Gravitasi di lantai enam puluh tidak hanya mematahkan tulang, tetapi juga merobek cangkang kemanusiaan. Saat tubuh Nova menghantam daratan simulasi yang membusuk, tidak ada mayat yang tergeletak di atas porselen retak. Yang bangkit dari kawah benturan itu adalah sebuah entitas grotesk—"Nova-Deterlualis".
Pecahan porselen pahlawan yang tadinya dibangga-banggakan kini meleleh, bertransformasi menjadi gumpalan daging berurat ungu yang menjalar ganas. Dari punggung dan matanya yang terbelah, tentakel-tentakel darah berbahan empedu pekat mencuat liar. Di sepanjang permukaan tentakel itu, ratusan mata manusia membelalak gila, berkedip secara acak, meneteskan nanah keemasan yang membakar ubin porselen.
Gumpalan monster itu murka. Nova Palsu—manifestasi dendam dan keperihan hati yang murni—telah mengambil alih cangkang tersebut.
Siapa pun yang mencoba mendekat, siapa pun yang diperintah oleh sistem untuk mengejar atau menenangkan anomali itu, langsung dibantai tanpa ampun. Tentakel-tentakel darah itu meluncur bagai cambuk baja, mencolok mata, menembus dada, dan mencabik organ-organ prajurit serta warga dunia palsu di sekitarnya. Nova-Deterlualis tidak hanya membunuh; ia melahap. Ia memakan jerohan, menyerap kode kesadaran, dan mengunyah keberadaan mereka demi memberi makan kehampaan jiwa yang menuntut balas dendam.
Di tengah kengerian pembantaian itu, "Sahsha" terhempas ke sudut jalan.
Sebuah kibasan tentakel berduri sempat menghantam dadanya sebelum ia berhasil meloloskan diri. Di bagian tengah dadanya, gaun putih biologisnya sudah koyak-moyak, memperlihatkan luka bolongan menganga yang mengerikan. Darah merah pekat membual keluar tanpa henti, menetes di antara remasan jemarinya yang mencoba menahan organ dalam agar tidak berceceran.
Sahsha harus berjalan. Ia tidak boleh mati di tempat ini.
Dengan tubuh yang koyak dan napas yang terengah-engah menyeret maut, Sahsha memaksa kakinya bergerak. Ia berjalan secara **terseok-seok**—sebuah langkah ringkih nan gontai, menyeret satu kakinya di atas genangan darahnya sendiri, berjuang mempertahankan keseimbangan saat kesadarannya terus berkedip di ambang pingsan. Setiap kali kakinya menapak, rasa sakit yang membakar dari luka bolong di dadanya menjerit hingga ke sumsum tulang. Tubuhnya yang biologis gemetar hebat, namun dorongan di dalam otaknya jauh lebih kuat daripada rasa sakit fisik tersebut.
Langkah terseok-seok itu membawanya menembus lorong-lorong distopia yang sepi, hingga akhirnya ia tiba di depan pintu apartemen tua tempat Nova dulu bersembunyi.
*BRUGH!*
Tubuh biologis Sahsha tersungkur menghantam pintu kayu apartemen. Tangannya yang berlumuran darah memukul permukaan kayu dengan sisa tenaga yang ada.
"To... long..." bisik Sahsha sebelum pandangannya berubah menjadi gelap gulita.
Ketika matanya kembali terbuka, aroma amis darah telah berganti dengan bau harum bunga yang terlalu manis—begitu menyengat hingga membuat tenggorokannya gatal. Sahsha terbaring di atas sofa kusam di dalam ruang tengah apartemen.
Di atas dadanya, menjalar batang-batang hijau berduri yang bergerak dengan kelembutan yang aneh. Itu adalah **Lilis Bunga**. Kelopak bunga raksasa ber-gigi manusia milik Lilis tidak sedang mencabik, melainkan meneteskan cairan bening seperti getah kehidupan langsung ke dalam luka bolongan di dada Sahsha. Serat-serat daging dan jaringan otot biologis yang robek di dada Sahsha perlahan-lahan merapat, menjahit dirinya sendiri di bawah balutan getah herbal tersebut.