Layar televisi tabung tua di ruang tengah yang tadinya berdesis statis kini menjelma menjadi pintu gerbang yang menyedot kesadaranku. Udara di dalam dunia televisi ini tidak terasa seperti oksigen; teksturnya berat, berdengung, dan berbau seperti tembaga panas yang meleleh di atas papan sirkuit.
Rambut pendek putih kekuninganku melayang tipis, diterpa gelombang radiasi gelombang radio yang memancar dari dinding-dinding kanal. Di tempat ini, aku melangkah mencari Jek. Aku butuh jawaban dari sang monster berkulit kawah yang tadi membocorkan rahasia laboratoriumnya.
"Jek!" panggilku, suaranya memantul di antara ribuan piksel warna yang bergetar.
Sosok berkulit abu-abu kehijauan itu muncul dari balik lipatan sinyal yang terdistorsi. Tubuhnya yang panjang dan janggal membungkuk, menungguku di tengah lorong kaca cembung yang membentuk labirin tanpa ujung.
"Kau tidak seharusnya menyusulku ke sini, Nova," desis Jek, matanya yang pekat menatap sekeliling dengan cemas. "Dunia televisi ini adalah ruang transmisi liar. Di dasar terbilang paling bawah dari labirin ini, tersimpan dongeng tua tentang sebuah entitas—dewa anomali yang konon hanya menampakkan wujudnya dua kali dalam tiga 'googol' tahun. Dewa yang tidak terikat pada jadwal siaran."
Aku tidak mempedulikan peringatannya. Kami terus berjalan menelusuri labirin piksel tersebut. Setiap kali kami melewati satu tikungan, koridor di belakang kami terhapus menjadi garis statis hitam-putih. Kami berputar, menanjak, dan menukik dalam sirkulasi tanpa akhir, hingga akhirnya mendarat di depan sebuah pintu besi raksasa yang tertanam di ujung kanal terakhir.
Pintu itu memancarkan pendar keemasan dingin, namun tidak memiliki gagang maupun kuncian biasa. Di bagian tengahnya, terukir pahatan simbol kuno dengan tulisan yang timbul: 'Hanya mereka yang bersedia menumbalkan seluruh tubuh dan keberadaannya yang boleh melewati garis ini.'
"Ini jalan buntu," gumam Jek, menyentuh permukaan besi yang membakar kulit jarinya. "Tumbal tubuh... itu berarti salah satu dari kita harus musnah sepenuhnya."
Sebelum kami sempat mengambil keputusan, ruang piksel di sekitar kami mendadak membeku.
Suara detik jam dinding bergema sangat keras, disusul oleh aroma hanyir darah kental, jerohan membusuk, dan empedu yang menguap. Dinding labirin porselen televisi retak, meneteskan cairan merah kehitaman yang pekat.
Dari balik retakan realitas itu, melangkah keluar sebuah sosok yang membuat seluruh sel di tubuh kecilku menjerit histeris.
Itu adalah 'diriku sendiri'. Namun, bukan diri kecil berambut pendek yang ringkih.
Itu adalah Nova dari masa depan—atau dari realitas penceritaan lain—yang telah sepenuhnya menyatu dan bertransformasi menjadi 'Sang Pengetahuan Agung (Deterlualis)'.
Sosok Nova masa depan itu melayang beberapa inci di atas genangan darah. Dari punggung dan rongga dadanya yang terbelah, menjulur puluhan tentakel daging tebal berbahan darah kental. Di sepanjang permukaan tentakel-tentakel yang menggeliat gila itu, tumbuh ratusan mata manusia yang berkedip-kedip secara acak, meneteskan nanah keemasan. Di dahinya terdapat mata berpupil merah, dan ia dikelilingi oleh organ-organ dalam, usus, dan jerohan manusia yang melayang-layang bagai satelit busuk di sekitarnya.
Wajah Nova masa depan itu memiliki porselen pucat yang sama denganku, namun bibirnya terikat dalam sebuah senyuman yang sangat aneh—sebuah ukiran senyum menyeringai yang terlalu lebar hingga menyentuh sudut matanya, memancarkan kegilaan murni tanpa ada jejak kemanusiaan tersisa.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun tentang siapa dirinya atau dari mana ia berasal, Nova-Deterlualis itu menggerakkan satu tentakel darahnya.