Good morning, Nova: Crìoch sàmhach (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #1

Bayangan Sebelum Seragam dan Para Penyelinap

Lantai kayu di lorong rumah selalu mengeluarkan derit yang sama setiap kali angin malam menyusup lewat celah jendela yang renggang. Di rumah ini, keheningan bukanlah ketiadaan suara, melainkan sebuah entitas tebal yang menekan dada.

Aku berdiri di depan cermin berdebu di sudut kamar. Di dalam pantulan kaca yang retak membujur dari atas ke bawah, seorang anak perempuan menatapku balik. Wajah itu porselen pucat, dengan sepasang mata bulat yang memancarkan pendar redup. Rambutku pendek sebatas rahang, berwarna putih kekuningan seperti warna gading tua yang terlalu sering terpapar sinar matahari. Tidak ada garis-garis keanggunan otoriter seperti gaya rambut panjang yang kelak kukenal di masa depan. Di masa ini, sebelum seragam Akademi dan jubah pahlawan dipaksakan ke tubuhku, aku hanyalah sebuah cangkang kecil yang ringkih.

"Selamat pagi, Nova," bisikku pada pantulan cermin. Suaraku masih cemplang, seperti gesekan kertas pasir pada kayu lapis. Kalimat itu belum menjadi ejekan. Kalimat itu belum menjadi kutukan. Itu hanya sebuah upaya kekanak-kanakan untuk memastikan bahwa aku masih ada di dalam ruangan ini.

Rumah ini terlalu besar untuk satu pasang kaki kecil. Ayah sudah lama menghilang—entah ke mana, entah sejak kapan. Di dalam ingatanku yang kabur, sosoknya hanya berupa bayangan tinggi dengan aroma tembakau murah dan suara bentakan yang bergema di balik dinding bata. Suatu hari, pintu depan tertutup keras, dan langkah kakinya tidak pernah terdengar kembali di atas lantai kayu lorong. Tak ada surat, tak ada penjelasan. Ayah menguap begitu saja, meninggalkan jejak kekosongan yang membeku.

Sementara Ibu... Ibu selalu 'bekerja'. Begitu kata narasi yang ditanamkan ke dalam kepalaku. Ibu pergi sebelum matahari terbit dan belum kembali ketika kegelapan menelan langit Jakarta di luar jendela. Namun, tidak ada yang tahu di mana tempat kerja itu berada. Tidak ada bau harum pakaian kerja, tidak ada suara denting kunci pintu di sore hari. Yang tersisa dari Ibu hanyalah meja makan yang dilapisi debu tipis, sepiring roti tawar yang mengeras di bawah tudung saji, dan lemari pakaian yang selalu terkunci rapat. Ibu hadir sebagai ketiadaan yang nyata—sebuah ketidakhadiran yang begitu masif hingga memenuhi seluruh sudut rumah.

Aku melangkah keluar dari kamar, menyeret tapak kaki bertelanjang di atas lantai yang dingin. Di ruang tengah, televisi tabung tua menyala tanpa siaran, hanya menampilkan gumpalan semut hitam-putih yang saling bertabrakan diiringi bising statis yang monoton. *Bzzzzzzz.*

"Ibu?" panggilku pelan ke arah sudut dapur yang gelap.

Hanya bising statis yang menjawab. Aku berjalan mendekati meja makan. Di sana, di atas serbet kusam, tergeletak sebuah pil berwarna ungu pekat. Tanpa tulisan, tanpa resep dokter. Pil itu selalu ada di sana setiap kali aku bangun tidur, seolah-olah diteteskan langsung dari langit-langit rumah yang berjamur.

Aku memandangi pil ungu itu. Di usiamu yang masih sedini ini, kau tidak mempertanyakan dari mana obat itu berasal. Kau hanya menelannya karena rasa takut akan kehampaan jauh lebih besar daripada rasa pahit di pangkal lidah. Tanganku yang mungil meraih pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu membiarkannya larut tanpa air. Rasa getir yang tajam menyerang tenggorokanku, disusul oleh sensasi dingin yang merayap perlahan menyusuri pembuluh darah di leherku.

Seketika, warna-warna di dalam rumah berubah. Bising statis di televisi tidak lagi terasa memekakkan telinga, melainkan terdengar seperti simfoni puitis dari dunia yang jauh. Cahaya lampu neon yang tadi berkedip-kedip kini memancarkan pendar keemasan yang hangat. Pil ungu selalu berhasil menjalankan tugasnya: menyulap neraka yang sepi menjadi tempat bermain yang bisa ditoleransi.

Aku duduk di atas karpet kusam, melipat kaki kecilku, dan menatap pintu depan yang terkunci dari dalam.

"Apakah aku memilih untuk menunggu di sini?" gumamku pada diri sendiri.

Lihat selengkapnya