Good Morning, Nova: crìoch sàmhach (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #6

Cermin Retak dan Sambungan Dongeng Garuda

Sebelum dunia simulasi 'Good Morning, Nova' tercipta dari kehancuran mentalnya, Arfi pernah terpuruk di sudut tergelap realitas. Di dalam kamar kontrakan yang pengap, aroma debu bercampur sisa mi instan dingin menyeruak di udara. Jemari tangan Arfi yang gemetar mengusap layar ponselnya yang retak. Ia baru saja mengunduh aplikasi Thaps—media sosial yang sebelumnya tak pernah ia gunakan, tetapi pernah diunduh oleh Kei beberapa bulan lalu. Arfi membukanya kembali demi menghindari kebisingan dunia dan menjaga sisa-sisa kewarasan jiwanya.

Namun, harapan untuk menemukan ketenangan langsung hancur seketika. Apa yang terpampang di lini masa menghantam dadanya begitu keras hingga napasnya tertahan.

Di sana, di bawah unggahan akun publik milik Kei, berderet balasan dan interaksi mesra dengan beberapa wanita dan pria. Kei—pria yang selama ini mengaku sangat membutuhkan Arfi, meminta bantuan finansial, serta mengharapkan dorongan moral darinya—ternyata berselingkuh secara terbuka di belakangnya. Rasa sakit yang memutarbalikkan isi perut itu kian diperparah saat Arfi membaca balasan publik yang pernah ia tulis sendiri beberapa waktu lalu dalam kondisi keputusasaan gila.

"Jangan ya, kamu kan ayangku 🪓😊," tulis Arfi di kolom komentar unggahan Kei saat itu, disusul pesan pribadi bernada ancaman kaotik kepada wanita-wanita tersebut. "Kamu jangan dekati ayang aku atau aku bunuh, hahaha 🪓😈."

Arfi teringat betapa kacau pikirannya hari itu. Kehilangan arah, ia bahkan sempat memaksa Kei untuk membalas pesan dan mengikutinya kembali di Thaps agar hubungan mereka terlihat baik-baik saja di mata publik.

"Puas sekarang?" cetus Kei dingin saat itu melalui pesan singkat.

Ketegangan dan rasa panik yang membakar membuat jemari Arfi secara tidak sengaja memencet tombol 'unfollow' pada akun pribadi Kei. Saat menyadari kekeliruan kecil itu, dengan tubuh gemetar hebat dan rasa malu yang menusuk hingga ke tulang, Arfi terpaksa mengikuti akun itu kembali. Namun segalanya sudah terlambat; retakan di antara mereka sudah terlalu lebar dan tajam untuk ditambal.

Kejadian di media sosial beberapa minggu kemudian menjadi titik puncak dari tumpukan kebohongan yang terpelihara.

"Kei..." Arfi mengetik, hampir pecah ditelan kegelapan. "Apakah kamu akan mencintaiku sampai kapan pun?"

Kei tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napas panjang, menatap kosong ke arah langit-langit apartemennya dengan pandangan yang terasa sangat dingin dan asing.

"Mungkin," jawab Kei singkat tanpa menghiraukan deretan pesan lainnya.

"Mengapa mungkin, bukan iya?" tanya Arfi di kolom obrolan dengan perasaan aneh.

"Aku ingin menjadi normal, Fi," balasnya.

Lihat selengkapnya