Good Morning, Nova: crìoch sàmhach (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #12

Paradoks Bebas, Abu Konsumerisme, dan Sakramen Layar Mati

Di dalam tidur lelapnya yang gelisah, kesadaran Sahsha terhempas jauh melampaui batas-batas alam bawah sadar. Ia berjalan di tengah ruang buku yang abstrak, yang berisi ingatan-ingatan Nova yang telah kusut. Di sana, di tengah dimensi ruang buku itu, berdiri 'Deterlualis'—sesosok entitas berwujud Nova, tetapi yang sebenarnya adalah entitas yang tidak bisa tersentuh oleh akal sehat manusia.

Deterlualis berwujud Nova itu bergema, meremukkan dinding benak Sahsha, menyampaikan sebuah filosofi yang begitu rumit dan berlapis, hingga manusia harus memikirkannya lima puluh kali hanya untuk mencerna sekelumit kecil artinya.

"Sahsha..." gema suara Deterlualis berdengung, membelah kesendirian yang mencekam. "Manusia selalu menyembah keabadian dan menakuti kematian. Tapi apakah kau benar-benar paham apa itu kehidupan? Apakah akhirat itu ada sebagai muara akhir tempat jiwa dihakimi, ataukah kehidupan ini hanyalah siklus tanpa henti yang berulang secara abadi setelah Big Bang kedua runtuh dan terlahir kembali? Jika 'multiverse' itu ada, dan setiap kemungkinan realitas hidup secara berdampingan tanpa batas, bukankah itu berarti seluruh jagat raya, semua dunia, dan setiap debu di dalamnya adalah bagian dari Tuhan itu sendiri?"

Sahsha merasa kepalanya berdenyut hebat. Sel-sel otaknya serasa ditarik paksa hingga merenggang.

Deterlualis melangkah mendekat, auranya membias bagai cermin pecah yang memantulkan sejuta bayangan. "Lalu, pikirkan tentang takdir dan kehendak bebas yang selalu dibanggakan oleh spesiesmu. Jika kehendak bebas itu benar-benar ada, bukankah itu berarti Tuhan tidak lagi Maha Kuasa karena Ia merelakan ciptaan-Nya bertindak di luar kendali-Nya? Sebaliknya, jika segalanya adalah takdir—termasuk setiap dosa, pertumpahan darah, dan kejahatan paling murni—kenapa manusia menghakimi sesamanya? Kenapa jiwa-jiwa harus dihukum dan disiksa di neraka atas kejahatan yang jalan ceritanya dirancang dan dibuat oleh Tuhan itu sendiri?"

Pertanyaan itu menghantam Sahsha seperti hantaman ombak besar yang meretakkan logikanya. Dengan sisa keberanian yang terpukul, Sahsha berusaha membalas. "Tuhan memberi manusia akal dan nurani! Kejahatan adalah pilihan manusia ketika memilih berpaling dari kasih dan kebaikan-Nya!"

Deterlualis tertawa pelan. Sebuah tawa tanpa nada mengejek, namun penuh keputusasaan eksistensial. "Pilihan? Jika pengetahuan Tuhan meliputi masa lalu, kini, dan esok hingga tak terhingga, maka pilihan yang kau ambil esok hari sudah tertulis sebelum bintang pertama diciptakan. Mana bisa kau memilih hal yang tidak tertulis?"

Entitas itu lalu melemparkan satu pertanyaan balasan—sebuah teka-teki kosmik terlarang yang bahkan tidak akan pernah sanggup dijawab oleh manusia paling terpuji, paling bijaksana, maupun para orang suci sekalipun. Sebuah pertanyaan tentang dari mana datangnya kehendak awal Pencipta sebelum ada kata 'ada' dan 'keberadaan' itu sendiri.

'Sreeet!'

Sahsha tersentak dan mendadak terbangun. Napasnya terengah-engah, peluh membasahi pelipisnya. Ia kembali terjaga di atas lantai ubin rumah Nova yang dingin.

Di sampingnya, Lilis menatapnya dengan raut khawatir. Namun, pandangan Sahsha berubah saat ia melihat 'Jek' sebelum tubuh klon terakhirnya benar-benar meleleh dan tiada dari dunia ini.

Jek pun mengatakan sebuah peringatan pahit. "Sahsha, jika kau membaca surat ini, artinya aku sudah tiada dan Nova tidak ditemukan di Dunia Kata, Dunia Ingatan, maupun Dunia Sampah. Berarti ada satu dunia lagi yang belum pernah diekspos di dalam sistem ini. Tapi berhati-hatilah..."

Dengan dada sesak menahan kepedihan atas kepergian Jek, Sahsha dan Lilis tidak memiliki pilihan lain. Mereka harus menemukan jiwa Nova yang asli. Bersama Lilis, Sahsha mengambil pil ungu keemasan berikutnya. Mereka menelannya bersamaan tanpa ragu.

'Zrrtt... GLITCH!'

Sensasi tersedot ke dalam pusaran ruang membuat pandangan mereka kabur dan terbolak-balik. Sahsha berubah kembali ke mode pertarungannya. Ketika realitas kembali terbentuk, bau menyengat langsung menusuk hidung mereka: bau sampah membusuk, busa plastik terbakar, dan asap pekat yang membuat tenggorokan serasa dicengkeram api.

Mereka tiba di 'Dunia Konsumerisme'.

Lihat selengkapnya