Gloom Academy

Za Zlyn
Chapter #6

5. Tiga hari

"K... A...Anda... E... Anda tidak seharusnya tidur di sini," ucap suatu suara membuat Reina sedikit demi sedikit memulihkan kesadarannya.

Ketika keburaman pandangannya menghilang, dihadapannya tengah duduk seorang anak perempuan yang memandangnya gugup. Dari pakaian yang dikenakannya, Reina tahu kalau anak itu berasal dari kelas jingga.

"Kau siapa?" tanya Reina tanpa basa-basi.

"E... Maaf! Saya pasti sangat mengganggu tidur Anda!"ucap anak perempuan itu canggung. Ia bahkan sama sekali tidak berani menatap kedua mata Reina.

Reina mengernyit mendapati kecanggungan yang disodorkan pada dirinya. " Apa... kau itu anak baru?"

"Ti... tidak! Saya sudah sembilan tahun disini! Tu.... tunggu, tampaknya bahkan lebih lama dari itu," ujar si anak berakhir kebingungan.

"A.. APA!? Sembilan tahun? Memangnya seberapa lama waktu untuk lulus dari sini?" tanya Reina cepat. Ia refleks memegang bahu lawan bicaranya dengan erat.

"Lu...lulus tiap orang berbeda," ujar si anak seragam jingga dengan lambat. Anak itu lalu menundukkan kepalanya cepat, tampak terlihat muram.

Melihat itu, Reina tiba-tiba ingin menenangkan anak di depannya. Tapi ia tidak tahu cara melakukannya. Apakah cukup dengan mengunci anak ini di ruang tertutup yang sekiranya jauh dari kegundahannya?

Selama beberapa saat waktu bagai terhenti diantara keduanya hingga angin sore yang kencang menginterupsi peristiwa tersebut. Reina dan anak satunya langsung mengernyit dan spontan memeluk tubuh mereka masing-masing. Keduanya kemudian bertatapan sebentar seperti menyadari sesuatu dan akhirnya tertawa.

Berhubung arah ke tiga asrama merah, jingga, dan hijau sejalan. Mereka akhirnya memutuskan pulang bersama. Membicarakan sedikit banyak hal yang terlintas begitu saja di pikiran?

"Anda baru di sini? Ehm... Kalau begitu pantas saja," renung anak jingga itu kembali berekspresi muram. Ia mengetuk dagunya dengan tatapan mata yang menerawang jauh ke pemandangan lain. Mengabaikan pemandangan langit sore yang tampak megah dan indah.

Reina mengernyit, memikirkan apa kiranya kesalahan yang ia lafalkan. Apakah ada ucapannya yang tidak sesuai dengan selera anak ini? Atau apakah anak ini punya alergi aneh terhadap pemandangan sore yang indah?

"Benar juga! Panggil saja aku Reina," ucap Reina mengulurkan tangannya.

"U... untuk apa?" tanya Sumi terkejut dengan tingkah Reina.

Reina memandang ke arah tangannya selama beberapa saat. Ia sendiri kurang tahu kenapa tangannya bereaksi seperti itu. Maka dari itu, Reina dengan cepat menarik tangannya lagi.

"Panggilan dengan kata Anda itu aslinya memang bagus. Cuma terasa kurang saja, begitu. Maka dari itu, panggil saja aku Reina agar... Yah... terasa mudah dan nyaman saja," jelas Reina.

Sumi yang gantian mematung dengan tingkah Reina. Hanya sebentar sebelum ia menarik napas panjang. Menguatkan dirinya sebaik mungkin.

"Em...Kalau begitu, cukup panggil aku Sumi, saja," balas Sumi. Kali ini ia tampak sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

"Bagus! Dengan begini besok kita bisa bertemu lagi. Mela..."

"Kalau soal itu," sergah Sumi tiba-tiba memotong pembicaraan Reina. "Tidak ada yang namanya hari esok."

***

Malamnya Reina memikirkan arti kata Sumi di atas ranjangnya. Kemudian ia memikirkan ekspresi Sumi yang tidak mau bertatap mata dengannya itu. Keadaan Reina itu berlangsung sampai larut malam. Akhirnya Reina tersergap rasa kantuknya sendiri dan berakhir tertidur pulas di ranjangnya.

Suara gesekan piring yang diiringi suara dencingan rantai dan gesekan kain sukses membangunkan Reina. Suatu kebiasaan bangun paginya yang ia idap bertahun-tahun ini.

Lihat selengkapnya