Langkah kaki Arfi terasa begitu berat saat menyusuri koridor rumahnya yang remang-remang. Di tangannya yang gemetar, ada yang baru saja ia beli dari apotek—harapan kecil yang tersisa untuk menyembuhkan ginjal ibunya. Begitu pintu kamar belakang yang pengap itu terdorong terbuka, bau lembap, apak, dan udara dingin yang janggal langsung menyergap penciumannya.
Di samping tempat tidur kayu yang kusam, berdiri sebuah rak tua berselimut debu tebal, penuh dengan tumpukan naskah dan buku-buku lama yang menguning. Pandangan Arfi tertahan pada salah satu jilid bundel yang lecet di sudutnya. Memorinya seketika ditarik mundur ke masa lalu, pada sosok Ilham.
Ilham adalah pencipta asli dari novel “Good Morning, Nova”—karya fiksi yang kelak menjadi inspirasi utama bagi Arfi dalam menulis naskah 'fan-novel'-nya sendiri. Lebih dari sekadar rekan penulis, Ilham adalah satu-satunya manusia yang merangkul jiwa Arfi saat dunia meremukkannya. Ketika Arfi hancur diamuk manipulasi psikologis dan perlakuan beracun dari Kei, Ilham hadir membela, merawat sisa-sisa kewarasannya yang tersisa, dan menjadi sosok tunggal yang benar-benar menyayanginya di saat Arfi merasa terbuang dan sendirian. Namun kini, bayangan sosok itu telah sirna di ujung tali gantungan, menyisakan luka trauma menggerogoti dadanya.
Arfi menghela napas panjang yang terasa menyiksa, lalu mengalihkan pandangannya menuju ranjang ibunya. Anehnya, suasana kamar terasa terlalu hening dan mencekam. Tidak ada deru napas berat, bisikan penderitaan, atau batuk kering yang biasanya malam di rumah itu.
"Ibu... aku sudah bawakan sesuatu untuk menyembuhkan ginjal ibu," bisik Arfi dengan suara serak yang bergetar.
Tidak ada jawaban. Penasaran bercampur cemas yang membakar, Arfi perlahan mengulurkan tangan dan menarik ujung selimut kusam yang menutupi wajah ibunya.
“Srettt.”
Sensasi dingin mendadak membekukan seluruh aliran darah di tubuh Arfi. Pemandangan di balik selimut itu begitu mengerikan hingga melampaui batas kewarasan dan logika manusia. Wajah ibunya tak lagi berwujud rupa manusia yang hangat; area kepala hingga leher telah hancur total, menyisakan tumpukan jeroan busuk, usus yang terburai, dan potongan daging berdarah yang saling tertumpuk tanpa bentuk yang jelas.
Rasa mual yang dahsyat mendadak meledak dari dalam perut Arfi. Ia terperanjat mundur hingga menabrak rak buku, lalu berlutut di lantai yang dingin dan muntah hebat. Bau hanyir darah dan isi perut menguasai seluruh ruangan, meremukkan sisa-sisa kewarasan pikirannya secara mutlak.
...
Horor distorsi fisik itu bukanlah yang pertama kali dialaminya. Jauh sebelum tragedi di kamar ibunya, parasit mental itu sudah lebih dulu mengekor dan menggerogoti jiwanya saat ia bekerja.
Demi menyambung hidup yang kian berantakan dan menutupi utang-utangnya, Arfi memaksakan diri bekerja sebagai pencuci piring di dapur sebuah restoran. Namun, halusinasinya semakin membusuk dan liar. Setiap kali ia memberanikan diri menoleh ke arah ruang makan, pandangannya terdistorsi secara brutal. Wajah para pelanggan, dan teman kerjanya, mendadak berubah menjadi tumpukan jeroan dan daging busuk yang mengerikan, menatapnya dengan tatapan kosong.
Muntah Arfi meledak lagi di atas tumpukan piring kotor. Rasa jijik dan teror mental yang bertubi-tubi membuat tubuhnya gemetar hebat di tengah gelak tawa, caci maki, dan tatapan hina dari semua yang ada disana. Arfi merasa benar-benar diinjak-injak, dipermalukan, dan dijadikan bahan lelucon di tempat kerja itu tanpa ada satu orang pun yang mau memahami penderitaan jiwanya.
Sesudah semua kejadian itu, Beban hidupnya menghantam titik nadir tergelap. Selama ini, satu-satunya alasan Arfi berjuang mati-matian—bekerja membanting tulang dan bermimpi untuk bisa berkuliah di jurusan kedokteran—adalah demi menguasai ilmu medis agar kelak ia sendiri yang dapat mengobati dan menyembuhkan penyakit ibunya. Namun, ibunya yang menjadi satu-satunya tumpuan dan alasan hidupnya telah tiada. Tabungannya ludes, nilainya merosot tajam akibat depresi berat, dan impian kuliahnya hancur berkeping-keping. Tanpa kehadiran ibunya, Arfi merasa seluruh impiannya sama sekali tak berguna. Untuk apa lagi ia bertahan hidup dan berjuang menjadi dokter jika sosok yang ingin disembuhkannya sudah tidak ada?
Dalam keputusasaan mutlak, Arfi melangkah naik ke atap gedung setinggi 60 lantai. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya saat ia berdiri tepat di tepi dinding pembatas, menatap jurang kegelapan kota di bawah sana.
"Apakah ini normal...?" gumam Arfi tenggelam oleh deru angin malam. Matanya kosong ke bawah. "Bukankah hewan sosial lainnya juga melakukan hal yang sama sepertiku? Tapi apakah hanya karena berbeda apakah dia harus diasingkan? Apakah kebahagiaan adalah untuk menjadi hal sesuatu yang sama? Mengapa cinta itu terbatas? Dengan moral dan empati manusia begitu terbatas juga? Hanya berlaku saat kita berguna bagi mereka, melakukan hal yang sama seperti mereka? Dan walau aku benar-benar ingin berubah... walau aku ingin bangkit dari semua kehancuran, kelainan, dan cacatku ini... tetap saja aku tidak pernah bisa melakukannya. Kenapa aku ini...?"
"Jangan lakukan itu, Arfi..."