GOKS TEACHER

Siti yunia safitri
Chapter #2

Guru Baru

Semua di awali dari pertemuan bukan, karena pertemuan adalah awal dari awal yang baik atau buruk.

Mr.G


Aku berjalan di koridor sekolah yang sudah sepi karena jam pelajaran pertama baru saja dimulai beberapa menit yang lalu. Tujuanku adalah ruangan kepala sekolah. Aku tidak tahu ditempatkan di kelas yang mana. Namun kemarin beliau bilang, aku ditempatkan di kelas yang paling sulit diatur. Aku sudah katakan kepada kepala sekolah bahwa aku tidak masalah ditempatkan di kelas mana saja.

Kita lihat seperti apa nakalnya anak-anak ini.

Tok! Tok! Tok!

"Silakan masuk!"

Ceklek.

Aku masuk ke dalam dan berdiri di dekat pintu.

"Akhirnya Mister datang juga. Ayo ikut saya ke kelas Anda. Saya sudah beri tahu sebelumnya, kan, kalau Mister menjadi wali kelas di kelas ini? Semoga Mister kuat menghadapi mereka, karena saya sudah lelah. Saya sangat berharap Mister dapat mengatasi mereka," ujar Ibu Kepala Sekolah sambil berjalan dan berbicara padaku.

Beliau menyerahkan biodata anak-anak di kelas yang akan kuajar. Aku pun membacanya sampai aku sadar kami sudah berada di depan kelas.

Ceklek.

"Ayo masuk, Mister."

Aku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk.

Wow, sungguh pemandangan yang sangat "indah". Kaki di atas meja, mendengar musik di jam pelajaran, tutorial makeup, bermain kartu, mabar game online, tidur, dan masih banyak lagi. Pakaian mereka pun tidak ada yang benar. Semua seragam dikeluarkan, tidak ada tanda pengenal, dan atribut tidak lengkap. Dan apa itu? Ada yang bahkan tidak mengancingkan seragamnya, hanya mengenakan kaus hitam yang dibalut kemeja seragam.

"Anak-anak, perhatikan!" seru Ibu Kepala Sekolah.

Mereka hanya menoleh sekilas, lalu kembali pada kegiatan masing-masing. Sepertinya banyak yang harus kuperbaiki di sini.

"Ibu membawa guru baru yang akan menjadi wali kelas kalian. Perkenalkan, namanya Mister..."

"Mister G," potongku.

"Eh, iya, Mister G."

"G apa tuh? Gila?" potong seseorang.

"Hahaha..." Mereka semua tertawa.

"Atau gendut kali!"

"Hahaha..." lagi-lagi mereka tertawa.

"Eh, Guys, gajah bukan, sih?"

"Hahaha...."

"Anak-an...."

Kupotong ucapan Ibu Kepala Sekolah dengan isyarat tangan. "Bu, biar serahkan saja mereka pada saya. Ibu jangan khawatir."

"Ya sudah, semoga Mister sanggup menghadapi mereka. Kalau begitu, saya permisi."

"Iya, Bu."

Setelah Ibu Kepala Sekolah keluar dari kelas, aku berjalan perlahan menuju anak yang memulai semuanya. Mereka semua terdiam melihat apa yang akan kulakukan.

"Terima kasih untuk panggilan 'gila'-nya, Soleh," ucapku sukses membuatnya kaget karena aku tahu namanya. "Tunggu, kamu tidak pantas dipanggil Soleh dengan pakaian seperti ini. Kamu lebih mirip kuproy," lanjutku.

"Hahaha! Cocok banget sama muka telantar lu, Kuproy!"

"Terima kasih juga untuk panggilan 'gendut'-nya, Aldo," ucapku pada murid di bangku samping Soleh. Dia ikut kaget karena lagi-lagi aku tahu namanya.

"Dan Muthe, terima kasih juga untuk panggilan 'gajah'-nya."

Aku berdiri di depan kelas. "Kita mulai pelajaran hari ini, tetapi saya ingin kalian duduk lebih rapi dari ini. Saya hitung sampai sepuluh. Jika masih belum rapi, maka akan ada sanksi yang harus diterima!"

"Satu!"

"Dua!"

"Tiga!"

"Empat!"

"Lima!"

Karena tidak ada tanda-tanda mereka akan merapikan duduknya, aku mengeluarkan sebuah benda yang kuyakin bisa membuat mereka takut. Kuteruh benda itu di atas meja guru. Semua murid menatap dengan tegang.

Aku mengeluarkan sebuah pistol—lebih tepatnya pistol mainan.

"Mister hitung lagi dari awal. Satu!"

Mereka terburu-buru membenarkan posisi duduk masing-masing. Aku terkekeh melihatnya. Bagaimana bisa anak-anak pembuat onar ini takut dengan benda seperti ini?

"Mister akan menjadi wali kelas kalian sampai kalian lulus dari sekolah ini. Sekarang kalian kelas 3 SMA, kebersamaan kita masih panjang. Coba saja kalau kalian berani nakal di kelas Mister. Kebetulan, Mister memegang pelajaran Sejarah di kelas ini."

"Wahai anak-anak IPS 3, kalian akan berhadapan dengan guru yang tidak akan kalian duga sebelumnya. Jadi, bersiaplah!" Aku menyeringai. "Keluarkan buku kalian!"

Aku menuliskan kata-kata di papan tulis dengan ukuran yang cukup besar: 17 Agustus 1945.

"Apa yang kalian tahu tentang tanggal ini?" tanyaku pada mereka.

Lihat selengkapnya