Theresa tengah menggambar susu kotak dengan gambar hewan kera ketika seekor kucing hitam muncul di sekitarnya. Lagi-lagi, kucing itu menjerit dengan samar ke arahnya. Alhasil, Theresa berjalan dengan cepat masuk ke perkebunan jeruk. Meninggalkan kelasnya entah yang sudah beberapa kalinya.
Di kebun jeruk itu, rupanya Master Oka tengah piknik dengan kepala sekolah. Mereka tengah berbincang santai seru. Theresa memutar matanya melihat itu dan bersiap membalikkan tubuhnya untuk pergi.
"Theresia!" panggil Master Oka keras-keras padahal namanya jelas-jelas salah. Dengan santai, Master Oka berjalan mendekati Theresa tanpa seizin kepala sekolah.
Kepala Sekolah tampak tidak terganggu dengan hal itu. Dia tidak melirik apalagi memandang ke arah Theresa. Hanya sibuk menikmati piknik sederhana di tempat itu. Minum jus jeruk dan beberapa biskuit dan roti panggang.
"Sebenarnya aku mau membicarakan hal ini padamu, Theresa. Lalu, aku berpikir pasti lebih baik jika dibicarakan di hari ke 3 nanti," jelas Master Oka berbelit-belit.
"Baik, saya mengerti akan pikiran Anda. Kalau begitu, saya pergi dulu," ucap Theresa bersiap pergi. Ia sudah cukup biasa dengan rutinitas seperti ini.
"Tunggu dulu, Theresa. Kita bicarakan sekarang saja. Ini masalah yang penting. Lebih cepat dibicarakan lebih baik," jelas Master Oka memandang Theresa serius lalu menganggukkan lehernya.
"Baiklah," ucap Theresa akhirnya dan Master Oka pun mengiring Theresa ke tempat yang sekiranya tidak terdengar kepala sekolah.
"Beberapa jam yang lalu Nara Reina dan Sumi Kiara mendatangiku," ucap Master Oka menceritakan apa yang terjadi. Perbincangan dan piknik minum jus jeruk.
Theresa mempertajam pandangannya selagi Master Oka menjelaskan apa yang terjadi pada pertemuan itu.
"Jadi, Anda hanya memerintahkan Sumi saja? " tanya Theresa hati-hati.
"Aku tahu Reina mungkin akan mematuhiku jika aku juga memerintahnya. Hanya saja, aku tidak punya hak untuk memerintah Reina sejauh itu. Aku bukan masternya," jelas Master Oka.
Theresa memandang ke arah rerumputan untuk berpikir sebentar. "Jadi, Anda akan memerintah saya untuk lebih mengawasi Sumi?"
"Tepatnya, jadilah penengah dua anak itu, Tessy."
Theresa menghembuskan nafas panjang. "Anda tahu, ini hal yang sangat berat sekali."