Sebelum dunia simulasi 'Good Morning, Nova' tercipta dari kehancuran mentalnya, Arfi pernah terpuruk di sudut tergelap realitas. Di dalam kamar kontrakan yang pengap, aroma debu bercampur sisa mi instan dingin menyeruak di udara. Jemari tangan Arfi yang gemetar mengusap layar ponselnya yang retak. Ia baru saja mengunduh kembali aplikasi 'Thaps'—sosial media yang sempat ia hapus beberapa hari lalu demi menghindari kebisingan dunia dan menjaga sisa-sisa kewarasan jiwanya.
Namun, harapan untuk menemukan ketenangan langsung hancur seketika. Apa yang terpampang di lini masa menghantam dadanya begitu keras hingga napasnya tertahan.
Di sana, di bawah unggahan akun publik milik Kai, berderet balasan dan interaksi mesra dengan beberapa wanita. Kai, pria yang selama ini mengaku sangat membutuhkan Arfi, pria yang meminta bantuan finansial serta dorongan moral darinya, ternyata berselingkuh secara terbuka di belakangnya. Rasa sakit yang memutarbalikkan isi perut itu kian diperparah saat Arfi membaca balasan publik yang pernah ia tulis sendiri beberapa waktu lalu dalam kondisi keputusasaan dan kepanikan gila.
"Jangan ya, kamu kan ayang aku 🪓😊" tulis Arfi di kolom komentar unggahan Kai saat itu, disusul tangkapan layar pesan pribadi bernada penuh ancaman keos yang ia kirimkan kepada wanita-wanita tersebut: "DM selingkuhnya jangan dekati ayang aku atau aku bunuh hahaha 😈🪓".
Arfi teringat betapa kacau pikirannya hari itu. Kehilangan arah, ia bahkan sempat menyuruh Kai untuk membalas pesan dan mengikutinya kembali di media sosial agar hubungan mereka terlihat baik-baik saja di mata publik.
"Puas sekarang?" cetus Kai dingin saat itu melalui pesan singkat.
Ketegangan dan rasa panik yang membakar membuat jemari Arfi secara tidak sengaja memencet tombol *unfollow* pada akun pribadi Kai. Saat menyadari kekeliruan kecil itu, dengan tubuh gemetar hebat dan rasa malu yang menusuk hingga ke tulang, Arfi terpaksa mengikuti akun itu kembali. Namun segalanya sudah terlambat; retakan di antara mereka sudah terlalu lebar dan tajam untuk ditambal.
Dalam kondisi mental yang kian hancur, Arfi mencari tempat bersandar. Ia memilih meluapkan pahitnya pengkhianatan ini ke komunitas novelis tempatnya bernaung. Dengan hati terbuka, Arfi jujur mengaku bahwa Kai adalah seorang mantan pelaku pencabulan anak di bawah umur yang mencoba ia bantu dan selamatkan, dan kini Arfi hanya ingin mencari sosok pendamping baru yang bisa menyembuhkan luka hatinya. Namun, kejujuran polos itu berbalik menjadi senjata pemungkas. Di mata sebagian anggota komunitas novelis yang toksik dan gemar menghakimi, cerita Arfi dipelintir mentah-mentah. Dari seorang korban manipulasi psikologis, Arfi malah dihakimi dan dituduh sebagai sosok pelaku bermasalah di dalam lingkaran penulis tersebut.
Kejadian di kamar hotel beberapa minggu kemudian menjadi titik puncak dari tumpukan kebohongan yang terpelihara.
Lampu kamar hotel yang redup dan temaram memantulkan bayangan melegam dari dua insan yang saling membelakangi di atas ranjang. Suara derum pendingin ruangan terasa begitu bising di tengah keheningan yang mencekam. Arfi berbaring menyamping, menatap garis punggung Kai dengan mata yang sembap dan bengkak.
"Kai..." bisik Arfi lirih, suaranya hampir pecah ditelan kegelapan. "Apakah kamu akan mencintaiku sampai kapan pun?"
Kai tidak langsung menjawab. Pria itu menghela napas panjang, menatap kosong ke arah langit-langit kamar hotel dengan pandangan yang terasa sangat dingin dan asing.