Rumah yang telah berubah menjadi kuburan dingin itu kini memendam aura ancaman baru. Pagi itu, tekanan terhadap Arfi tidak lagi datang dari bayangan ayahnya yang menghilang, melainkan dari bentuk manifes traumanya sendiri: "Sahsha".
Adik imajiner yang lahir dari darah dan rahim ibunya yang rusak itu bersikap sangat agresif. Di depan wastafel dapur yang berkarat, Sahsha mencengkeram belakang kepala Arfi lalu mencelupkannya secara paksa ke dalam bak berisi air dingin.
"Genggam kepalamu, Arfi! Buka matamu!" bentak Sahsha saat Arfi tersedak air. Sahsha menarik rambut Arfi ke atas, memaksa pria itu menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin retak. "Kamu harus bekerja di tempat kerjaku! Uang itu untuk Ibu yang sedang sakit di kamar belakang, bukan untuk Ilham! Buka otakmu, Ilham itu tidak akan pernah bisa mencintaimu, dia cuma terpaksa menghadapi kamu!"
Cengkeraman itu dilepaskan. Arfi jatuh terduduk di lantai dapur yang basah, terbatuk-batuk menahan dingin yang menusuk dada. Bentakan Sahsha menghantam kesadarannya tanpa belas kasihan. Tanpa kekuatan untuk melawan ilusi tersebut, Arfi menuruti tuntutan Sahsha.
Ia mendatangi tempat kerja yang ditunjuk dan menghabiskan hari-harinya dalam siksaan pekerjaan fisik yang memeras tenaga. Rasa lelah yang luar biasa membakar otot-ototnya, membuat tubuhnya terasa rontok setiap kali malam tiba.
Namun, siksaan mentalnya belum berakhir. Di tengah rasa lelah yang menghimpit, Arfi didorong untuk mendekati seorang wanita bernama "Clara"—sosok rekan kerja yang terkenal jutek, dingin, dan ingin segala sesuatu harus sempurna. Clara hampir selalu mengabaikan Arfi, memandangnya seolah-olah ia hanyalah angin lalu.
Dalam satu momen keputusasaan untuk membuktikan bahwa dirinya masih seorang pria "normal" seperti yang selalu dituntut oleh lingkungan dan kata-kata Kei, Arfi memberanikan diri mencium Clara. Namun, begitu bibirnya menyentuh Clara, kepahitan lain menghantamnya: Arfi menyadari bahwa dirinya benar-benar impoten terhadap wanita. Tubuh biologisnya menolak total, tidak ada gairah maupun reaksi fisik sedikit pun. Dinginnya respons Clara dan kenyataan bahwa tubuhnya tidak merespons wanita makin mempertegas kekosongan serta keterasingan di jiwanya, akhirnya Clara pun meninggalkannya tanpa kabar, karena Clara merasa hubungan ini tidak sempurna, dan tidak pernah memperdulikan Arfi sama sekali.
...
Pikiran Arfi melayang kembali pada pesan-pesan singkat di ponselnya bersama 'Ilham'—sahabat novelis yang menjadi satu-satunya tempat ia menyandarkan harapan emosional.
Dulu, Arfi pernah mengirimkan pesan panjang kepada Ilham, tapi Ilham malah membalas: "Aku tidak mau jadi seperti seseorang yang telah menyakiti kamu..."
Dada Arfi terasa sesak. Ilham menahan diri karena takut bayang-bayang luka Kei akan terulang. Padahal di awal hubungan mereka, Ilham-lah yang pertama kali mengirimkan stiker ciuman di obrolan mereka, memercikkan harapan bahwa ada perasaan balasan.
Lalu Arfi bertanya dengan ragu di obrolannya: "Apakah gairah dalam cinta itu suatu hal yang salah?"
Saat itu, Ilham membalas dengan bijak: "Gairah itu tidak salah, Arfi. Secara alamiah, gairah ada untuk meneruskan keturunan. Lagi pula, setiap orang punya fetish yang beda-beda. Kamu tidak perlu merasa bersalah, semuanya adalah pilihan masing-masing."
Membaca jawaban itu, ada beberapa hal yang mengganjal bagi Arfi. Beberapa hari kemudian, Arfi membalas dengan kejujuran yang telanjang: "Tapi cinta rasanya hambar tanpa adanya gairah, Ilham. Walau begitu, aku tidak akan memaksakan kamu. Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa. Cinta aku ke kamu jauh lebih besar daripada sekadar gairah."
Ilham menyetujuinya dan memberi saran: "Lebih baik kita fokus ke pendekatan dulu. Bicara hal-hal sederhana tentang kehidupan sehari-hari."