Gloom Academy

Za Zlyn
Chapter #10

9. Kelas Penetralan


Keesokan harinya, Master Oka bagai lenyap begitu saja. Padahal biasanya ia selalu terlihat dan membuat Reina merasa benar-benar tidak nyaman. Reina benar-benar penasaran berat dengan warna iris mata master aneh itu.

Di lain pihak, Reina juga sulit menemui segelintir master laki-laki yang lain. Tidak ada satu master laki-laki yang ia bisa temui secara tatap muka langsung. Dia hanya dapat bertemu para Master perempuan yang langsung mengernyit saat melihat keberadaannya. Ngomong-ngomong, para master perempuan itu beriris mata sehijau daun. Seperti anak-anak kelas hijau. Tidak ada dari mereka yang berwarna merah atau jingga atau bahkan warna mata yang lain.

Karena kejadian itu, Reina berakhir menyambut kedatangan Tessy dengan penuh sukacita. Yah, walaupun Reina masih tidak suka dengan cara Tessy yang beraliran tiba-tiba itu. Untungnya, anak itu tidak memakai jas atau terlihat membawa sebuah gunting taman.

"Aku ingin bertemu Master Oka!" titah Reina tanpa basa-basi. Sukses membuat Tessy mengernyit mundur tampak tidak suka.

"Memangnya apa yang membuatmu tergila-gila untuk menemuinya? Apa yang menarik perhatianmu, Nara Reina? " tanya Tessy.

"Aku ingin melihat warna matanya," cetus Reina cepat. Tidak ada yang perlu ia sembunyikan.

Tessy mengerjap, berpikir sebentar, lalu memandang Reina selama beberapa saat yang cukup lama. Terasa tengah menimang pikiran atau kata yang ingin ia lontarkan.

"Hal yang sangat tidak perlu untuk dirimu ketahui, Nara Reina. Dan lagi, Master Oka memutuskan untuk menjaga jarak darimu. Dia tidak mau bertemu denganmu kali ini. Setidaknya itu juga termasuk perintah kepala sekolah agar Master Oka lebih menjaga dirinya sendiri. Terlebih disaat seperti ini," jelas Tessy.

"Apa maksudnya itu?" tanya Reina penasaran. Ia berjalan selangkah mendekati Tessy. Tessy pun mengambil jalan mundur satu langkah.

Tessy memandang Reina dengan penuh waspada. "Entahlah, aku sendiri tidak begitu harus tahu karena mempunyai hal lain yang perlu diurus. Intinya, Master Oka cukup tampak menyedihkan karena harus mengurus seseorang seperti kalian. Ia awalnya hanya mengurus Sumi yang seperti itu. Belum lagi, keberadaanmu yang memperburuk seluruh keadaan."

Reina tersenyum miring. "Kau berkata seakan kami adalah barang pinggiran yang harus dipandang sebelah mata."

Tessy menghembuskan napas dalam lalu berjalan mendahului Reina. "Mari kita ke kelas penetralan saja. Soal barang pinggiran itu... Hm... Akan lebih bermanfaat jika kalian benar-benar dipinggirkan seperti itu."

Reina dan Tessy tidak berbincang walau hanya satu patah kata. Bisa dibilang, perjalanan mereka ke kelas penetralan adalah atmosfer terdingin sepanjang interaksi mereka selama ini. Keadaan bahkan makin buruk dengan absennya Sumi Kiara.

Kabar baiknya, Reina bertemu Sumi kembali yang tengah ehm... tampak depresi. Atau mungkin kelelahan, ya... lelah karena depresi tampaknya. Jadi hal ini mengurangi kadar kabar baiknya.

Meski begitu, rupanya ruangan untuk kelas penetralan bahkan lebih luas daripada ruangan kelas penguatan. Ruangan itu mampu menampung para murid dari berbagai kelas dan para master. Tentu saja, hanya ada para master perempuan bermata hijau. Serta sebuah lukisan pria tua mencolok yang tampak mengawasi seluruh murid di tempat itu.

Lihat selengkapnya