Aroma debu keramik dan besi tua menyambut kedatangan Sahsha dan Jek begitu mereka melangkah keluar dari portal Lautan Kata, kembali bersimpuh di atas lantai ubin rumah Nova yang dingin. Cahaya siang yang samar menembus celah jendela, menimpa wajah Jek yang mendadak tampak sangat pucat. Keringat dingin mengucur deras di dahi pemuda itu, sementara napasnya terdengar memburu, berat, dan patah-patah.
Sahsha merogoh kantong pakaiannya, mengeluarkan botol pil berwarna ungu keemasan yang tersisa. "Jek, kita harus buru-buru. Kalau Nova yang asli tidak ada di Dunia Kata, berarti dia ada di dimensi ingatan berikutnya. Telan pil ini, kita masuk sekarang!"
Namun, Jek tidak menjangkau pil itu. Tangan gemetarnya justru terangkat, menepis pelan jemari Sahsha. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding ruangan yang kusam, lalu terkekeh pelan—sebuah kekehan pahit yang ironis.
"Aku... aku tidak bisa melanjutkan pencarian ini, Sahsha," bisik Jek. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh desis angin.
"Apa maksudmu?!" bentak Sahsha, matanya membelalak panik. "Kita sudah sejauh ini! Kenapa kau tiba-tiba menyerah?!"
Jek menatap telapak tangannya sendiri yang mulai tampak mentransparasi, memancarkan efek 'glitch' halus berwarna keabu-abuan. "Kau pikir bagaimana bisa seseorang seperti aku bertahan hidup begitu lama di dalam simulasi dan siklus kiamat logika ini? Berumur panjang tanpa pernah menjadi manekin?" Jek menggeleng lambat. "Bukan karena aku hebat, Sahsha. Tapi karena aku adalah rantai kloningan. Setiap kali tubuhku yang lama rusak atau hancur, kesadaranku dialihkan ke tubuh klon berikutnya yang disimpan di kedalaman sistem."
Napas Jek makin memburu. Sambil menahan rasa sakit yang membakar dadanya, ia melanjutkan, "Tapi... saat Nova mengamuk dan menghancurkan laboratorium kloning dulu, seluruh cadangan tubuhku ikut hancur. Tubuh yang kupakai sekarang adalah milikku yang terakhir. Rantaiku sudah terputus. Aku sedang mati, Sahsha."
Sahsha terpaku, lidahnya mendadak kelu. Di sudut ruangan, Lilis yang sejak tadi memperhatikan dari balik bayangan melangkah mendekat dengan wajah penuh keprihatinan.
Jek berpaling menatap Lilis, melemparkan tatapan penuh permohonan. "Lilis... tolong gantikan aku. Dampingi Sahsha ke dimensi berikutnya. Nova yang asli harus ditemukan sebelum Arfi benar-benar kehilangan kewarasannya."
Lilis mengangguk tegas tanpa ragu. Ia mengambil pil ungu keemasan dari tangan Sahsha yang masih membeku. Tanpa membuang waktu, Sahsha dan Lilis menelan pil tersebut bersamaan.
'Zrrtt... GLITCH!'
Dunia di sekitar mereka robek secara brutal, Sahsha berubah ke mode ziarahnya. Rumah Nova meleleh menjadi hamparan void, sebelum akhirnya terbentuk kembali menjadi sebuah lanskap surealis yang menakjubkan sekaligus mengerikan.
Mereka berada di 'Dunia Ingatan'.
Di dimensi ini, tidak ada tanah atau langit yang nyata. Yang ada hanyalah labirin raksasa yang terbuat dari miliaran serpihan kristal memori yang melayang-layang. Namun yang paling mengejutkan adalah penghuni tempat itu: jutaan semut hitam berukuran sebesang anjing yang berjalan teratur di atas jalur-jalur ingatan. Semut-semut itu tidak menyerang; dengan rahang mereka yang presisi, mereka sedang menyusun, mengangkut, dan merangkai potongan-potongan ingatan milik semua orang agar tetap utuh.
"Jangan ganggu mereka," bisik Lilis pelan saat seekor semut pekerja lewat di dekat kaki mereka, membawa sebuah kristal memori yang memancarkan cahaya redup.