Good Morning, Nova: crìoch sàmhach (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #7

Bayangan yang Hilang dan Rahim Memori

Langkah kaki Arfi bergetar saat memasuki rumah lamanya yang sepi dan berdebu. Setelah runtuhnya hubungan toksik dengan Kei di kamar hotel malam itu, rumah inilah satu-satunya tempat berlindung yang tersisa. Namun, kedatangannya justru disambut oleh tatapan dingin dan bentakan tajam dari sang ayah.

"Jangan pernah bawa orang luar ke rumah ini lagi!" seru ayahnya dengan suara bergetar menahan amarah. "Kamu ini jijik tahu tidak? Kamu ini kotor, apa pun kotor!" bentaknya sembari menunjuk muka Arfi dengan tatapan menghakimi. "Tahu tidak, makanya keluarga kita ini tidak pernah berkah, itu gara-gara perilaku kamu yang aneh! Rumah ini bukan tempat penampungan sampah! Kamu pergi ke rumah dia, kalau kamu diterima sama keluarganya, Ayah bakal potong telinga!"

Arfi hanya bisa berdiri terpaku di ambang pintu, menundukkan kepala tanpa sanggup membalas.

"Ingat ya, kalau sekali lagi Ayah lihat kamu berani bawa orang asing masuk ke rumah ini," tambah ayahnya dengan nada mengancam yang dingin, "Ayah tidak akan segan-segan telepon polisi untuk seret kalian keluar!"

Arfi membiarkan makian itu membentur dinding-dinding rumah yang kusam. Namun, keesokan harinya, ketika Arfi terbangun dari tidurnya yang gelisah, sosok ayahnya telah lenyap. Pria itu menghilang kembali tanpa jejak—meninggalkan rumah begitu saja seperti yang sering ia lakukan selama bertahun-tahun, melarikan diri dan meninggalkan Arfi dalam kesendirian yang mencekam.

Di tengah keheningan rumah, Arfi melangkah pelan menuju kamar belakang yang selalu tertutup rapat. Di sana, di atas tempat tidur yang berderit pelan, terbaring sosok ibunya yang sakit-sakitan. Wajah sang ibu hampir sepenuhnya ditutupi oleh selimut kusam yang tebal, hanya menyisakan celah kecil untuk napasnya yang berat dan terengah-engah.

Arfi mendekat perlahan, duduk di tepi ranjang, lalu mengusap kain selimut yang menutupi kepala ibunya dengan penuh kehati-hatian.

"Ibu..." bisik Arfi lirih, menatap bayangan tubuh ibunya yang kian mengurus. "Aku sudah punya uang dari hasil naskahku. Aku akan bayar semua uang pengobatan ginjal Ibu. Ibu tidak perlu cemas lagi..."

Di balik kain selimut, sang ibu tidak menjawab. Hanya ada suara napas yang patah-patah dan rintihan pelan. Saat jemari Arfi menyentuh kain kusam itu, memori masa kecilnya yang terdistorsi mendadak mendobrak masuk—membuka kembali lembaran kilas balik tentang dosa dan tragedi yang menghancurkan keluarga mereka.

...

Dahulu kala, sebelum kehancuran melahap keluarga mereka, ayah dan ibu Arfi hidup cukup harmonis. Mereka adalah pasangan sederhana yang berusaha membangun masa depan bersama. Namun, pertengkaran mulai sering terdengar ketika sang ibu memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan.

"Kenapa kamu harus kerja sih?" tegur ayahnya pada suatu malam di masa lalu, menatap istrinya dengan nada tidak puas.

Lihat selengkapnya