Pecahan kaca ungu yang menyelimuti kehampaan ruang tengah perlahan memudar, berganti menjadi sebuah koridor panjang bersuhu dingin yang berbau antiseptik menyengat. Di tempat ini, tidak ada lantai kayu tua atau aroma mi instan. Yang ada hanyalah ubin porselen putih yang terlalu bersih, lampu neon panjang yang mendengung tajam, dan bau logam terbakar yang samar-samar merayap masuk ke dada.
Aku masih terduduk di lantai, meraba rahang dan leherku. Tubuh kecilku yang berambut putih kekuningan pendek masih utuh. Serangan mengerikan dari Tedi, Lilis Bunga, dan Jek Alien seolah menguap begitu saja, meninggalkan keheningan laboratorium yang mencekam.
Di hadapanku, sosok yang tadinya tampak seperti monster yang aneh kini duduk di atas kursi makan yang dingin. Itu adalah 'Jek'.
Ia tidak sedang menerjang atau menggeram. Telinganya yang berbentuk antena dan berkulit abu-abu, ia kelihatan tampak murung. Di balik pendar cahaya yang pucat, aku bisa melihat tekstur kulitnya dari dekat. Kulit itu tidak mulus; ada lingkaran-lingkaran bekas luka berbentuk kawah kecil yang melekuk ke dalam—seperti permukaan bulan yang ditaburi lubang-lubang kecil berdiameter abnormal. Di sekitar sudut matanya, bekas luka itu membusuk permanen, meninggalkan guratan hitam yang seperti di dalam buah delima.
"Jangan menatapku seperti itu, Nova," suara Jek terdengar. Berbeda dari suara antenanya yang bisik tadi, suara antenanya kini terdengar lebih lembut. Suara seorang manusia yang tertahan di balik wadah asing.
"Kau... tidak melihatku dengan tatapan aneh itu lagi kan?" tanya anak kecil di dalam diriku dengan suara bergetar.
Jek berkedip pelan. Sebuah tawa yang sumbang dan hampa. Tangannya yang panjang dengan persendian terbalik terangkat, mengusap pelan luka kawah di pipinya.
"Melihatmu dengan tatapan menakutkan hanyalah perintah naskah," gumam Jek, matanya yang pekat menatap lurus ke arah lorong laboratorium yang gelap. "Tapi di dalam ruang jeda ini, saat Dokter Likton sedang menyiapkan lembar naskah berikutnya, aku hanyalah sisa-sisa bangkai yang diingatkan pada asal-usulku. Sebelum aku dijuluki 'Jek Alien', sebelum aku dijadikan entitas kakak monstermu... aku adalah salah satu dari mereka yang membusuk di tempat ini."
Aku memeluk lututku yang gemetar, mendengarkan.
"Lugar ini adalah Laboratorium Sektor Nol," lanjut Jek. Matanya menerawang jauh ke balik dinding kaca tebal di samping kami. "Dahulu, tempat ini bukan bagian dari simulasi pahlawanmu. Ini adalah tempat di mana manusia-manusia tanpa nama dan tanpa keluarga dikumpulkan. Aku adalah salah satunya. Seorang pria muda yang tak punya apa-apa, yang dengan bodohnya menjual seluruh hak atas tubuhnya demi beberapa lembar uang kertas untuk menyambung hidup."
Jek mengepalkan jemarinya yang janggal. Buku-buku jarinya berkerotok nyaring.
"Mereka menyuruhku mencoba semuanya, Nova. Apapun itu. Dari uji coba kosmetik kimia tingkat tinggi yang menjanjikan kulit abadi, formulasi obat penenang dosis gila, hingga eksperimen sintesis racun dan percobaan vaksin liar yang belum pernah diluluskan uji klinis. Mereka tidak peduli apakah bahan kimia itu aman atau akan merusak organ dalam. Bagi mereka, aku dan belasan subjek lainnya hanyalah tikus putih bernapas yang tidak punya suara di mata hukum."