Di hadapan layar televisi tua yang bergelombang hitam pekat di ruang tamu rumah Nova, Sahsha berhenti. Radiasi kanker realitas di dadanya mencengkeram kian menyengat, merembet bagai akar busuk yang menggerogoti pernapasan. Ia berpaling menatap Lilis.
"Lilis, tunggu di sini," bisik Sahsha dengan nada dingin namun tegas. "Dunia di dalam layar ini terlalu berbahaya. Jek sudah memperingatkan bahwa tempat ini adalah titik balik tanpa jalan kembali. Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri."
Mata Lilis membelalak. Ia mencengkeram lengan Sahsha dengan jemarinya yang gemetar. "Tidak! Aku sudah kehilangan anakku, aku kehilangan seluruh kehidupanku di desa itu! Aku tidak akan membiarkanmu mati sendirian di dalam sana, Sahsha! Aku ikut!"
"Jangan bantah aku, Lilis!" bentak Sahsha, matanya menyala amarah yang dipaksakan. Suaranya melengking menembus keheningan ruangan. "Kau hanya akan menjadi beban jika ikut masuk! Tetap di sini!"
Lilis terhenyak, genggamannya terlepas perlahan. Wajahnya meredup penuh kepasrahan yang pahit. Ia menunduk pelan, mengangguk tanpa sepatah kata pun lagi.
Sahsha menarik napas panjang, lalu melangkah maju menembus kaca TV yang pekat.
'ZRRRTT... SHHHH!'
Kehampaan menyergap. Segalanya seketika gelap gulita dan hening melumpuhkan. Tidak ada bunyi desis angin, tidak ada detak jantung. Hanya ruang hampa tanpa batas yang menelan seluruh indra.
Secara bertahap, sebuah titik cahaya redup menyala dari sudut atas, memancarkan pendar remang yang mengerikan. Saat pandangan mata Sahsha dengan baju zirahnya mulai menyesuaikan dengan pencahayaan yang menyiarkan panggung rahasia itu, perutnya mendadak mual hebat.
Di sekelilingnya, tergantung ratusan kantong plastik bening raksasa yang berisikan potongan-potongan tubuh Nova yang terpisah. Daging segar menempel di dinding-dinding basah, tumpukan bola mata tanpa kelopak berkedip acak di bawah lantai yang berlendir, dan jeroan membusuk berserakan di setiap sudut.
Dan di pusat ruangan itu, bergetar sesosok entitas raksasa yang amat abstrak. Bentuknya menyerupai gulungan usus besar yang berpilin bagai cacing raksasa, di mana bagian ujung organ dalamnya—sebuah anatomi terlarang yang tak pantas disebutkan secara terang-terangan—terbuka menganga, dipenuhi deretan gigi-gigi kotor yang melingkar tajam.
'ROAAARRGGHH!'
Monster abstrak itu meraung keras, menggetarkan seluruh fondasi daging di sekitarnya.
Di sebelah monster itu, berdiri 'Nova C12'. Wanita itu tersenyum dengan raut wajah gila yang hancur.
"Lihat ini, Sahsha!" seru Nova C12 sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. "Inilah ibu kita! Inilah fondasi utama dari dunia kita, dan inilah tempat asli di mana kita semua benar-benar tinggal!"
Sahsha melangkah mundur dengan wajah pucat pasi, menutup mulutnya menahan muntah. "Bukan... Ini bukan Ibu! Ibu itu cantik, baik hati, dan penuh kasih! Ini bahkan bukan manusia! Mana mungkin tempat menjijikkan ini adalah dunia yang kita tinggali?!"