Gloom Academy

Za Zlyn
Chapter #9

8. Pelajaran Penguatan


Mengingat ekspresi ceria anak kelas merah ketika memasuki kelas pelemahan. Reina merasa harus waspada saat pertama kali masuk kelas khusus lain pada hari kedua. Yaitu kelas penguatan.


Kelas merah berjalan penuh percaya diri memasuki ruangan yang begitu besar. Di dalamnya, ada tanaman-tanaman megah yang di pasangi beberapa payung dengan bangku-bangku tertata rapi yang tersebar luas.


Atap di atas kepala mereka terbuat dari kaca yang mengkilap terang nan dingin. Sejujurnya, hal itu lebih terasa seperti mereka di ancam oleh bentangan langit sore. Keindahan yang tragis adalah bahasa yang tepat untuk langit sore di ruangan itu.


Anak-anak kelas merah langsung menyebar sesuai kehendak masing-masing. Ada yang bergerombol juga ada yang memilih sendiri saja. Di lain sisi, tiba-tiba anak kelas jingga dan hijau berdatangan.


Para anak jingga memakai seragam seperti biasa sama seperti anak kelas hijau dan merah. Namun dari segi sikap, anak jingga terasa tunduk dibandingkan gaya anak hijau yang setara. Setara pun itu cukup menekan karena mengingat anak hijau yang hanya segelintir. Jumlah mikro yang entah kenapa dapat berdiri seimbang dengan jumlah makro.


Beberapa anak jingga mendatangi anak-anak kelas merah, bertanya ini itu dengan anak kelas merah. Setelah beberapa waktu berlalu berlalu, Reina mengerutkan keningnya saat anak-anak kelas merah bagaikan raja di atas anak-anak kelas jingga.


Beberapa anak kelas jingga ada yang memijat, bersih-bersih, menyiapkan masakan, atau bahkan menyiapkan tempat berpiknik. Yah, meskipun juga ada anak jingga yang cuma ngobrol saja. Tapi ketimpangan itu jelas terlihat.


Anak-anak hijau sendiri lebih tidak jelas lagi kegunaannya. Beberapa dari mereka memang mengobrol atau membantu anak jingga. Tapi kesan yang disampaikan dari kelas hijau lebih terasa tidak terikat oleh apa pun. Bahkan ada yang hanya berdiri saja melihat-lihat keadaan sekitar.


Sambil mengamati hal tersebut, Reina tidak sengaja bertemu dengan orang itu. Tengah duduk di atas tikar sambil menyeruput jus jeruknya. Siapa lagi kalau bukan Master kebun jeruk itu.


"Ah, Reina! Kau bisa duduk disini kalau kau mau," tawar Master Oka menepuk bagian tikar pikniknya.


"Anda tidak main jarak jauh lagi?" tanya Reina heran. Meski dirinya berulang kali dibuat tidak tahan dan menjauh spontan dari master itu. Entah kenapa, ia tetap menurut saja saat master itu menyuruh sesuatu padanya. Mungkin alasannya sederhana, karena orang itu adalah master dibanding Reina yang cuma seorang murid.


"Masih," sahut Master Oka ringan. "Tapi santai saja dalam keadaan seperti ini. Nah, silahkan duduk! Ini adalah waktu yang sepantasnya kau nikmati sebagai anak kelas merah."


Reina akhirnya duduk di atas tempat yang disarankan Master Oka. Di atas tikar berpiknik yang halus dengan suguhan jus dan beberapa camilan.


"Anda tidak menawarkan saya jus Anda lagi?" tanya Reina polos.


"Aku tertarik melakukan itu. Hanya saja, kurasa jusku hanya akan menjadi kenangan kosong saat ini," ujar Master Oka. "Tapi tak usah khawatir. Ada anak yang telah di tugaskan melayanimu seperti anak jingga lain."


Lihat selengkapnya