucing itu selalu bertingkah seperti ia dikejar sesuatu saja. Memangnya tuannya sekejam itu jika dirinya tidak datang ke sana?
Malas berpikir lebih lama, Theresa segera bergegas meninggalkan kelasnya.
***
Laki-laki paruh baya itu tengah memetik jeruk ketika Theresa datang.
Meski begitu, ia tidak langsung menghadap Theresa dan melanjutkan pekerjaannya itu.
"Langkah kakimu dapat menakuti orang, Theresa, " ucap laki-laki itu masih sibuk memetik jeruk. Dia berbicara seakan langkah kaki Theresa membuatnya sangat terkejut. Padahal nyatanya orang ini tidak terlonjak sedikitpun.
"Master memanggil saya? " tanya Theresa begitu saja. Tidak menggubris sambutan orang itu yang membahas tentang langkah kaki.
"Apa? Kapan? Yah, memang aku berniat memanggilmu, sih. Tapi setelah kupikirkan lagi... Ehm...Ada jeruk-jeruk malang yang tidak terpetik...! Aku jelas tidak bisa mengabaikan buah berharga ini! Yah, mungkin besok saja, Tessy, " ucap Sang Master ceria.
Theresa menghembuskan napas berat. Hal ini cukup sering menimpa kesehariannya. Master Oka memanggilnya lalu segera berubah pikiran tanpa menarik panggilan pertama. Theresa lalu bersiap berbalik pergi ketika Sang Master kembali berbicara.
"Soal anak itu. Yang kau jemput belum lama ini. Ia pingsan lebih cepat dari dugaan," ucap Sang Master santai sembari memperhatikan jeruk di tangannya secara bolak-balik.
Theresa mengernyit. "Itu tidak ada kaitannya dengan saya, Master Oka."
"Begitu? Yah, karena kau pernah berkata ini itu tentang anak kelas merah itu. Aku tidak menyangka ia selemah itu dari ceritamu. Hmmm... Jika begitu, bagaimana kalau kita melakukan kunjungan untuk melihat keadaannya," usul Master Oka santai sembari mengupas jeruk di tangannya.