Good Morning, Nova: crìoch sàmhach (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #5

Bayangan Teater dan Cermin Masa Lalu

Lilis Bunga membisikkan sebuah lokasi sebelum akarnya kembali mengering di sudut apartemen: Nova berada di Teater Tua di pusat kota simulasi. Di bangunan megah berbahan kayu lapuk itulah sang monster bersarang, menanti siapapun yang berani menantang takdirnya.

Sahsha melangkah menembus kabut merah yang menyelimuti area teater. Luka di dadanya yang baru dijahit getah Lilis masih berdenyut nyeri, namun ia menolak berhenti. Saat pintu teater yang berat terdorong terbuka, bau tembaga kental dan jerohan membusuk langsung menyengat indra penciumannya.

Di atas panggung utama yang diterangi satu lampu gantung redup, Nova-Deterlualis bertengger bagai laba-laba raksasa. Wujudnya bukan lagi manusia; tentakel-tentakel darah bermata ratusan meliuk-liuk gila dari punggungnya, meneteskan empedu keemasan ke atas karpet merah. Bagi Nova yang tenggelam dalam kebencian murni, kedatangan Sahsha bukan lagi kehadiran seorang sahabat atau adik. Di mata gila sang pahlawan palsu, Sahsha yang membawa kebenaran realitas adalah "Monster Rahasia ke-11"—ancaman terbesar yang harus dimusnahkan.

"Kau..." geram Nova-Deterlualis dengan puluhan suara bersahut-sahutan yang memecah keheningan teater. "Kau datang untuk menghancurkan panggungku!"

Tanpa peringatan, tiga tentakel darah meluncur secepat kilat. Udara terbelah saat bilah-bilah daging itu mengincar leher dan dada Sahsha. Sahsha memejamkan mata, tidak sanggup menghindar karena luka biologisnya yang membatasi pergerakan. Ia pasrah, bersiap menyambut kehancuran jiwanya di tangan sosok yang ingin ia selamatkan.

'CRASH!'

Namun, kematian itu tidak pernah menyentuh Sahsha.

Sesosok pria berdada bidang dengan pakaian kasual yang kusam tiba-tiba meretas masuk ke dalam garis waktu teater. "Arfi". Pencipta asli yang kelelahan itu muncul di antara Sahsha dan monster tersebut. Tanpa ragu, Arfi merogoh ke dalam rongga dada Nova-Deterlualis menggunakan tangannya sendiri—mencengkeram inti naskah palsu yang menggerakkan monster itu, lalu meremasnya hingga pecah.

Raungan melengking menggema saat wujud Deterlualis itu rubuh dan meleleh menjadi cairan hitam. Arfi mengambil alih kendali sementara, berdiri membelakangi Sahsha yang tersungkur di atas panggung.

"Kisah ini... tidak akan pernah semudah itu berakhir, Sahsha," bisik Arfi dengan suara bergetar berat.

Belum sempat Sahsha meraih tangan Arfi, ruang teater mendadak membeku dalam distorsi piksel putih yang menyilaukan. Layar narasi terbelah dua. Dari retakan dimensi tersebut, melangkah keluar "Dokter Likton"—Sang Dewa Narasi yang memegang kontrol penuh atas penceritaan ini. Wajahnya yang bergetar seperti sinyal TV rusak memancarkan gelombang dominasi mutlak.

"Naskah belum selesai, Arfi," desis Dokter Likton, suaranya dingin bagai piasu bedah. "Subjek 001 adalah milik simulasi ini."

Lihat selengkapnya