GOKS TEACHER

Siti yunia safitri
Chapter #3

Bully

Berawal dari bully, berakibat fatal bagi masa depan seseorang.

~

Mr.G


Jam pelajaran hari ini selesai. Semua murid mendapat pelajaran pertama hari ini. Ini bukan hanya soal akademik, tapi mereka belajar untuk mengikuti pelajaran tanpa tidur, bermain, apalagi bolos. Semua mengikuti pelajaran dengan baik tanpa ada protes. Mereka mengerjakan soal demi soal dari setiap pelajaran semampu mereka.

Mereka cukup payah di bidang akademik, tapi mereka sok jagoan hanya karena kekuasaan.

"Pulang sekolah langsung ke rumah! Jangan ada yang mampir ke tempat lain dulu, paham kalian?"

"Hem," Mereka menjawab dengan deheman saja.

Mereka akan belajar tata krama seiring berjalannya waktu. Kupastikan semua kebiasaan ini akan hilang. Mereka berhamburan keluar kelas tanpa basa-basi dan tanpa pamit, bahkan tidak ada yang bersalaman padaku. Aku ada di belakang mereka saat mereka pulang, memastikan tidak ada yang berbuat ulah di sekolah.

Namun, ada tiga orang yang belum kulihat keluar dari gerbang sekolah. Tiga orang itu adalah geng perundung, yaitu Shani, Jinan, dan Chika. Kucari mereka ke gudang. Firasatku mereka ada di sana dan sedang melakukan sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka.

"Heh, kalau lu berani kotorin sepatu gue lagi, jangan harap lu bisa lolos dari gue! Lu bakalan jadi babu gue selama satu bulan!" teriak Shani pada Grezano.

"Ma ... maaf, Shan, nanti aku ganti sepatunya."

"Ganti? Uang dari mana lu? Orang tua lu udah lama bangkrut. Lu dan keluarga lu udah lama jadi gembel, enggak punya uang! Sok-sokan mau ganti sepatu gue yang mahal ini!"

Sudah kuduga, Shani ini orang yang tidak banyak bicara tetapi lebih banyak bertindak. Dia lebih suka bertindak daripada berdebat. Namun, Shani sebenarnya selalu mencari cara agar Grezano melakukan kesalahan supaya selalu berurusan dengannya, karena dia punya tujuan lain. Tidak ada yang tidak kuketahui tentang murid-murid spesial ini.

Tok, tok, tok.

Kuketuk pintu yang setengah terbuka itu. Aku berdiri di ambang pintu.

"Shan, guru gila ini lagi. Balik yuk," bisik Jinan.

"Iya, Shan, balik yuk. Gue enggak mau berurusan sama guru ini, pusing kepala gue," bisik Chika.

Mereka ini berbisik tetapi masih bisa didengar. Memang perempuan begitu, bisik-bisik tetapi sengaja agak kencang biar terdengar oleh orang lain.

Aku berjalan ke arah mereka. "Grezano bangun, pulanglah. Beritahu Mister jika Shani mengganggumu lagi."

"Iya, Mister, terima kasih." Grezano pun beranjak pergi.

Aku menatap Shani dengan intens. "Chika, Jinan, tutup telinga kalian! Sekarang!"

Mereka sontak menutup telinga mereka. Aku berjalan mendekati Shani.

"Kamu sebenarnya suka, kan, sama Grezano?" ucapku pelan.

Shani membulatkan matanya. Aku hanya tersenyum manis. Shani melirik Chika dan Jinan, berharap mereka tidak mendengar apa yang aku ucapkan.

"Jika besok kamu masih merundung anak-anak, terutama Grezano, maka Mister akan bongkar perasaanmu itu pada Grezano," lanjutku.

"Ja ... jangan, saya mohon jangan, Mister."

"Hem, kalau kamu enggak mau Mister bongkar, mulai besok kamu harus baik pada semua murid di sini, terutama pada anak-anak yang kamu rundung. Deal?"

"Iya, iya, deal."

"Kalau begitu Mister permisi. Jangan pulang terlalu sore, langsung ke rumah dan jangan mampir dulu. Mengerti?!"

"Mengerti."

"Udah, udah, buka telinganya."

"Mister ngomong apa tadi, Shan? Kok kamu panik?" tanya Jinan.

Lihat selengkapnya