Good Morning, Nova: crìoch sàmhach (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #4

Darah di Ambang Pintu dan Sisa-Sisa Nurani

Gravitasi di lantai enam puluh tidak hanya mematahkan tulang, tetapi juga merobek cangkang kemanusiaan. Saat tubuh Nova menghantam daratan simulasi yang membusuk, tidak ada mayat yang tergeletak di atas kulit yang retak. Yang bangkit dari kawah benturan itu adalah sebuah entitas grotesk—"Nova-Deterlualis".

Mayat pahlawan yang kepalanya pecah, pahlawan yang tadinya dibangga-banggakan kini bertransformasi menjadi gumpalan daging yang menjalar ganas. Dari punggung dan matanya yang terbelah, tentakel-tentakel darah berbahan empedu pekat mencuat liar. Di sepanjang permukaan tentakel itu, puluhan mata manusia membelalak gila, berkedip secara acak, meneteskan nanah keemasan yang membakar ubin porselen.

Gumpalan monster itu murka. Nova Palsu—manifestasi dendam dan keperihan hati yang murni—telah mengambil alih cangkang tersebut, dengan senyuman mautnya.

Apa pun benda atau tempat yang menghalanginya akan ia babat habis olehnya termasuk menghancurkan fasilitas kloningan Jek Alien. Dan siapa pun yang mencoba mendekat, siapa pun yang diperintah oleh sistem untuk mengejar atau menenangkan anomali itu, langsung dibantai tanpa ampun. Tentakel-tentakel daging itu meluncur bagai cambuk baja, mencolok mata, menembus dada, dan mencabik organ-organ prajurit serta warga dunia palsu di sekitarnya. Nova-Deterlualis tidak hanya membunuh, ia melahap. Ia memakan daging, menyerap kode kesadaran, dan mengunyah keberadaan mereka demi memberi makan kehampaan jiwa yang menuntut balas dendam.

Di tengah kengerian pembantaian itu, "Sahsha" terhempas ke sudut jalan.

Sebuah kibasan tentakel tajam sempat menghantam dadanya sebelum ia berhasil meloloskan diri. Di bagian tengah dadanya, gaun putih biologisnya sudah koyak-moyak, memperlihatkan luka bolong menganga yang mengerikan. Darah merah pekat membual keluar tanpa henti, menetes di antara remasan jemarinya yang mencoba menahan organ dalam agar tidak berceceran.

Sahsha harus berjalan. Ia tidak boleh mati di tempat ini.

Dengan tubuh yang koyak dan napas yang terengah-engah menyeret maut, Sahsha memaksa kakinya bergerak. Ia berjalan terseok-seok—sebuah langkah ringkih nan gontai, menyeret satu kakinya di atas genangan darahnya sendiri, berjuang mempertahankan keseimbangan saat kesadarannya terus berkedip di ambang pingsan. Setiap kali kakinya menapak, rasa sakit yang membakar dari luka bolong di dadanya menjerit hingga ke sumsum tulang. Tubuh biologisnya gemetar hebat, namun dorongan di dalam otaknya jauh lebih kuat daripada rasa sakit fisik tersebut.

Langkah terseok-seok itu membawanya menembus lorong-lorong distopia yang sepi, hingga akhirnya ia tiba di depan pintu apartemen tua tempat Nova dulu bersembunyi.

'BRUGH!'

Tubuh biologis Sahsha tersungkur menghantam pintu kayu apartemen. Tangannya yang berlumuran darah memukul permukaan kayu dengan sisa tenaga yang ada.

"To... long..." bisik Sahsha sebelum pandangannya berubah menjadi gelap gulita.

Ketika matanya kembali terbuka, aroma amis darah telah berganti dengan bau harum bunga yang terlalu manis—begitu menyengat hingga membuat tenggorokannya gatal. Sahsha terbaring di atas sofa kusam di dalam ruang tengah apartemen.

Di atas dadanya, menjalar sulur-sulur hijau kehitaman bergerak dengan kelembutan yang aneh. Itu adalah "Lilis Bunga". Makhluk setengah tanaman itu tidak sedang mencabik; kepalanya yang berupa kuntum mawar raksasa berwarna merah—dengan kelopak layu yang meneteskan getah bening—meneteskan cairan tersebut langsung ke dalam luka di dada Sahsha. Serat-serat daging dan jaringan otot biologis yang robek di dada Sahsha perlahan-lahan merapat, menjahit dirinya sendiri di bawah balutan getah herbal tersebut.

Lihat selengkapnya