Suasana di dalam rumah Nova terasa begitu hening dan aman, berbanding terbalik kekacauan pertempuran yang teater tua di luar sana. Namun, tidak ada waktu untuk menghela. Jek langsung mengarahkan Sahsha menuju sebuah pintu kayu tebal, akses menuju ruang bawah tanah yang tersembunyi.
Saat menuruni anak tangga lembap dan dingin, bau busuk langsung menyergap penciuman. Di pusat ruang bawah tanah yang remang-remang itu, terdapat sebuah kolam raksasa. Bak beton itu membusuk, terisi penuh oleh jeroan, tumpukan bola mata yang berkedip acak, dan potongan daging hangat yang berdenyut liar.
"Masuk ke dalam situ, Sahsha!" perintah Jek dengan nada tegas, menunjuk ke dalam cairan biologis yang membusuk itu.
Sahsha melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. "Apa-apaan ini, Jek?! Kenapa aku harus mencelupkan diri ke dalam lumpur daging ini?!"
"Ini bukan sekadar daging atau jeroan!" bentak Jek, tatapannya terkunci rapat pada mata Sahsha. "Ini adalah Deterlualis—kehendak bebas yang murni sekaligus parasit biologis yang sdipakai oleh Nova! Ini adalah sisa-sisa bagian tubuh dan kesadaran Nova yang dibuang oleh simulasi! Jika kau ingin bertahan dari efek radiasi C12 dan menemukan keberadaan Nova yang asli, kau harus menyatukan kesadaranmu dengan Deterlualis. Tenggelamlah sekarang!"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Sahsha untuk menolak, Jek mendorong tubuh Sahsha.
'SPLASH!'
Sahsha jatuh terjerembap ke dalam bak busuk tersebut. Cairan tembaga kental, bola mata yang melotot, dan lendir jeroan seketika membungkus seluruh tubuhnya, menenggelamkan indra pendengaran dan penglihatannya ke dalam kegelapan mutlak.
Dalam sekejap, kesadaran Sahsha terlepas dari tubuh biologisnya. Ia terbangun di sebuah ruang hampa bernuansa putih perak yang luas tanpa batas. Di hadapannya, berdiri sosok Nova—bukan sebagai monster parasit Deterlualis atau anomali C12, melainkan wujud manusianya yang tenang dan bermata bening. Wujud itu adalah personifikasi murni dari kehendak bebas (Deterlualis).
"Mengapa kau terus berjuang menembus penderitaan ini, Sahsha?" bisik Deterlualis-Nova dengan suara yang begitu halus namun bergema kuat di dalam benaknya.
Sahsha mendekap dadanya yang terasa sesak. "Aku datang untuk menyelamatkanmu... untuk mengembalikan logika dunia ini!"
Deterlualis-Nova tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh duka dan filosofi miring yang menyayat.
"Penyelamatkan adalah ilusi terbesar yang diciptakan oleh makhluk yang takut akan ketiadaan," kata Deterlualis-Nova, melangkah mendekati Sahsha. "Logika yang kau bela hanyalah penjara. Penderitaan Arfi, kehancuran ibunya, hingga penderitaanmu sendiri ada karena pencipta menuntut 'makna' pada setiap tragedi. Mengapa tidak membiarkan dunia ini hancur total saja? Kehendak bebas yang sejati bukanlah kemampuan untuk memilih jalan hidup, melainkan keberanian untuk menolak menjadi bagian dari narasi siapa pun. Jika kau menerima Deterlualis ini, kau akan terbebas dari rantai penderitaan Arfi. Kau tidak perlu lagi menjadi adik imajiner, tidak perlu lagi memikul beban dosa penciptamu. Lepaskan kehendakmu, dan biarkan realitas ini meleleh menjadi ketiadaan yang damai."
Kalimat-kalimat itu membentur pikiran Sahsha dengan kekuatan spekulatif luar biasa. Setiap kata yang diucapkan Nova membuat otak dan logika berpikirnya terhenti, memaksa jiwanya mempertanyakan ulang seluruh alasan keberadaannya. Mengapa ia harus menderita demi naskah orang lain?
Namun, di tengah goncangan filosofi yang memikat itu, bayangan Arfi yang menangis di atas atap gedung dan pengorbanan Ilham melintas di sanubarnya.
"Tidak..." jawab Sahsha dengan napas tersengal. "Jika aku menyerah pada ketiadaanmu, maka seluruh penderitaan dan cinta yang pernah ada di dunia nyata tidak akan memiliki arti sedikit pun! Aku menolak kehendak bebas parasitmu!"
'GASPP!'
Sahsha mendadak terbatuk-batuk hebat, menyemburkan cairan tembaga saat ia ditarik keluar dari bak jeroan oleh Jek di ruang bawah tanah rumah Nova. Tubuhnya gemetar, dadanya terasa seperti dihantam oleh besi panas. Sahsha mencengkeram dadanya yang berdenyut nyeri luar biasa, merasa seolah-olah paru-parunya diremas dari dalam.