"Reina!"
Seseorang memanggilnya lembut penuh kehangatan. Wajah yang tidak diingat dan semilir angin yang menyebarkan dedaunan. Senyuman hangat yang berubah menjadi kecemasan.
"Ada apa?" tanya Reina waktu itu.
"Kita harus segera pergi, manisku. Kalau mereka sampai merasakan keberadaanmu dan apa yang bersemayam dalam dirimu. Mereka tidak akan melepaskanmu," ucap orang tersebut segera menggendong Reina dan membawanya pergi.
"Mau kemana?" tanya Reina lagi.
"Puri mimpi. Ingat itu baik-baik."
Reina terkesiap. Bayangan ingatan yang sudah lama terlupakan itu bagai memukul kepalanya keras. Ia lalu kembali memandang sosoknya yang lebih dewasa.
"Yah, hal itu sudah lama sekali terjadi. Dan kita gagal hingga menjadi tahanan rumah," ucap Reina dewasa masih memainkan jari di lantai.
"Siapa dia?" tanya Reina muda maju selangkah.
"Dia... seharusnya jadi orang yang penting. Tapi karena dia sudah mati hal itu sudah tidak berarti lagi," jawab Reina dewasa setengah malas.
"Orang penting?" Reina bertanya-tanya. "Siapa?"
"Hmm... Secara silsilah nyata, sih orang itu adalah ayahmu," jawab Reina dewasa.
Detik itu juga pikiran Reina terasa kosong. Ada banyak hal yang terasa terlalu berat untuk dimengerti.
"Kau tidak menanyakan tentang puri mimpi? Hal yang dipesankan ayahmu?" ujar Reina dewasa memaksa pikiran Reina muda untuk kembali fokus.
"Tempat apa itu? " tanya Reina muda.
Reina dewasa mengambil sikap duduk di ranjang. "Tempat itu ada di gloom academy ini. Tapi jangan kau harap mendapat jawaban dari para master atau anak sebangsa dengan si kacamata itu. "
"Tessy? "
Reina dewasa tertawa kecil sembari menggeleng. "Tak usah sok akrab dengan anak itu. Apa kau pura-pura bodoh dengan sikap master dan si Claire itu? Sudah jelas sekali, kan? Mereka mencoba membatasimu. Dan hal tersebutlah yang membuat ayahmu terbunuh."
"Nara Reina, " suara Tessy kembali mengudara. "Apa pun yang kau dengar. Anggap saja itu hanya angin lalu."
Reina dewasa tersenyum sinis kemudian memandang Reina serius. "Apa yang kau pilih, Reina kecil?"
***
Sesudah kelas penetralan, Tessy bersiap untuk mengantar Reina ke asramanya. Mengingat keadaan Reina yang tampak lesu.
"Apakah itu hal yang begitu berat?" tanya Tessy.